Kajian Usahatani Padi Pada Beberapa Sistem Tanam Legowo di Sukamandi
| dc.contributor.author | Ruskandar, Ade | |
| dc.contributor.author | T. Purnawan | |
| dc.contributor.author | Widyantoro | |
| dc.contributor.author | Nurwulan A. | |
| dc.contributor.author | Swisci M, | |
| dc.contributor.author | Sujinah | |
| dc.date.accessioned | 2026-05-23T06:28:02Z | |
| dc.date.available | 2026-05-23T06:28:02Z | |
| dc.date.issued | 2018-12-01 | |
| dc.description | 11 p.; ills.; tab. | |
| dc.description.abstract | Abstrak Sistem tanam legowo telah lama di kenal oleh petani di beberapa daerah. Beberapa sistem tanam legowo yang di kenal, misalnya legowo 2:1, 4:1 dll baik dengan sisipan maupun tanpa sisipan. Untuk memaksimalkan hasil dengan sistem tanam legowo perlu adanya penelitian pengembangan legowo dengan memperhitungkan populasi tanaman. Penelitian dilaksanakan di KP Sukamandi pada MK 2017. Empat sistem tanam yang dilakukan, yaitu Legowo (Jarwo) 2:1 (50;25;12.5 cm), Jarwo Ganda 1 (50;25;12.5;5 cm), Jarwo Ganda 2 (40;20;10;5 cm), dan Legowo 2:1 modifikasi titik tanam (J4) (50;25;12.5 cm). Populasi masing-masing sistem tanam adalah 213.333, 376.470, 571.428, dan 853.332 rumpun/ha. Varietas yang digunakan adalah Mekongga, Inpari 30 Ciherang Sub-1, dan Inpari 32 HDB. Luasan masing-masing perlakuan sistem tanam adalah 1 ha, sehingga terdapat luasan 4 ha dan tiap ha dikelola oleh satu orang petani. Untuk mengetahui tingkat efisiensi usaha tani dari sistem tanam yang dilakukan, digunakan indikator nisbah penerimaan dan biaya (B/C ratio). Berdasarkan pengamatan di lapangan yang membedakan besaran biaya dari ke empat sistem tanam tersebut antara lain jumlah benih dan upah/biaya tanam. Hal ini karena pupuk, pestisida, maupun herbisida yang diaplikasikan tiap perlakuan tidak dibedakan. Perbedaan biaya yang paling mencolok diantara sistem tanam adalah biaya tanam yang berkisar antara Rp. 2,5 - Rp 8 jutaan. Hal ini dikarenakan tingkat “kesulitan” tanam tiap perlakuan berbeda. Hasil penelitian menunjukkan komponen biaya produksi usaha tani padi sawah dengan sistem tanam legowo terbagi atas biaya upah tenaga kerja sebesar 67% dari pembelian sarana produksi sebesar 33%. Secara finansial perlakuan Legowo 2:1, Jarwo Ganda 1, Jarwo Ganda 2 menguntungkan dan layak secara ekonomi namun tidak demikian pada perlakuan Legowo 2:1 modifikasi titik tanam. Perlakuan Legowo 2:1 paling memenuhi kelayakan secara ekonomi, karena memenuhi indikator gross B/C, TIP, dan TIH paling rendah, artinya dengan hanya memproduksi 3.021 kg/ha dan dengan harga Rp.2.488/kg sudah dicapai titik impasnya sedangkan kelebihan produksi dan harga yang diperoleh merupakan keuntungan yang didapat pada batas penggunaan input tertentu. Abstract Legowo planting system has been known by farmers in some region. They were known for example legowo 2:1, 4:1 etc. either with or without plants insert. To maximize yield by legowo planting system it was necessary to study about improvement of legowo planting system regarding to add more plant population. This research was conducted at Sukamandi field station on DS 2017. Four planting systems were performed, namely Legowo (Jarwo) 2: 1 (50; 25; 12.5 cm), Jarwo Ganda 1 (50; 25; 12.5; 5 cm), Jarwo Ganda 2 (40; 20; 10; 5 cm); and Legowo 2: 1 modified planting point (J4) (50; 25; 12.5 cm). Population on each planting system was 213,333, 376,470, 571,428, and 853,332 hills/ha. The varieties used were Mekongga, Inpari 30 Ciherang Sub-1, and Inpari 32 HDB. The area for each planting system treatment was 1 ha, so there was 4 ha area and on each was managed by one farmer. To know the farming efficiency level, by calculated benefit and cost ratio (B/C ratio). Based on field observations, we concluded that cost differentiate of four planting systems specifically on seed consumption and wages/ transplanting costs. This was because the fertilizers, pesticides, and herbicides applied to each treatment not distinguished. The most striking cost difference was planting costs which ranging from Rp. 2.5 million to Rp. 8 million. Level of “difficulty” on transplanting related with plant population arrangement was different. Input production cost component was divided into 67% labor cost wage and the rest for input cost production. Financially Legowo 2: 1, Jarwo Ganda 1, Jarwo Ganda 2 were profitable and economically but not for Legowo 2: 1 modified planting point. Legowo 2: 1 was most economically feasible, because it had lowest gross B / C, BEP Production and Price indicators. It’s mean by only produced 3.021 kg / ha with price Rp.2.488 / kg had reached its breakeven point while the excess production and the price obtained was the advantage gained. | |
| dc.identifier.isbn | 978-979-540-114-8 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/29797 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Balai Besar Penelitian Tanaman Padi | |
| dc.title | Kajian Usahatani Padi Pada Beberapa Sistem Tanam Legowo di Sukamandi | |
| dc.title.alternative | Prosiding Seminar Nasional 2017: Dukungan Inovasi Teknologi Padi Untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia Buku 2 | |
| dc.type | Article |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- 22. Kajian Usahatani Padi Pada Beberapa Sistem Tanam Legowo di Sukamandi - Ade Ruskandar, T.Purnawan, Widyantoro, Nurwulan A., Swisci M, Sujinah.pdf
- Size:
- 313.91 KB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
- Description:
License bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.77 KB
- Format:
- Item-specific license agreed upon to submission
- Description: