Pemanfataan Timbunan Fosfat di Lahan Sawah
| dc.contributor.author | Agusli Taher | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-23T16:58:05Z | |
| dc.date.available | 2026-08-23T16:58:05Z | |
| dc.date.issued | 1995 | |
| dc.description.abstract | Para pakar menyebutkan bahwa unsur fosfat merupakan kunci kehidupan, karena terlibat pada hampir semua proses metabolik. Bagi petani, pupukfosfat identik dengan "pupuk buah". Makin banyąk P diberikan, akan makin tinggi hasil yang dicapai. Persepsi tersebut, diduga menjadi salah satu penyebab tidak logis dan tidak efisiennya penggunaan P di beberapa daerah di Indonesia, terutama di lahan sawah intensifikasi. Selama periode 1972-86, penggunaan pupuk TSP di Indonesia sebesar 29%/tahun. Pada tanaman pangan bahkan mencapai 31,4%/tahun. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Situasi tersebut diduga menjadi faktor utama yang mendorong makin membengkaknya sawah-sawah yang berkadar P tinggi di Indonesia. Di Jawa, luas sawah berkadar P tinggi, sedang, dan rendah masing-masing mencapai 1,45; 1,66 dan 0,54 juta hektar. Hal yang sama juga dilaporkan di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Rekayasa teknis makin perlu disiapkan dalam rangka pemanfaatan timbunan P. Inovasi "penambangan P" ini akan berdampak ganda. Pertama, mampu meningkatkan efisiensi pemupukan P dan sekaligus pendapatan petani pada sawah-sawah berkadar P tinggi. Kedua, bila teknologi tersebut dapat diimplementasikan, maka sawah-sawah baru dan komoditas strategis pada agroekosistem marginal akan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan masukan pupuk P sesuai dengan kebutuhan. Kondisi ini akan mendorong makin kompetitifnya sistem usahatani antar agroekosistem. | |
| dc.identifier.isbn | 979-8161-51-3 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/31179 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan | |
| dc.title | Pemanfataan Timbunan Fosfat di Lahan Sawah | |
| dc.type | Article |