Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Suwarno"

Now showing 1 - 15 of 15
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Adaptabilitas dan Stabilitas Hasil Galur-galur Harapan Padi Gogo
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Yullianida; Supartopo; E. S. Mulyaningsih; Suwarno; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
    Interaksi genotipe dengan lingkungan seringkali menimbulkan kesulitan dalam pemilihan genotipe unggul dari suatu pengujian pada kisaran lingkungan yang luas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi adaptabilitas dan stabilitas galur harapan padi gogo. Sebanyak 12 galur harapan padi gogo dan dua varietas pembanding Situpatenggang dan Limboto diuji multilokasi selama tiga musim pada tahun 2011-2013 di 16 lingkungan berbeda yang tersebar di tiga propinsi sentra penanaman padi gogo, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Uji adaptabilitas dan stabilitas hasil menggunakan metode analisis Finlay-Wilkinson dan AMMI. Hasil penelitian menunjukkan interaksi genotipe dengan lingkungan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil galur-galur harapan padi gogo. Uji adaptabilitas dan stabilitas menunjukkan dua galur memiliki βi tidak berbeda nyata dengan 1.00 dan mampu beradaptasi di lingkungan suboptimal (βi<1.0), yaitu IR79971-B-110-B-B (βi=0.92) dan B11930F-TB-2 (βi=0.93). Dua galur dan satu varietas pembanding teridentifi kasi memiliki βi tidak berbeda nyata dengan 1.00 dan memiliki stabilitas diatas rata-rata (βi>1.0) yang artinya hanya beradaptasi baik pada lingkungan yang optimal atau subur, yaitu IR79971-B-127- B-B (βi=1.07), B12825E-TB-2-12-4 (βi=1.02) dan Situpatenggang (βi=1.01), sedangkan sembilan genotipe lainnya memiliki koefi sien regresi (βi) berbeda nyata dengan 1.00, berarti genotipe tersebut tidak stabil. Pada biplot hasil AMMI tergambar bahwa genotipe yang tidak stabil berada jauh dari sumbu utama maupun garis lingkungan spesifi k. Rata-rata hasil pada uji multilokasi di total 16 lingkungan adalah sebesar 3.71 t/ha dan dari 14 genotipe yang diuji terdapat tujuh genotipe dengan daya hasil di atas rata-rata. Galur B11930F-TB-2 memiliki hasil sama dengan hasil rata-rata populasi, yaitu 3.71 t/ha dan memiliki βi mendekati 1 (0.93), sehingga teridentifi kasi dapat beradaptasi di lingkungan suboptimal. Sedangkan galur yang memiliki hasil tertinggi, yaitu B12151D-MR-11 (4.11 t/ ha) teridentifi kasi tidak stabil karena memiliki nilai βi berbeda nyata dengan 1.00 (βi = 1.29*).
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kegiatan Percontohan PeningkatanProduktivitas Padi Terpadu 2002
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Zulkifli Zaini; Irsal Las; Suwarno; Budi Haryanto; Suntoro; E. Eko Ananto
    Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka program intensifikasi padi sudah selayaknya mendapat perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai aspek, baik teknis maupun kelembagaan pendukung. Dalam dasawarsa terakhir, produksi padi Indonesia mengalami stagnasi/pelandaian. Hal ini disebabkan antara lain oleh degradasi lahan, terutama pada sawah produktif yang selama ini digunakan untuk intensifikasi usahatani padi. Berbagai penelitian yang dilaksanakan selama ini telah berhasil mengatasi masalah tersebut. Berangkat dari fenomena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan akan mengimplementasikan Kegiatan Percontohan Peningkatan Produksi Padi Terpadu (P3T) di 14 propinsi di Indonesia. Kegiatan Percontohan P3T yang pelaksanaannya direncanakan pada tahun 2002 merupakan upaya pengembangan model alih teknologi atau inovasi baru untuk memacu peningkatan produktivitas usahatani padi dan sekaligus peningkatan pendapatan petani melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi, teknologi Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida, dan Sistem Integrasi Padi-Ternak yang didukung oleh Pengembangan Kelembagaan Usaha Agribisnis Terpadu, baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten. Pedoman umum ini memuat maksud, tujuan dan sasaran kegiatan, serta garis besar acuan pengelola kegiatan maupun anggaran bagi para pelaksana di pusat, propinsi dan terutama di kabupaten sebagai penerima manfaat terbesar kegiatan. Berdasarkan Pedoman Umum ini diharapkan para pelaksana dapat merencanakan anggaran secara berdaya guna dan berhasil guna. Pedoman Umum ini dirancang sedemikian rupa sehingga terdapat keleluasaan bagi daerah menterjemahkan lebih lanjut ke dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) yang disusun oleh propinsi dan Petunjuk Teknis (Juknis) oleh kabupaten sesuai dengan potensi wilayah, kebutuhan serta dinamika aspirasi masyarakat yang bervariasi antarwilayah. