Tingkat Ovulasi dan Kelahiran Kembar Setelah Perlakuan Follicle Stimulating Hormone (FSH) pada Tingkat Siklus Berahi yang Berbeda

dc.contributor.authorPolmer Situmorang
dc.contributor.authorD.A. Kusumaningrum
dc.contributor.authorR. Sianturi
dc.date.accessioned2026-02-19T01:05:41Z
dc.date.available2026-02-19T01:05:41Z
dc.date.issued2012
dc.description.abstractKelahiran kembar dapat ditingkatkan melalui pendekatan genetic atau melalui pemberian hormon. Tujuan penelitian untuk melihat pengaruh penyuntikan pertama FSH pada tingkat ovulasi. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan 3 waktu penyuntikan pertama FSH yang berbeda sebagai perlakuan menggunakan 12 ekor sapi perah yang sedang laktasi. Pemberian pertama FSH dilakukan pada hari ke-2 (Perlakuan I), hari ke-10 (Perlakuan II) dan hari ke-18 (Perlakuab III) dari siklus berahi. Setiap perlakuan mendapatkan total 6 ml Folltropin (Equivalent 120 mg FSH) disuntikkan intra muskular dengan dosis menurun 2 x sehari dengan jarak penyuntikan 12 jam selama 4 hari. Untuk konsentrasi progesteron darah ditampung dari vena jugularis pada hari ke-12 dari siklus estrus. Data yang dicatat adalah diameter ovari (DO), total corpus luteum (TCL), konsentrasi progesterone (P), persentasi kebuntingan dan jumlah kelahiran. Rataan DO, TCL dan konsentrasi P didapat nyata lebih tinggi (P < 0,05) setelah penyuntikan (2,0 cm, 2,1 dan 1,6 ng/ml) dibandingkan dengan sebelum penyuntikan FSH (1,4 cm; 1,0 dan 0,6 ng/ml). Perlakuan waktu pemberian pertama FSH sangat nyata mempengaruhi laju ovulasi. Rataan DO, TCL dan konsentrasi P nyata lebih tinggi (P < 0,01) pada perlakuan II (2,6 cm; 4,0 dan 2,9 ng/ml) dibandingkan dengan perlakuan I (1,9 cm; 1,3 dan 0,9 ng/ml) dan perlakuan III (1,6 cm; 1,3 dan 0,9 ng/ml). Tidak ada perbedaan yang nyata antara perlakuan I dan III Persentase kebuntingan adalah 25,0; 75,0 dan 25,0 untuk berturut-turut perlakuan I, II dan III. Satu kelahiran kembar dan 1 kelahiran tunggal terjadi pada perlakuan II dan hanya 1 kelahiran tunggal masing masing perlakuan I dan III. Jumlah CL berkorelasi positif dengan konsentrasi progesterone tapi tidak sangat berguna untuk menentukan jumlah kelahiran. Disimpulkan bahwa sapi perah memberikan respons yang lebih baik terhadap exogenous ganadotropin ketika pemberian pertama dimulai pada hari ke-10 dari siklus berahi.
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/27672
dc.language.isoid
dc.publisherBalai Penelitian Ternak
dc.subjectL Animal production/Produksi Hewan::L01 Animal husbandry/Peternakan
dc.titleTingkat Ovulasi dan Kelahiran Kembar Setelah Perlakuan Follicle Stimulating Hormone (FSH) pada Tingkat Siklus Berahi yang Berbeda
dc.typeArticle
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
J17-73.pdf
Size:
2.19 MB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: