Sumber Daya Lahan Pertanian
Permanent URI for this community
Browse
Browsing Sumber Daya Lahan Pertanian by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 693
Results Per Page
Sort Options
- ItemTerms Of Reference Klasifikasi Kesesuaian Lahan(Pusat Penelitian Tanah, 1983) Staf Peneliti Pusat Penelitian Tanah
- ItemTerms of Reference Kerangka Tata Ruang Pertanian(Pusat Penelitian Tanah, 1983) Staf Pusat Penelitian Tanah; Staf Puslitbang Tanaman Pangan; Staf Puslit Agroekonomi; Konsultan P3MT
- ItemPertanian tanaman pangan pada lahan pasang surut di Kalimantan Selatan(Balittra, 1988) Balittra, Balittra; Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa
- ItemHasil Utama Penelitian Sistem Usahatani Lahan Pasang Surut dan Rawa(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIProduksi pangan, khususnya padi, merupakan sasaran utama pembangunan pertanian nasional selama dua dasawarsa terakhir ini. Berasyang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah komoditas pertanian terpenting, pernah menyerap banyak devisa karena diimpor hingga 1-2 juta t/tahun. Namun, melalui penerapan teknologi maju dan keriakeras, pada tahun 1984 negeri ini mencapai swasembada beras. Sekalipun demikian, permintaan akan bahan pangan lainnya terutama kedelai terus meningkat, menjauh dari kemampuan pasok (suplai) domestik. Tak terhindarkan, impor kedelai terus membengkak dan mencapai sekitar 600ribu ton dalarri tahun terakhir.
- ItemLahan Rawa Lebak(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIMasalah utama pengembangan usahatani lahan rawa lebak adalah sulit diramalnya saat datang genangan dan surutnya air. Pertanaman muda yang terlanda genangan air yang datang cepat seringkali mati. Tanaman itu misalnya padi air dalam atau kenaf yang bisa ditanam pada awal musim hujan. Untuk itu perlu semacam persemaian/ penanaman bertahap.
- ItemPertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIProduksi pangan, khususnya padi, merupakan sasaran utama pembangunan pertanian nasional selama dua dasawarsa terakhir ini. Berasyang bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah komoditas pertanian terpenting, pernah menyerap banyak devisa karena diimpor hingga 1-2 juta t/tahun. Namun, melalui penerapan teknologi maju dan keriakeras, pada tahun 1984 negeri ini mencapai swasembada beras.
- ItemLahan Potensial(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IILahan potensial pasang surut rnendapat prioritas penanganan pada tahap awal karena rnemiliki risiko pengusahaan yang paling keeil dan mencakup areal yang paling luas bila dibandingkan tipologi lainnya
- ItemProteksi(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIUpaya pengernbangan pertanian di lahan pasang surut dikendalai antara lain oleh beratnya serangan hama dan penyakit, terutarna babi hutan dan tikus. Babi banyak merusak pertanarnan ubikayu,jagung, kacang tanah, pisang, dan kelapausia rnuda. Jenis urnpan yang paling banyak dirnakan adalah ubi kayu dan buah kelapa. Narnun peracunan babi tidak dibenarkan oleh PHPA (perlindungan Hutan dan Pelestarian Alarn, Departernen Kehutanan). Penangkapan babi dengan jerat kawat atau jerat lapon lebih berhasil, cukup efektif, dan aman. Penggunaannya dapat dikernbangkan di daerah transrnigrasi. Pernagaran dengan kayu gelarnrnarnpu rnelindungi tanarnan dari serangan babi.
- ItemLahan Salin(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IILahan salin di Indonesia pada umumnya terbentuk dari adanya genangan yang lama oleh air laut sebelum direklamasi dan/atau adanya intrusi air laut yang terjadi di musim kemarau. Tanah ini mengandung kadar natrium terlarut yang tinggi (8-15%) sehingga bisa merusak struktur tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman.
- ItemSosial ekonomi(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIKendala yang dihadapi petani transmigran di lahan pasang surut meliputi agro-fisik, biologis, serta sosial-ekonomi. Kendala sosial- ekonomi berupa modal, tenaga kerja, organisasi petani, mutu dan jumlah prasarana, serta kegiatan pemasaran.
- ItemAlat/Mesin Pertanian(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IITiap keluarga tani transmigran di lahan pasang surut memiliki lahan 2,25ha. Untuk mengolah tanahnya kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga kerja dan modal. Menurut hasilsuatu pengamatan, dimusim kemarau traktor mini lebihefisiendaripada traktor tangan,bajak sapi, atau cangkul. Traktor tangan lebih efisien di musim hujan. Penelitian itu diadakan pada lahan seluas4ha yang disurjan dengan lebar guludan 4m,tabukan 6,5m,dan panjang 90m
- ItemPengembangan(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIDalam rangka pengembangan sistem usahatani lahan potensial, tiga komoditas utama telah dapat dianjurkan, yaitu padi sawah, kelapa Riau, dan ayam buras. Varietas padi sawah yang dianjurkan adalah Kapuas, Cisanggarung, Cisadane, IR42, IR11288, dan B5332. Komoditas penunjangnya dapat palawija, hortikultura, tanaman industri, temak, dan ikan
- ItemLahan Sulfat Masam(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IIPengolahan tanah di lahan sulfat masam perlu dilakukan dengan hati-hati, Lapisan pirit (FeS2),bila sampai terangkat ke permukaan, akan teroksidasi serta membuat tanah menjadi sangat masam (pH kurang dari 3,5) dan sulit ditumbuhi tanaman.
