PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN FITOKIMIA SAMBUNG NYAWA (Gynura precumbens) HASIL KONSERVASI IN VITRO PERIODE PANJANG : Warta balittro Vol. 38 No. 75 Tahun 2021
No Thumbnail Available
Date
2021-06-01
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Abstract
Sambung nyawa (Gynura procumbens) merupakan salah
satu tanaman obat bermanfaat dalam
pengobatan berbagai penyakit,
seperti demam, ruam, migrain,
hipertensi, sembelit, diabetes,
ambeien, gangguan ginjal, dan
kanker. Pemanfaatan tanaman untuk
mengobati penyakit kanker saat ini
cukup tinggi dan permintaan
terhadap bahan baku juga meningkat.
Konservasi plasma nutfah sambung
nyawa in vitro telah dilakukan di
laboratorium Kultur Jaringan Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat (Balittro) dengan memelihara
plantlet dalam keadaan tumbuh di
media MS + BA 0,1 mg/l selama tujuh
tahun. Untuk menguji daya tumbuh
biakan setelah dipelihara di
laboratorium, dilakukan observasi
terhadap pertumbuhan tanaman di
rumah kaca. Plantlet sambung nyawa
in vitro diaklimatisasi menggunakan
media tumbuh campuran tanah +
pupuk kandang + sekam (2:1:1) dan
dipelihara di dalam rumah kaca
selama empat bulan. Selanjutnya
dilakukan pemindahan tanaman ke
pot yang lebih besar berukuran 60x 60
cm dan tanaman dipelihara pada
kondisi alami di luar rumah kaca.
Komponen pertumbuhan dan
produksi diamati pada umur 3 bulan
setelah tanam. Sebagai pembanding
digunakan sambung nyawa asal
konvensional. Parameter yang
diamati adalah tinggi tanaman,
jumlah cabang, panjang, lebar daun,
diameter batang, dan bobot basah
terna. Analisis proksimat dilakukan
analisis terhadap kandungan air, kandungan abu, kandungan sari larut
dalam air, kandungan sari larut dalam
alkohol. Selain itu, juga dilakukan uji
fitokimia tanaman. Hasil kegiatan
menunjukkan bahwa pertumbuhan
sambung nyawa hasil konservasi in
vitro tumbuh normal seperti
induknya. Produksi terna basah
mencapai 652 g per tanaman pada
umur tiga bulan. Hasil analisis
proksimat menunjukkan bahwa
kadar sari larut dalam alkohol
tanaman sambung nyawa asal
perlakuan in vitro lebih tinggi
dibandingkan induk konvensional. Hasil uji fitokimia menunjukkan
sejumlah senyawa kimia terdeteksi
pada daun tanaman sambung nyawa
hasil konservasi in vitro periode
panjang di antaranya favonoid,
steroid, tanin, glikosida, namun,
senyawa triterpenoid tidak terdeteksi.