Penyesuaian Pola Dan Kalender Tanam Lahan Sawah Dalam Mensukseskan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN)
Loading...
Date
2007-02-01
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi
Abstract
Dinamika iklim Indonesia tergambar melalui variabilitas iklim dalam ruang (antar daerah/wilayah, perbedaan topografi) dan waktu (musim, antar musim, tahun dan antar tahun). Tantangan ini kian berat dengan meningkatnya frekuensi anomali iklim bersamaan dengan peningkatan suhu udara dalam dua dekade terakhir yang mengakibatkan perubahan iklim global (global climate change).
Perubahan iklim global menyebabkan perubahan pola hujan dan semakin sering terjadinya kondisi iklim ekstrim baik basah maupun kering. Perubahan iklim tersebut sudah tidak menjadi issue saja tetapi sesuatu yang telah terjadi baik secara global (Runtunuwu, 2006), regional maupun lokal (Syahbuddin, et al., 2005). Berkaitan dengan luas tanam padi nasional, menunjukkan bahwa iklim sangat mempengaruhi luasan panen padi baik pada saat El Nino (82/83, 86/87, 87/88, 91-95, 97/98, 02/03, 04/05), La Nina (88/89,98/99,99/00,00/01), maupun bencana alam. Fakta ini menunjukkan perubahan perilaku iklim menyebabkan terjadinya perubahan terhadap luas tanam yang diterapkan petani, yang sangat mempengaruhi produksi. Viet et al., (2001) menyimpulkan bahwa untuk dapat beradaptasi dengan perubahan iklim perlu dilakukan perubahan baik kalender tanam, pola tanam, maupun rotasi penanaman untuk setiap zone agroekologi.
Bagi sektor pertanian dampak variabilitas dan ketidakteraturan perilaku serta perubahan iklim tersebut sangat berpengaruh nyata, terutama dalam kaitannya dengan ketersediaan air dan energi bahang (heat energy). Kedua faktor kunci bagi pertumbuhan tanaman tersebut sangat ditentukan oleh curah hujan, radiasi surya dan temperatur yang diterima oleh permukaan tanah dan daun tanaman. Curah hujan baik jumlah, intensitas maupun distribusi akan mempengaruhi aktifitas budidaya pertanian di lahan kering dan beririgasi. Awai musim hujan menentukan ketersediaan air dalam tanah, sungai, situ dan waduk yang dipergunakan untuk pertanian.
Penetapan awal musim hujan ini menjadi faktor penting untuk penetapan awal, periode dan areal tanam terutama usahatani tanaman pangan di lahan kering (dry land farming system). Selain itu awal musim hujan juga digunakan oleh petani lahan basah atau sawah (irrigated farming system) minimal sebagai awal persiapan/pengolahan tanah. Di lapang usahatani lahan kering sering menemui kendala air selama masa tanam, khususnya pada kondisi dimana intensitas curah hujan tinggi pada waktu yang pendek atau pada periode kering yang lebih panjang dari normal.
Dalam usahatani padi di lahan sawah beririgasi terdapat senjang waktu yang sangat lebar (1-2 bulan) antara awal musim hujan, penggelontoran air waduk ke sawah, dengan awal tanam yang dilakukan oleh petani, seperti di jalur pantura Jawa Barat. Pada kondisi musim kering yang berkepanjangan, seperti El-Nino, awal tanam menjadi lebih mundur dari normal seperti yang teramati pada periode Oktober-November tahun 2006.
Program Peningkatan Beras Nasional (P2BN) merupakan program yang mengupayakan agar Indonesia mandiri dalam hal pangan, dalam hal ini beras, sebagai kunci dari ketahanan pangan nasional. P2BN menargetkan produksi beras sobesar 2 juta ton pada tahun 2007 dan peningkatan 5% per tahun sampai tahun 2009, Untuk monunjang P2BN tersebut dirasa perlu penataan ulang pola tanam tanaman pangan melalui kegiatan idontifikasl, dinamisasi dan penyesuaian kalender tanam sejalan dengan fenomena iklim
Description
Keywords
F Plant production/Produksi Tanaman::F08 Cropping patterns and systems/Pola Tanam dan Sistem Penanaman, P Natural resources/Sumber Daya Alam::P40 Meteorology and climatology/Cuaca dan Iklim