- ItemLahan Gambut/Bergambut(Balittra, 1991) Proyek Penelitian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS IILahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan gambut dengan kadarC organik di atas 12%atau diatas 18% (tergantung kadar liatnya)dengan ketebalanlebihdari 40em. Lahan gambut Karang Agung mempunyai ketebalan gambut 20-40 em yang disebut lahan bergambut. ,Kesuburan lahannya sangat ditentukan oleh lapisan tanah mineral di bawahnya. Gambut yang terbentuk di atas endapan mineral sungai biasanya lebih subur jika dibandingkan dengan gambut yang terbentuk di atas lapisan pasir. Pada tanah gambut, tanaman sering kekurangan unsur mikro seperti Cu dan Zn. Misalnya padi dapat mengalami kehampaan gabah walaupun pertumbuhannya bagus
- ItemSumbangan pemikiran bagi pembangunan pertanian di Irian Jaya(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1991) Achmad Dimyati; Kedi Suradisastra; Agusli Taher; M. Winugroho; D. D. Tarigan; A. SudrajatPembangunan di wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT) relatif masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan pembangunan di wilayah Indonesia Bagian Barat (IBB). Ketertinggalan tersebut mencakup hampir semua sektor, termasuk pertanian. Padahal wilayah IBT mempunyai sumberdaya alam yang cukup potensial untuk digali dan dikembangkan bagi pembangunan nasional. Meski demikian disadari pula bahwa di balik potensi tersebut terdapat berbagai kendala, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis, yang perlu diidentifikasi secara cermat guna diupayakan jalan keluarnya. Untuk memahami kondisi pertanian setempat dalam mendukung upaya pembangunan di wilayah IBT, Badan Litbang Pertanian telah melaksanakan penelitian eksploratif di tiga propinsi, yaitu Irian Jaya, Maluku, dan Timor Timur. Penelitian yang menerapkan metode Pemahaman Pedesaan dalam Waktu Singkat (Rapid Rural Appraisal=RRA) ini melibatkan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan komoditas di lingkup Badan Litbang Pertanian serta petugas pertanian setempat. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam bentuk tiga buku terpisah, sesuai dengan propinsi masing-masing. Informasi yang terkandung dalam laporan ini diharapkan bermanfaat, baik bagi pembuat kebijakan maupun bagi peneliti, penyuluh, dan pihak lain yang terkait. Kepada Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian Nasional (P4N) yang telah membiayai penelitian dan penerbitan laporan ini kami ucapkan terima kasih.
- ItemSISTEM USAHATANI LAHAN BERGAMBUT DI KALIMANTAN SELATAN(Balittra, 1993) Agus Supriyo, B. Prayudi., M Thamrin, S. Umar, BalittraPada masa mendatang,pembangunan pertanian untuk meningkatkan produksi, pendapatan dan gizi terutama dalam usaha mempertahankan swasembada pangan dihadapkan kepada berbagai tantangan yang semakin berat dan kompleks. Menyusutnya lahan subur untuk berbagai keperluan non pertanian serta meningkatnya perrnintaan akan hasil pertanian menyebabkan pengembangan pertanian mengarah kepada lahan marginal, seperti lahan rawa pasang surut dan lebak (Puslitbangtan, 1991). Lahan gambut dan bergambut di Indonesia diperkirakan mencapai18.480.000 ha (Soekardi dan Hidayat, 1992). Lahan tersebut sebagian besar terletak di Pulau Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya. Dari luasan tersebut sekitar 9.309 juta ha merupakan lahan gambut yang terdapat di Pulau Kalimantan atau sekitar 50,4% dari luas total gambut di Indonesia (Tabell). Sampai saat ini baru sekitar 1,3juta ha yang telah dimanfaatkan, baik yang dikelola secara tradisional maupun melalui program transmigrasi.