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan panduan ini.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Suwarno; Suprihatno, Bambang; Nugraha, Udin S.; Widiarta, I Nyoman; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Penerapan teknologi padi hibrida diharapkan dapat meningkatkan hasil padi 15-20% atau sekitar 1 ton per hektar dibandingkan dengan padi konvensional (inbrida). Padi termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri yang dalam kondisi normal mempunyai tingkat penyerbukan silang sangat rendah. Oleh sebab itu, penyediaan benih padi hibrida yang merupakan generasi F1 dari persilangan antara dua galur atau varietas homozigot sering menjadi faktor pembatas dalam penerapan teknologi padi hibrida secara luas.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002-12-18) Suwarno; Bambang Suprihatno; Udin S. Nugraha; I Nyoman Widiarta
    Pelandaian produksi padi akhir-akhir ini disebabkan antara lain oleh degradasi lahan sawah, sementara program intensifikasi padi tidak banyak mengalami perbaikan. Selain itu, varietas unggul yang digunakan petani tidak dapat berproduksi lebih tinggi karena keterbatasan kemampuan genetik tanaman. Penggunaan pupuk dan pestisida secara tidak terkendali oleh sebagian petani tidak hanya menurunkan efisiensi usahatani padi tetapi juga merusak keseimbangan hara tanah dan mencemari lingkungan. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, masalah yang dihadapi dalam berproduksi akan semakin kompleks. Kenyataan membuktikan pula bahwa sebagian besar petani tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk berproduksi sehingga keuntungan yang mereka peroleh dari usahatani padi relatif kecil. Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka program intensifikasi padi sudah selayaknya mendapat perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai aspek, baik teknis maupun kelembagaan pendukung. Berangkat dari fenomena tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Produksi Peternakan akan mengimplementasikan Kegiatan Percontohan Peningkatan Produksi Padi Terpadu (P3T) di 14 propinsi di Indonesia. Merupakan perbaikan dari program intensifikasi padi yang berkembang di kalangan petani saat ini, Kegiatan Percontohan P3T diimplementasikan melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi, teknologi Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida, dan Sistem Integrasi Padi-Ternak yang didukung oleh Pengembangan Kelembagaan Usaha Agribisnis Terpadu. Kegiatan Percontohan P3T melibatkan berbagai institusi terkait, baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten. Panduan teknis ini berisikan penjelasan tentang pelaksanaan kegiatan Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida dalam Kegiatan Percontohan P3T. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan panduan ini.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida dan Padi Tipe Baru
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2003) Suwarno; Bambang Suprihatno; Satoto; Buang Abdullah; Udin S Nugraha; I Nyoman Widiarta
    Badan Litbang Pertanian juga telah merakit padi tipe baru (PTB) dengan memanfaatkan plasma nutfah yang ada. Padi tipe baru (PTB) dirancang agar fotosintat terdistribusikan secara lebih efektif ke malai/gabah. Potensi hasil PTB diharapkan 20-30% lebih tinggi dari varietas unggul baru (VUB) IR64 dan Ciherang. Peningkatan selanjutnya diharapkan dapat dicapai dengan memanfaatkan gejala heterosis melalui pengembangan padi hibrida dengan menggunakan padi tipe baru sebagai tetua.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknologi Budidaya Padi Salibu
