Implementasi Diseminasi Inovasi Pertanian dalam Perspektif Penyuluh

dc.contributor.authorSejati, Wahyuning K.
dc.contributor.authorIndraningsih, K.S.
dc.date.accessioned2026-08-26T07:08:15Z
dc.date.available2026-08-26T07:08:15Z
dc.date.issued2015-11-10
dc.descriptionDiseminasi dapat diartikan sebagai cara dan proses penyampaian hasil pengkajian teknologi kepada masyarakat atau pengguna untuk diketahui dan dimanfaatkan (Permentan No. 20/2008). Di dalam Permentan No. 03/Kpts/HK.060/1/2005, dijelaskan bahwa hasil-hasil pengkajian teknologi di bidang pertanian tersebut merupakan inovasi yang mengandung ilmu pengetahuan baru atau cara baru untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi ke dalam produk atau proses produksi. Inovasi yang dimaksud mencakup teknologi pertanian dan kelembagaan agribisnis unggul mutakhir hasil temuan atau ciptaan Badan Litbang Pertanian (Andries 2012). Diseminasi inovasi teknologi pada petani pengguna, membutuhkan sosialisasi melalui peran aktif sistem penyuluhan. Untuk itu, informasi hasil penelitian perlu didiseminasikan, baik kepada pengguna antara maupun pengguna akhir, melalui berbagai media informasi yang akan dijadikan pendukung kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan demikian, penyuluhan pertanian merupakan salah satu fungsi strategis pemerintahan di sektor pertanian. Strategi diseminasi inovasi pertanian untuk peningkatan akses petani terhadap inovasi teknologi pertanian dapat dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap pertama, pengguna dan pengguna antara (operator, penyuluh, dan fasilitator) dapat mengakses informasi inovasi pertanian yang tersedia di pusat informasi pertanian secara baik dan benar; tahap kedua, informasi yang telah diperoleh dikelola, dirakit, dan disederhanakan ke dalam bentuk yang mudah diterima oleh pengguna (contoh: petani) sesuai dengan karakteristik pengguna (user friendly) dengan biaya yang murah (terjangkau); dan tahap ketiga, diharapkan informasi yang telah dikemas dalam berbagai media dapat disebarkan ke pengguna melalui kombinasi dari media terbaru (media digital), konvensional, dan termasuk media tradisional yang populer di tingkat masyarakat. Pada tahap ini diharapkan peran petugas sebagai fasilitator dapat bersinergi dengan tokoh masyarakat untuk mendukung operasionalisasi informasi diseminasi inovasi pertanian melalui media potensial yang mampu menjangkau pengguna (siaran radio, telepon seluler, papan pengumuman desa, dan media personal) sampai di tingkat desa perlu dioptimalkan untuk mempercepat informasi diseminasi inovasi pertanian sampai di tingkat petani (Indraningsih et al. 2014)
dc.description.abstractPermasalahan yang dihadapi sektor pertanian terkait diseminasi inovasi, yaitu tidak semua penyuluh mempunyai kemampuan untuk mencari, menelusuri, bahkan mengunduh informasi dari berbagai sumber dan mengolahnya menjadi informasi yang dibutuhkan untuk disampaikan kepada petani. Tujuan kajian ini untuk mengevaluasi implementasi diseminasi inovasi pertanian sebagai upaya memenuhi kebutuhan dan kepentingan petani, dilihat dari perspektif penyuluh. Penelitian dilakukan pada tahun 2014 di tiga provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Responden penelitian adalah penyuluh, baik penyuluh pemerintah, penyuluh swasta, maupun penyuluh tenaga harian lepas (THL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyuluh menyatakan kompetensi penyuluh telah mampu mengidentifikasi kebutuhan inovasi. Pada penyuluh THL, pemahaman tentang pelaksanaan penyuluhan masih terbatas. Keterbatasan yang dialami penyuluh dalam melaksanakan tugasnya untuk mendiseminasikan inovasi pertanian antara lain kurang mendukungnya alat transportasi penyuluh, tidak atau belum memadainya berbagai sarana dan prasarana, serta metode pendukung pelaksanaan diseminasi inovasi pertanian. Penelusuran kebutuhan inovasi dilakukan melalui forum komunikasi (temu lapang, temu teknis, dan urun rembug petani), kaji terap di lahan petani, serta demonstrasi plot dengan melibatkan peran aktif petani, selain melengkapi wawasan pengetahuan dan keterampilannya melalui studi literatur. Dalam menyinergikan kebutuhan inovasi pertanian di tingkat petani, penyuluh perlu memiliki kompetensi atau kemampuan, baik dalam aspek manajemen, mampu memahami masalah alam, lingkungan, dan sosial kemasyarakatan di wilayah, serta mampu menggali informasi melalui interaksi dengan petani. Inovasi pertanian yang dihasilkan lembaga penelitian seharusnya tidak hanya bertumpu pada pengembangan ilmu pengetahuan saja, namun juga perlu mencermati kebutuhan petani sebagai pengguna akhir melalui kegiatan umpan balik antara peneliti, widyaiswara, penyuluh, dan petani.
dc.identifier.isbn978-602-344-127-3
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/31279
dc.language.isoid
dc.relation.ispartofseriesProsiding Makalah Penunjang; No.47 2015
dc.subjectC Education, extension, and advisory work/Pendidikan, Penyuluhan Pertanian
dc.subjectE Economics, development, and rural sociology/Ekonomi, Pembangunan dan Sosiologi Pedesaan::E20 Organization, administration and management of agricultural enterprise or farms// Organisasi, Administrasi dan Pengelolaan Perusahaan Pertanian/Usaha tani
dc.subjectdiseminasi
dc.subjectinovasi
dc.titleImplementasi Diseminasi Inovasi Pertanian dalam Perspektif Penyuluh
dc.typeArticle
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
pros2015_No47_16MP_ Wahyuning K Sejati.pdf
Size:
153.55 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: