KENDALA PENYAKIT DALAM BUDIDAYA NILAM DI INDONESIА

No Thumbnail Available
Date
2007-09-06
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Abstract
Sebagai sumber devisa negara maupun sumber pendapatan petani, tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) cukup penting peranannya diberbagai daerah produksi, seh'ngga animo masyarakat untuk berusahatani nilam tetap tinggi. Akhir-akhir ini terjadi outbreak penyakit budok di daerah sentra produksi di Jawa. Sebelumnya penyakit budok hanya terjadi di sentrasentra produksi di Sumatra, sehingga perhatian dan kekhawatiran terhadap penyakit-penyakit yang kerap menjadi kendala dalam produksi nilam tercurah kembali terutama pada daerah-daerah pengembangan baru. Daerah sentra produksi nilam maupun daerah pengembangan baru di Indonesia mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Tiga jenis penyakit yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis, yaitu: 1) penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, 2) penyakit budok/buduk yang dahulu diduga disebabkan oleh virus atau MLO (Mycoplasm Like Organism); sekarang telah diidentifikasi disebabkan oleh jamur Synchytrium sp., dan 3) penyakit daun kuning atau daun merah yang disebabkan oleh nen atoda parasit Pratylench is spp., Meloidogyne spp. dan Radopholus similis. Akhir-akhir ini sering ditemukan gejala penyakit virus pada pertanaman maupun bibit nilam. Sifat virus yang sulit dikendalikan dan penyebarannya dapat melalui penggunaan bibit terinfeksi, serangga aphids dan kontak; menyebabkan penyakit ini berpotensi pula sebagai kendala dalam produksi nilam dimasa yang akan datang. Penyakit-penyakit tersebut selain sangat merugikan juga sulit dikendalikan. Penyakit layu bakteri dan penyakit budok bersifat endemik dan di Sumatra dapat menurunkan produksi 60 - 95%. Serangan nematoda parasit dapat menghambat pertumbuhan tanaman 26 49%. Penyebaran penyakit mengikuti penyebaran budidaya nilam. Faktor utama penyebaran penyakit layu dan budok untuk antar kebun atau antar pulau/propinsi adalah melalui penggunaan bahan tanaman yang terinfeksi. Sampai tahun 2007 ini, penyebaran penyakit layu bakteri dan daun merah/daun kuning terjadi di daerah Sumatra, Jawa dan Kalimantan, sedangkan penyakit budok baru terjadi di Sumatra dan Jawa. Saran-saran untuk penelitian lebih lanjut di masa datang adalah ekobiologi penyakit budok, ekobiologi penyakit virus, evaluasi varietas-varietas/klon-klon nilam tahan bakteri layu dan nematoda di lahan-lahan endemik, evaluasi lebih lanjut penggunaan lahan sawah dan lahan gambut seperti di Kaltim sebagai alternatif, pengendalian penyakit yang ramah lingkungan untuk mengantisipasi permintaan pasar dunia terhadap produk nilam organik (organic patchouli), survey terhadap daerah-daerah pengembangan baru di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi sehingga dapat dilakukan suatu kebijakan untuk pengembangan nilam selanjutnya terutama untuk daerah-daerah yang masih bebas penyakit agar menggunakan bahan tanaman dari daerah-daerah yang masih bebas penyakit, serta mengefektifkan peran Karantina Pertanian dalam pembatasan lalu lintas bahan tanaman yang masuk ke propinsi serta daerah-daerah lain yang masih bebas budok.
Description
Keywords
Citation