Prospek Penggunaan Feromon Sintetis dalam Pengendalian Hama Tanaman Pangan
No Thumbnail Available
Date
1993
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Feromon sintetis telah banyak digunakan untuk pemantauan ataupun pengendalian serangga hama. Kerja feromon sangat spesifik dan tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan hidup, sehingga kompatibel sebagai komponen Pengendalian Hama Terpadu. Populasi ulat grayak Spodoptera litura F pada kedelai dapat dipantau populasinya dengan feromon sintetis (campuran senyawa = cis-9, trans-11 TDDA dan = cis-9, trans-12 TDDA) yang dipasang pada perangkap air. Hasil pemantauan tersebut selain dipakai untuk mempelajari distribusi dan fluktuasi ulat grayak juga dapat dipakai untuk menentukan saat aplikasi insektisida. Ulat grayak terdapat di seluruh pulau Jawa dan di Pantai Utara Jawa Barat populasinya lebih rendah pada musim hujan daripada di musim kemarau. Jika dalam satu minggu tertangkap lebih dari 65 ekor ulat grayak pada kedelai yang berumur kurang dari 6 minggu, insektisida dapat diaplikasikan. Pengendalian dengan cara memutus perkawinan (mating disruption) telah berhasil dilakukan pada penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis di Spanyol. Feromon seks betina penggerek batang padi putih (Scirpophaga innotata Walker) telah berhasil diidentifikasi pada pada tahun 1992, yaitu Z11-18:CHO. Sintetis dari feromon tersebut telah dievaluasi di Sukamandi dan daya tariknya sama dengan feromon asli yang keluar dari betina yang belum kawin. Pengendalian penggerek batang padi putih dengan teknik mating disruption menunjukkan gangguan perkawinan mencapai 98%. Penerapan mating disruption pada generasi awal akan mengurangi populasi berikutnya dan akhirnya akan mengurangi tingkat serangan.