Perbanyakan Anggrek Bulan Pelaihari Secara generatif sebagai Upaya Pelestarian Pasma Nutfah di Kalimantan Selatan
| dc.contributor.author | Fofa Arofi | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-19T02:41:42Z | |
| dc.date.available | 2026-07-19T02:41:42Z | |
| dc.date.issued | 2022-06-17 | |
| dc.description | Laporan Kaji Widya ini mendokumentasikan penelitian eksperimental mengenai teknik perbanyakan generatif (in vitro) pada Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis Blume varietas Pelaihari), yang merupakan varietas unggul dan plasma nutfah endemik Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Kajian ini dilaksanakan di Laboratorium SMK-PP Negeri Banjarbaru dari bulan Oktober 2021 hingga Juni 2022 sebagai bagian dari program Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) Pendidik. Kajian menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menguji dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah metode penyerbukan/persilangan yang terdiri dari selfing dan intercross. Faktor kedua adalah jenis media tabur biji asimbiotik yang terdiri dari 5 formulasi, yaitu media Vacin & Went (VW), media MS0, media alternatif berbasis tomat, media $\frac{1}{2}$ MS, dan media MS + $GA_3$. Parameter utama yang dievaluasi meliputi keberhasilan pembentukan buah, umur masak fisiologis buah, tingkat fertilisasi/kebernasan embrio biji di bawah mikroskop, serta jumlah protocorm like bodies (PLB) yang berhasil tumbuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode persilangan selfing maupun intercross mampu membentuk buah normal dengan tingkat keberhasilan 50% dan mencapai kemasakan fisiologis pada umur 127–128 hari setelah penyerbukan. Namun, berdasarkan uji fertilitas mikroskopis, hanya persilangan secara selfing yang berhasil menghasilkan biji fertil berembrio. Biji hasil intercross tidak membentuk embrio sempurna sehingga gagal berkecambah pada seluruh perlakuan media. Untuk pertumbuhan PLB, media VW ($M_0$) memberikan hasil paling optimal dengan kontribusi pertumbuhan sebesar 110 PLB (71%), disusul oleh media MS + $GA_3$ ($M_4$) sebesar 39 PLB (26%). Rekomendasi teknis dari laporan ini sangat aplikatif bagi pengelolaan laboratorium kultur jaringan, konservasi eks-situ tanaman hias terancam punah, serta pembatasan eksploitasi anggrek spesies langsung dari alam liar. | |
| dc.description.abstract | Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis Blume) Pelaihari merupakan salah satu anggrek spesies endemik Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sangat populer karena eksotisme dan keunggulannya sebagai induk persilangan. Namun, eksploitasi berlebihan menyebabkan keberadaan anggrek ini di habitat aslinya terancam punah, sehingga diperlukan metode perbanyakan generatif yang efektif untuk menjaga kelestariannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode persilangan terbaik yang mampu menghasilkan buah, mengetahui waktu masak fisiologis buah, mengidentifikasi metode yang menghasilkan biji fertil, serta mendapatkan formulasi media tabur in vitro yang paling sesuai. Kajian eksperimental ini dilaksanakan di SMK-PP Negeri Banjarbaru dari bulan Oktober 2021 hingga Juni 2022. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Taraf perlakuan pertama adalah metode persilangan (selfing dan intercross). Taraf perlakuan kedua adalah variasi media tabur in vitro yang terdiri dari 5 jenis, yaitu: media VW ($M_0$), media MS0 ($M_1$), media alternatif tomat ($M_2$), media $\frac{1}{2}$ MS ($M_3$), dan media MS + $GA_3$ ($M_4$). Parameter yang diamati meliputi keberhasilan pembentukan buah, waktu masak fisiologis, tingkat fertilisasi biji menggunakan mikroskop, dan jumlah planlet/protocorm like bodies (PLB) yang tumbuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode persilangan secara selfing maupun intercross memiliki tingkat keberhasilan pembentukan buah sebesar 50%. Waktu yang diperlukan sejak polinasi hingga buah mencapai masak fisiologis sempurna berkisar antara 127–128 hari. Berdasarkan analisis mikroskopis pembesaran 40 kali, hanya metode persilangan selfing yang berhasil menghasilkan biji fertil berembrio (ditandai dengan area gelap di tengah biji), sedangkan biji hasil intercross tidak membentuk embrio secara sempurna. Konsekuensinya, biji hasil intercross tidak ada yang tumbuh pada seluruh perlakuan media tabur. Waktu perkecambahan biji fertil (selfing) tercatat selama 7 minggu setelah tebar. Berdasarkan hasil analisis data, perlakuan media VW ($M_0$) memberikan performa terbaik dengan menghasilkan rata-rata 110 PLB (71% dari total populasi yang tumbuh), disusul oleh media MS + $GA_3$ ($M_4$) yang menghasilkan rata-rata 39 PLB (26%). Media $\frac{1}{2}$ MS ($M_3$) dinilai tidak sesuai karena tidak mampu menumbuhkan biji anggrek sama sekali. Perbanyakan generatif melalui persilangan selfing yang dikombinasikan dengan media tabur VW atau MS + $GA_3$ sangat direkomendasikan untuk pengembangan dan konservasi ex situ anggrek bulan Pelaihari guna menekan laju eksploitasi di alam liar. Kata Kunci: Anggrek Bulan, Persilangan, Media Tabur, In Vitro, Plasma Nutfah. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/30322 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru | |
| dc.subject | A Agriculture/Pertanian | |
| dc.subject | A Agriculture/Pertanian::A50 Agricultural research/Penelitian Pertanian | |
| dc.title | Perbanyakan Anggrek Bulan Pelaihari Secara generatif sebagai Upaya Pelestarian Pasma Nutfah di Kalimantan Selatan | |
| dc.type | Technical Report |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- Fofa Arofi_Perbanyakan anggrek bulan Pelaihari Secara Generatif.pdf
- Size:
- 5.49 MB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
- Description:
License bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.77 KB
- Format:
- Item-specific license agreed upon to submission
- Description: