Pengaruh Sitokinin dan Auksin pada Perbanyakan Tanaman Pegagan (Centella asiatica L.) Secara In Vitro 9-14
No Thumbnail Available
Date
2015-04-01
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Abstract
Pegagan (Centella asiatica L.) merupakan salah satu tanaman obat yang sangat potensial untuk dikembangkan.
Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai kegunaan pegagan antara lain untuk penyembuhan luka, radang
rematik, asma, wasir, tubercolosis, disentri, lepra, demam serta penambah selera makan. Beberapa tahun
belakangan ini masyarakat dunia memberi perhatian lebih terhadap penggunaan produk-produk tanaman
berbasis ecofriendly dan biofriendly untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Hai itu menyebabkan
permintaan terhadap obat herba meningkat demikian juga terhadap tanaman pegagan. Akan tetapi eksploitasi
di alam yang terus menerus dan tidak terorganisir menyebabkan banyak tanaman menjadi langka atau punah.
Oleh karena itu diperlukan sebuah protokol untuk produksi tanaman pegagan secara in vitro. Perlakuan pada
tahap inisiasi tunas adalah media dasar Murashige dan Skoog (MS) ditambah BAP atau Kinetin atau 2-iP (0; 0,5;
1; 2 dan 4 mg/l) atauTDZ (0; 0,05 dan 0,1 mg/l). Perlakuan pada tahap multiplikasi tunas adalah MS ditambah
BAP (0; 0,5; 1; 2 dan 4 mg/l) baik secara tunggal maupun kombinasi dengan TDZ (0; 0,05 dan 0,1 mg/l).
Perlakuan induksi perakaran adalah MS ditambah IBA atau NAA atau IAA (0; 0,5; 1; 1,5 dan 2 mg/l). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa media terbaik untuk inisiasi tunas adalah BAP 1 mg/I (5,2 tunas). Media terbaik
untuk multiplikasi tunas adalah kombinasi BAP 1 mg/I + TDZ 0.05 mg/I (6,2 tunas). Media terbaik untuk induksi
perakaran adalah IBA 1 mg/l (5,25 akar/tunas). Pada tahap aklimatisasi di rumah kaca sebanyak 75% planlet
pegagan dapat bertahan hidup pada media tanah: pupuk kandang (1:1).
Kata kunci: Centella asiatica, perbanyakan, in vitro, sitokinin