Sinkronisasi Pembungaan Galur Tetua Padi Hibrida Pada Sejumah Lokasi yang Potensial Untuk Produksi Benih Hibrida

dc.contributor.authorSutaryo, Bambang
dc.contributor.authorSatoto
dc.date.accessioned2025-09-07T13:46:48Z
dc.date.available2025-09-07T13:46:48Z
dc.date.issued2010-11-18
dc.description15 p.; tab.
dc.description.abstractAbstract Synchronization of Hybrid Rice Parental Lines in the Identified Potentially Suitable Locations for F. Seed Production. An experiment to study the flowering date and flowering behaviour of ten hybrid rice parental lines has been conducted in Kuningan, Kedu, Salatiga, Malang, and Central Lombok, for one year from 1 April 2007 until 15 March 2008. These areas were selected as they were identified as potentially suitable for the hybrid rice seed production. The parental lines of six hybrid rice varieties, i.e. Maro, Rokan, Hipa 3. Hipa 4, Hipa 5 Ceva, and Hipa 6 Jete and parental lines of four promising hybrids, i.e. H30, H51. H53, and H57 were staggered planted at two weeks interval. Both parental lines, the male and the female were planted at every the 1" and the 15 of the months in a year. Data collected during the experiment indicated that, out of 10 hybrid rice parentals evaluated for flowering date character, the male parents of H30 and H51 were found to flower earlier than its female parents. The parental lines of Maro, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, H53, and H57 showed a good flowering synchronization in all locations and in the most of the planting periods. The parental lines of Rokan showed a good flowering synchronization in Salatiga and Central Lombok in almost all of the planting periods; parental lines of Hipa 3 showed the similar behaviour to that of Rokan in Kuningan, Central Lombok, and Kedu; parental lines of Hipa 4 in Malang, parental lines of H30 in Kuningan, Central Lombok, and Kedu; and the parental lines of H51 in Central Lombok. The climate components which determined the flowering synchronization, such as the difference between the day and the night temperature should be at the range of 8-10 °C, the relative humidity should be at 70-80%, the rainfall should be at 20-80 mm, and the sunshine intensity should be at the range of 50-90%. From the data, it was suggested that the planting time for the hybrid rice seed production were: (1) in all planting periods and all locations: Maro, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, and H53. H57 can be produced in Kuningan, Kedu, Salatiga, and Malang. Hipa 3 can be produced in Kuningan, Kedu, Malang and Central Lombok, (2) in all planting period and specific location: Rokan in Salatiga and Central Lombok; Hipa 4 in Malang: H30 in Kuningan, Kedu, and Central Lombok; H51 in Central Lombok; (3) in specific planting period: Hipa 4 (Kuningan period 2, Salatiga period 1, 2, 3, and 4); H51 (Kedu period 11, 12, and 21); and H51 (Salatiga period 2, 4, 6, 8). Abstrak Percobaan untuk mempelajari umur dan perilaku pembungaan galur-galur tetua padi hibrida telah dilakukan di Kuningan, Kedu, Salatiga, Malang, dan Lombok Tengah, sebagai wilayah yang diduga potensial untuk produksi benih padi hibrida. Di lima lokasi tersebut, galur-galur tetua dari enam varicas padi hibrida, yaitu Maro, Rokan, Hipa 3. Hipa 4. Hipa 5 Ceva, dan Hipa 6 Jete, serta galur-galur tetua pembentuk empat padi hibrida harapan H30, H51, H53, dan H57 ditanam secara bertahap (staggered planting) dengan interval waktu dua minggu. Penanaman dilakukan pada tanggal 1 dan 15 tiap bulan, selama satu tahun mulai April 2007 sampai dengan 15 Maret 2008. Data hasil percobaan ini menunjukkan. bahwa umur berbunga dari 10 padi hibrida dan galur tetua jantan dari padi hibrida H30 dan H51 lebih cepat dibandingkan dengan umur berbunga galur tetua betinanya. Galur-galur tetua hibrida Maro, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, H53, dan H57 menunjukkan sinkronisasi pembungaan yang baik di semua lokasi pengujian dan di hampir semua periode tanam. Galur tetua hibrida Rokan menunjukkan sinkronisasi pembungaan yang baik di Salatiga dan Lombok Tengah pada hampir semua periode tanam. Tetua hibrida Hipa 3 menunjukkan hal yang sama di Kuningan, Lombok Tengah, dan Kedu, tetua Hipa 4 di Malang, tetua H30 di Kuningan, Lombok Tengah, dan Kedu; dan tetua H51 di Lombok Tengah. Komponen iklim yang berperan dalam menentukan keberhasilan sinkronisasi pembungaan galur-galur tetua pembentuk padi hibrida seperti perbedaan temperatur siang dan malam yang sebaiknya berada pada kisaran 8-10 °C, kelembaban pada 70-80%, curah hujan pada 20-80 mm, dan intensitas sinar matahari pada 50-90%. Disarankan bahwa saat tanam untuk produksi benih padi hibrida yang tepat adalah: (1) di setiap periode tanam dan semua lokasi: untuk Maro, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete, dan H53. Sedangkan untuk H57 dapat diproduksi di Kuningan, Kedu, Salatiga, dan Malang. Hipa 3 dapat diproduksi di Kuningan, Kedu, Malang, dan Lombok Tengah; (2) di setiap periode tanam dan lokasi tertentu: untuk Rokan di Salatiga dan Lombok Tengah; Hipa 4 di Malang: H30 di Kuningan, Kedu, dan Lombok Tengah; H51 di Lombok Tengah; (3) pada periode tanam tertentu adalah untuk Hipa 4 di Kuningan pada periode 2, Salatiga pada periode 1, 2, 3, dan 4; H51 di Kedu pada periode 11. 12, dan 21; dan H51 di Salatiga pada periode 2, 4, 6, dan 8.
dc.identifier.isbn978-979-540-052-3
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26070
dc.language.isoid
dc.publisherBalai Besar Penelitian Tanaman Padi
dc.titleSinkronisasi Pembungaan Galur Tetua Padi Hibrida Pada Sejumah Lokasi yang Potensial Untuk Produksi Benih Hibrida
dc.typeArticle
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
15. Sinkronisasi Pembungaan Galur Tetua Padi Hibrida Pada Sejumah Lokasi yang Potensial Untuk Produksi Benih Hibrida - Bambang Sutaryo, Satoto.pdf
Size:
682.79 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: