Strategi Pencapaian Swasembada Kedelai melalui Perluasan Areal Tanam di Lahan Kering Masam

Loading...
Thumbnail Image
Date
2008-12
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Produksi kedelai di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1995 dengan luas panen 1,48 juta ha dan produksi 1,52 juta ton. Setelah itu luas panen terus menurun dan pada tahun 2007 tinggal 31% dengan produksi hanya 592 ribu ton. Kebutuhan kedelai untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2007 mencapai 1,94 juta ton, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor cukup banyak. Pada tahun 2020, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 278 juta jiwa dan konsumsi kedelai per kapita 9,46 kg/tahun, sehingga dibutuhkan 2,6 juta ton kedelai. Apabila produktivitas nasional kedelai 1,3 t/ha, untuk me- menuhi kebutuhan kedelai pada tahun 2020 diperlukan areal tanam 2,0 juta ha. Areal panen kedelai di Indonesia pada tahun tersebut apabila tidak ada program khusus yang direspon petani hanya akan mencapai 500 ribu ha. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri diperlukan perluasan areal tanam yang cukup besar. Di Indonesia terdapat lahan kering masam yang cukup luas dan potensial dikembangkan untuk usahatani kedelai. Di Lampung, misalnya, tersedia lahan sekitar 164 ribu ha, namun kedelai harus bersaing dengan ubi kayu yang pangsa pasarnya sudah terjamin atau bersaing dengan jagung atau padi gogo. Untuk itu, agar kedelai dapat berkembang dan tidak terjadi kompetisi penggunaan lahan, sebaiknya diterapkan pola tanam tumpang sari ubi kayu baris ganda jagung atau padi gogo-kedelai, jagung-kedelai monokultur atau padi gogo- kedelai monokultur. Agar kedelai dapat memberikan hasil yang memadai di lahan masam perlu digunakan varietas toleran tanah masam, pemberian amelioran berupa dolomit dan pupuk kandang serta pemupukan NPK. Dengan teknologi tersebut, kedelai yang ditanam secara monokultur di lahan kering masam dapat memberi hasil sekitar 2,0 t/ha dan yang diusahakan secara tumpangasari 1,0 t/ha. Untuk dapat berkembang baik di lahan kering masam, kedelai juga memerlukan perbaikan harga dan sistem agribisnis kedelai, mulai dari hulu (penyediaan sarana produksi dan alsintan) hingga hilir (pengelolaan pascapanen dan tata niaga kedelai).
Description
Manajemen teknologi tanaman pangan pada awal abad XXI mulai menekankan pentingnya aspek efisiensi, lingkungan, dan keberlanjutan. Strategi tersebut diimplementasikan melalaui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT), yang secara luas dimulai pada musim tanam 2008. Untuk memberikan pemahaman yang kom- prehensif tentang PTT, pada buletin Iptek Tanaman Pangan No. 2 Tahun 2008 ini dibahas beberapa pengalaman dalam penerapan PTT padi sawah. Gas rumah kaca (GRK) dari ekosistem lahan sawah yang diketahui dapat merusak kelestarian lingkungan dibahas pula dalam salah satu tulisan.
Keywords
Citation
Collections