- ItemSISTEM USAHATANI LAHAN SULFAT MASAM KALIMANTAN SELATAN(Balittra, 1993) Rachmadi Ramli, R. S. Simatupang, Isdijanto Ar-Riza, BalittraDari seluas 2juta hektar lahan sulfat masam 575.000 hektar diantaranya ada di Kalimantan. Potensi yang demikian besar perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama penduduk yang berdomisili dan meneari nafkah kehidupan di lahan tersebut. Lahan sulfat masam termasuk dalam katagori lahan yang bermasalah, terutama karena tingkat keasamannya yang tinggi, mengandung potensi senyawa raeun bagi tanaman,kahat unsur hara dantata airpada umumnya belum baik. Kondisi dankeadaan lahan yang demikian, menuntut para petani yang berusaha di lahan tersebut mempunyai pemahaman yang baik tentang komoditas yang sesuai dan eara budidaya yang tepat. Pada umumnya lahan sulfat masam dihuni oleh petani transmigran yang berasal dari berbagai daerah di Jawa dan Bali, sangat sedikit yang dihuni oleh penduduk lokal. Oleh karenanya eara budidaya pertanian dilahan ini relatif baru, dibanding pada lahan potensial atau lahan rawa sekalipun. Petani pada umumnya menanam padi sekali setahun menggunakan varietas lokal yang berumur dalam (8-10 bulan). Varietas padi lokal sangat adaptifterhadap kondisi lahan, tetapi potensi hasilnya rendah 1,5-2 ton per hektar. Keadaan inilah mungkin yang mendorong petani ingin menanam palawija, sayuran, tanaman keras di atas guludan, selain tentunya juga dipengaruhi dari sistem bertani di daerah asalnya masing-masing.
- ItemSISTEM USAHATANI DAN TEKNOLOGI PENUNJANG DI LAHAN PASANG SURUT DAN LEBAK KALIMANTAN SELATAN 1987·1992(Balittra, 1993) Isdijanto Ar-Riza Rachmadi Ramli Hidayat Dj. Noor Hairu Susanto, BalittraDari luas 7.054.000 ha lahan pasang surut di Kalimantan, diperkirakan 2.581.800 ha sesuai untuk usahatani dan 4.472.200 ha kurang sesuai. Lahan pasang surut dinilai sebagai lahan marginal, karena terdapatnya berbagai kendala yang cukup berat, dengan hasil usahatani yang rata-rata masih rendah. Lahan pasang surut dengan potensi yang besar tersebut merupakan aset negara karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus disyukuri, digali potensinya dan dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk mencapai tujuan tersebut, daritahun 1987sampai dengan 1992pemerihtah melalui Proyek Swamps-II yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Pangan Banjarbaru, telah dan sedang melaksanakan Penelitian Sistem Usahatani yang meliputi tiga tipologi lahan di wilayah Kalimantan Selatan
- ItemSISTEM USAHATANI LAHAN RAWA DANGKAL(Balittra, 1993) Hidayat Dj. Noor, Isdijanto Ar-Riza, Chaerudin, BalittraLahan rawa dangkal Kalimantan pada umumnya dihuni oleh penduduk lokal dan sudah sangat lama mengusahakan lahan tersebut sebagai lahan usaha pertanian. Luas pemilikan sangat bervariasi, yaitu antara 0,7-4 ha per keluarga. Ini berarti' penyusunan model sistem usahatani harus diperhitungkan terhadap petani yang memiliki tanah kurang luas, agar sistem usahatani yang diusahakan betul-betul dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Di lahanpekarangan petani pada umumnya mengusahakan tanaman keras, seperti mangga rawa (lokal), pisang dan temak itik. Adapun di lahan usaha ditanam ubi Alabio, labu merah, lombok dan sayuran lainnya di atas guludan atau surjan. Pada lahan sawah diusahakan tanaman padi di musim kemarau, yang dikenal dengan persawahan rintak. Budidaya yang dilaksanakan masih sederhana dan masih banyak petani yang belum menggunakan pupuk, sehingga hasil yang diperoleh ratarata masih rendah, yaitu sekitar 3 t/ha
- ItemTEKNOLOGI PENUNJANG SISTEM USAHATANI LAHAN PASANG SURUT SULFAT MASAM(Balittra, 1993) Isdijanto Ar-Riza, Sardjijo, BalittraLahan pasang surut sulfat masam mempunyai kendala yang lebih besar dibanding tipologi pasang surut lainnya. Kendala yang dinilai sangat menghambat usahatani adalah tingkat keasaman yang tinggi dengan pH antara 3-4, adanya lapisan pirit sebagai sumber senyawa raeun bagi tanaman, dan rendahnya tingkat ketersediaan unsur hara. Dalam melaksanakan usahatani di lahan sulfat masam harus memperhatikan bebcrapa hal, pcmilihan varietas harus tepat dan sesuai kondisi lahan. Budidayanya meliputi pengolahan tanah, pemupukan harus benar, agar usaha pengolahan tanah tidak menurunkan hasil karena terungkapnya raeun pirit ke permukaan. Pemupukan harus dengan eara dan takaran yang tepat agar dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menekan pengaruh raeun, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Oleh karenanya, sistem usahatani harus didukung oleh tcknologi budidaya yang scsuai, agar optimalisasi pcndapatan dieapai. Dengan demikian penelitian untuk mengatasi kendala tersebut sangat penting artinya bagi pcningkatan pendapatan melalui sistem usahatani. Lahan suifat masam Kalimantan Selatan telah banyak ditangani oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan Banjarbaru. Dcngan demikian penelitian komponen penunjang bersifat melengkapi hasil-hasil penelitian yang telah ada, untuk kemudian dirakit dan diterapkan dalam sistem usahatani.