Meningkatkan Produksi Padi di Lahan Sawah Keracunan Besi di Kalimantan
No Thumbnail Available
Date
1995
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Keracunan besi pada padi sawah dapat dijumpai di berbagai daerah di
Indonesia. Gejala tanaman padi yang keracunan besi dicirikan oleh warna
kuning jingga atau coklat kemerahan pada daun tua tanaman. Penurunan
hasil padi karena keracunan besi berkisar antara 25-50%. Sejak MT
1989/90, Balittan Banjarbaru telah melaksanakan serangkaian penelitian
untuk mengatasi kendala tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penyebab primer keracunan besi adalah rendahnya kadar K di dalam tanah
dan lokasinya yang berdekatan dengan pegunungan yang kaya akan besi.
Pemupukan K dapat menekan keracunan besi, sedangkan pemupukan Ptidak.
Pemupukan K sampai dengan 150kg K2O/ha meningkatkan hasil hampir duа
kali lipat. Aplikasi pupuk K secara bertahap (diberikan dua atau tiga kali)
atau ditunda sampai tanaman berumur 30 hst dapat meningkatkan hasil padi
masing-masing 9,4%; 10,7% dan 20% dibandingkan kalau pupuk K diberikan seluruhnya pada saat tanam. Hasil padi juga meningkat 18,0% dan
15,7% jika dilakukan drainase masing-masing dua dan empat kali selama
pertumbuhan tanaman. Pengelolaan lahan keracunan besi memerlukan
pengetahuan tentang penyebab primer keracunan besi. Dalam kasus di
Kalimantan Selatan, keracunan besi dirangsang oleh kahat K. Karena itu,
pengelolaan pupuk K di lahan sawah keracunan besi diarahkan untuk
mempertahankan unsur K dalam tanah pada tarafyang tersedia bagi tanaman
melalui penggunaan pupuk berimbang, pemisahan atau penundaan pретberian pupuk K sesuai kebutuhan tanaman, manipulasi sistem oksidasireduksi melalui drainase, dan penggunaan bahan organik.