Dampak Penggunaan Insektisida dalam Pengendalian Hama Wereng Coklat dan Penggerek Batang Padi

Loading...
Thumbnail Image
Date
1995
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Penggunaan insektisida pada tanaman padi di Indonesia mulai intensif sejak program Bimas. Penyaluran insektisida pada tahun 1985 тепcарai 11 kali lipat dibanding tahun 1974. Karena dapat menurunkan populasi dengan cepat, insektisida bermanfaat untuk mengatasi ledakan hama. Namun, apabila penggunaan insektisida ini tidak dilakukan dengan bijaksana dapat menimbulkan resistensi, resurgensi, dan terbunuhnya musuh alami. Hasil penelitian pada tahun 1986/87 menunjukkan bahwa tingkat resistensi wereng coklat (Wck) terhadap insektisida di pulau Jawa cukup beragam. Tingkat resistensi tertinggi, terutama terhadap insektisida karbaril, terjadi pada populasi dari Bantul. Penggerek batang padi (PBP) populasi Plumbon dan Kandanghaur resisten terhadap insektisida karbofuran, sedangkan populasi Lohbener, Karangampel, Sukamandi dan Pedes masih rentan. Insektisida buprofezin tidak menimbulkan resurgensi pada Wck, sedangkan BPMC dan MIPC kadang-kadang menyebabkan resurgensi, sedangkan insektisida yang tidak dianjurkan, menimbulkan resurgensi. Insektisida yang dianjurkan dapat menurunkan populasi musuh alami. Waktu aplikasi insektisida turut menentukan keberadaan parasit telur PBP. Aplikasi yang dilakukan sehari setelah infestasi tidak berpengaruh terhadap parasitasi Tetrastichus sp. Sebaliknya, aplikasi sebelum infestasi mengurangi parasitasi Tetrastichus sp. Aplikasi karbofuran dan bensultaf dengan dosis anjuran tidak berpengaruh terhadap peneluran dan penetasan parasit telur PBP.
Description
Keywords
Citation
Collections