Inovasi Kultur Jaringan SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru
No Thumbnail Available
Date
2026
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru
Abstract
Perbanyakan bibit pisang Kepok (Musa x paradisiaca) secara in vitro melalui kultur jaringan sering kali menghadapi kendala penurunan viabilitas planlet pada subkultur lanjutan akibat adanya akumulasi residu sitokinin di dalam jaringan tanaman. Inovasi teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas planlet pisang Kepok dengan menerapkan protokol penurunan konsentrasi BAP (Benzylaminopurine) secara bertahap (step-down) pada setiap siklus pembelahan. Formula media dasar yang digunakan mengacu pada best practice yaitu media Murashige and Skoog (MS) yang diperkaya dengan sukrosa 30 g/L dan agar 7 g/L. Skema optimasi BAP diatur secara periodik per subkultur: (1) Subkultur 1–2 (Tahap Induksi) menggunakan BAP 5 mg/L untuk memecah dormansi eksplan dan memacu pertumbuhan tunas aksiler secara maksimal; (2) Subkultur 3–4 (Tahap Stabilisasi) menggunakan BAP 2,0 mg/L untuk mempertahankan laju multiplikasi sekaligus memicu elongasi tunas; serta (3) Subkultur 5–6 (Tahap Pematangan) menggunakan BAP 0,5–1,0 mg/L guna mempersiapkan planlet masuk ke tahap perakaran. Interval subkultur dilakukan setiap 4–5 minggu di dalam ruang inkubasi bersuhu $25\pm2^\circ\text{C}$, kelembaban 60–70%, dan intensitas cahaya 3000 lux. Hasil penerapan teknologi ini menunjukkan keunggulan nyata dalam mencegah gejala vitrifikasi pada subkultur lanjutan, serta menghasilkan struktur tunas yang lebih hijau, kokoh, dan memiliki sistem pembuluh yang baik. Kendati demikian, kelemahan sistem ini terletak pada diperlukannya standar operasional prosedur (SOP) pencatatan generasi subkultur yang sangat ketat dan keharusan menyiapkan beberapa variasi konsentrasi media secara bersamaan. Saat ini, formula multiplikasi ini diimplementasikan sebagai materi praktikum pembelajaran peserta didik di SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru guna mendukung penyediaan bibit pisang berkualitas.
Kata Kunci: Pisang Kepok, Multiplikasi, Benzylaminopurine, Kultur Jaringan, Subkultur Bertahap.
Description
Laporan inovasi ini menyajikan formula dan protokol pengondisian media operasional untuk "Formula Media Multiplikasi Pisang Kepok Berbasis Optimasi Konsentrasi BAP (Benzylaminopurine)". Inovasi teknik kultur jaringan (in vitro) ini dikembangkan oleh Astri Minda Loak di SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru sebagai solusi komprehensif atas permasalahan penurunan viabilitas, penuaan jaringan, serta vitrifikasi planlet pisang Kepok (Musa x paradisiaca) pada siklus generasi subkultur lanjutan akibat akumulasi residu sitokinin sintetis. Kebaruan utama dari teknologi ini terletak pada penerapan skema penurunan konsentrasi hormon BAP secara bertahap (step-down protocol) di setiap pergantian siklus multiplikasi, menggantikan praktik konvensional yang cenderung menggunakan dosis tinggi secara konstan. Menggunakan basis media dasar Murashige and Skoog (MS) yang diperkaya dengan sukrosa 30 g/L dan agar 7 g/L, protokol ini membagi fase multiplikasi menjadi tiga tahapan periodik: Tahap Induksi (BAP 5 mg/L untuk memecah dormansi eksplan), Tahap Stabilisasi (BAP 2,0 mg/L untuk menginisiasi elongasi), dan Tahap Pematangan (BAP 0,5–1,0 mg/L untuk memperkuat jaringan tanaman sebelum aklimatisasi). Dokumen ini memuat rangkuman analisis kebutuhan alat-bahan sterilisasi, skema komposisi media per subkultur, parameter lingkungan ruang inkubasi ($25\pm2^\circ\text{C}$ dan pencahayaan 3000 lux), serta keunggulan dan tantangan logistiknya di lapangan. Saat ini, formula optimasi ini diterapkan secara internal sebagai modul pembelajaran praktikum laboratorium bioteknologi tanaman bagi peserta didik vokasi guna mencetak tenaga teknis perkebunan yang kompeten.
Keywords
A Agriculture/Pertanian::A50 Agricultural research/Penelitian Pertanian