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015) Abdulrachman, Sarian; Suhartatik, Endang; Erdiman; Susilawati; Zaini, Zulkifli; Jamil, Ali; Mejaya, Made J.; Sasmita, Priatna; Abdullah, Buang; Suwarno; Baliadi, Yuliantoro; Dhalimi, Azmi; Sujinah; Suharna; Ningrum, Elis Septia
    Kebutuhan beras akan tenjs meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan realisasi produksi padi dalam 5 tahun terakhir, terindikasi bahwa laju pertumbuhan produksi padi makin menurun dan biaya produksi per satuan kias lahan makin meningkat. Oleh karena itu pencapaian target produksi padi ke depan akan semakin sulit. Untuk mengatasi permasalahan ini Pemerintah mencanangkan peningkatan produksi padi nasional sebesar 1,5% per tahun. Dalam konteks ini diperlukan berbagai terobosan peningkatan produksi padi. Mengingat f니ngsi dan peran penting padi tersebut, Pemerintah berupaya untuk mewujudkan peningkatan produksi padi pada tahun 2015 melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) dan Upaya Khusus (Upsus) lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut, pelaksana program di lapangan memerlukan panduan untuk berbagai teknologi budidaya padi yang sudah dikembangkan di Indonesia.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Penampilan Hasil dan Sifat Agronomi Lain Galur Harapan Padi Gogo di Dataran Tinggi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Supartopo; Suwarno; Yusuf, Amrizal; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
    Varietas padi unggul yang adaptif pada lahan kering dataran tinggi sangat diperlukan karena disamping sebagai bahan makan pokok juga berfungsi sebagai pergiliran tanaman setelah tanaman sayuran. Petani padi di daerah lahan kering dataran tinggi masih menggunakan varietas lokal yang sudah beradaptasi baik namun produksinya rendah dan umurnya panjang. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi daya hasil dan penampilan galur harapan padi gogo di lahan kering dataran tinggi. Penelitian dilakukan pada MH 2013 di Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara. Sebanyak 50 galur dan varietas padi gogo diuji pada percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Ukuran plot 2 m x 5 m, jarak tanam 15 cm x 30 cm, tanam benih langsung dengan cara tugal, jumlah benih 2-4 butir per lubang tanam. Takaran dan jenis pupuk yang digunakan adalah 300 kg NPK (Phonska) + 100 kg Urea /ha. Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur tanaman berbunga, umur dapat dipanen, jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1000 butir gabah isi, hasil gabah kering giling per petak. Data hasil pengamatan dianalisis ragam dan perbandingan nilai tengah antar galur dilakukan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menujukkan terdapat 13 galur yang hasilnya lebih tinggi atau sama dengan varietas pembanding Sigambiri Putih (2,3t/ha). Galur-galur yang dievaluasi berumur lebih genjah dibanding varietas Sigambiri Merah (157 hari) dan Sigambiri Putih (168 hari). Galur harapan yang berdaya hasil tinggi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut agar dapat dilepas sebagai varietas unggul baru padi gogo dataran tinggi.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Lahan Rawa Pasang Surut
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007-12-15) Hamdan Pane; Suwarno; Bambang Kustianto; A. Karim Makarim; Sudarmaji; Sutrisno
    Rapat koordinasi terbatas Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden RI di Departemen Pertanian pada awal Januari 2007 menghasilkan keputusan penting: target peningkatan produksi beras 2 juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5% per tahun hingga tahun 2009. Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut Departemen Pertanian meluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) untuk segera diimplementasikan. Salah satu hal penting dalam upaya pencapaian target peningkatan produksi tersebut adalah penerapan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah rawa pasang surut. Berbeda dengan program intensifikasi padi seperti Insus dan Supra Insus, PTT bukan teknologi atau bukan paket teknologi tetapi pendekatan dalam pemecahan masalah produksi di daerah setempat dengan menerapkan teknologi yang sesuai dan dipilih sendiri oleh petani dengan bantuan para penyuluh pertanian. Tujuan penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat dan yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman dalam penelitian jangka panjang dan pengembangan inovasi teknologi usąhatani padi pada lahan rawa pasang surut dan pengembangan PTT padi sawah irigasi di berbagai daerah. Buku petunjuk lapang ini diperuntukkan untuk dipedomani oleh para penyuluh pertanian dalam usaha meningkatkan produktivitas padi lahan pasang surut melalui pendekatan PTT. Buku ini juga diharapkan dapat pula dipakai sebagai pelengkap bahan pelatihan PTT padi lahan rawa pasang surut, baik yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) maupun Dinas Pertanian di daerah.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengembangan Varietas Unggul Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Padi Lahan Suboptimal
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2016) Suwarno; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Sumber daya genetik yang tersedia sangat banyak untuk pemuliaan padi lahan suboptimal. Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman genetik tanaman padi yang sangat beragam, berupa varietas lokal dan padi liar. Sumber daya genetik padi juga dapat diperoleh melalui kerja sama internasional, terutama dengan International RiceResearh Institute (IRRI). Berbagai teknologi dapat dimanfaatkan dalam pemuliaan padi lahan suboptimal. Bioteknologi terutama marka DNA dan kultur anter dapat meningkatkan akurasi seleksi dan mempersingkat program pemuliaan. Teknologi padi hibrida tiga galur untuk daerah tropis dan mampu meningkatkan hasil padi sawah, juga potensial untuk pengembangan varietas unggul padi lahan suboptimal. Dalam orasi ilmiah ini dipaparkan perkembangan pemuliaan padi lahan suboptimal, varietas unggul yang dihasilkan, pemanfaatan dan dampaknya, perspektif pengembangan serta kebijakan yang diperlukan untuk pengembangan selanjutnya.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengendalian Hama Babi Hutan Secara Terpadu
    (BPTP Jambi, 1989) Suwarno
    Babi hutan (Common Wild Pig) merupakan binatang hutan yang selalu menibulkan permasalahan di lapangan, khususnya di daerah Kabupaten Bungo Tebo, Propinsi Jambi, daerah yang sering diserang babi hutan terutama pada daerah-daerah pertanian yang berdekatan dengan hutan yaitu pada daerah pembukaan baru, daerah pemukiman transmigrasi dan lain-lain.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Potensi Hasil Dan Mutu Beras Galur-Galur Padi Gogo Terseleksi Di Dataran Tinggi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Hairmansis, Aris; Supartopo; Yullianida; Herlina, Erna; Warsono; Sukirman; Suwarno; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
    Salah satu dampak perubahan iklim global adalah menurunnya daya dukung sumberdaya lahan sawah irigasi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemanfaatan lahan-lahan sub optimal seperti lahan kering di dataran tinggi perlu dioptimalkan. Kendala utama produksi padi gogo di dataran tinggi adalah cekaman suhu udara rendah. Hingga saat ini varietas unggul padi toleran suhu rendah yang mampu beradaptasi di lingkungan tersebut belum tersedia. Program pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul padi gogo yang adaptif di dataran tinggi telah dilakukan di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sejumlah galur potensial telah terseleksi di dataran tinggi dan perlu diuji lebih lanjut daya hasil serta mutu berasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya hasil galur-galur padi gogo dataran tinggi dan menganalisis mutu beras dan nasinya sebagai dasar pemilihan galur yang akan diuji lebih lanjut. Pengujian daya hasil dilakukan terhadap 25 galur padi gogo generasi lanjut dan tiga varietas pembanding pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga ulangan. Analisis mutu dilakukan di laboratorium untuk menguji mutu fisikokimia dan mutu tanak. Hasil penelitian menunjukkan potensi hasil tertinggi genotipe padi gogo di dataran tinggi 900 mdpl kurang dari 4 t/ha. Sebagian besar galur yang diuji menghasilkan gabah kering kurang dari 2 t/ha. Tiga galur dengan hasil gabah tertinggi adalah B14086DTB-86-2 (2.95 t/ha), B14086D-TB-86-1 (2.65 t/ha) dan B14086D-TB-11 (2.65 t/ha), masih dibawah varietas pembanding Jatiluhur yang menghasilkan gabah kering tertinggi yakni 3.66 t/ha. Mutu beras dan nasi galur-galur yang diuji menunjukkan adanya keragaman. Galur B11495F-TB-1-19-2 yang memiliki mutu giling yang baik teridentifikasi sebagai beras merah dengan tekstur nasi yang pulen sehingga sangat potensial sebagai beras fungsional yang kaya antosianin.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Respon Pertumbuhan Dan Komponen Hasil Galur-GalurPadi Gogo Terseleksi Di Bawah Tegakan Pohon KelapaTerhadap Cekaman Naungan Paranet 70%
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Yullianida; Hairmansis, Aris; Supartopo; Suwarno; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
    Pengembangan budidaya padi gogo diarahkan ke lahan perkebunan dan perhutani dimana padi gogo ditanam di antara tanaman tahunan dengan sistem tumpangsari. Pada kondisi tersebut tanaman padi sering mengalami defisit cahaya yang menyebabkan produksinya rendah, sehingga diperlukan varietas padi yang toleran terhadap naungan. Tujuan penelitian ini adalah menguji tingkat toleransi galurgalur terseleksi pada kondisi naungan alami pada tingkat naungan yang lebih tinggi dan merata, yaitu di bawah paranet 70%. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Muara, Bogor pada musim hujan (MH) 2015-2016. Sebanyak 87 galur padi gogo yang terdiri atas 38 galur uji daya hasil pendahuluan (UDHP) dan 49 galur observasi terpilih toleran naungan. Varietas pembanding yang digunakan adalah varietas toleran naungan Jatiluhur. Penilaian tingkat toleransi terhadap naungan dilakukan berdasarkan penghitungan nilai hasil relatif terhadap kontrol (HRK) yang dihitung berdasarkan jumlah gabah isi per malai pada perlakuan naungan 70% dibandingkan dengan perlakuan kontrol (0%). Hasil skrining toleransi galur-galur padi gogo terhadap cekaman naungan 70% menunjukkan 49 galur sangat toleran (HRK>1.00), 22 galur toleran (HRK 0.60-1.00), tujuh galur moderat (HRK 0.40-0.59) dan delapan galur peka (HRK<0.40). Cekaman naungan 70% dibanding pada perlakuan tanpa naungan (0%) menyebabkan umur berbunga lebih lambat, penurunan tinggi tanaman dan jumlah anakan produktif, intensitas hijau daun fluktuatif, penurunan jumlah gabah isi per malai, peningkatan gabah hampa pada galur-galur moderat dan peka, serta penurunan bobot 1000 butir gabah pada galur-galur peka. Galur-galur toleran naungan 70% dibanding galurgalur peka memiliki umur berbunga yang lebih genjah, tinggi tanaman yang lebih tinggi, jumlah anakan produktif tidak berbeda dan intensitas hijau daun tampak fluktuatif antar kelompok galur. Jumlah gabah isi per malai dan bobot 1000 butir gabah galur-galur toleran lebih tinggi dibanding galur yang peka, sedangkan jumlah gabah hampanya lebih rendah sehingga persentase kehampaan gabah galur toleran pun lebih rendah dibanding galur peka.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Seleksi Galur Padi Gogo Generasi Menengah di Lahan Kering Dataran Tinggi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Hairmansis, Aris; Supartopo; Yullianida; Warsono; Sukirman; Sunaryo; Suwarno
    Lahan kering di dataran tinggi memiliki potensi yang besar untuk pengembangan padi mendukung peningkatan produksi beras nasional. Masalah utama pengembangan padi gogo di dataran tinggi adalah tidak adanya varietas unggul yang tersedia sehinga petani masih mengandalkan varietas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengevaluasi galur-galur padi gogo untuk dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di lahan kering dataran tinggi di Kabupaten Wonosobo pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut (dpl). Sebanyak 180 galur padi gogo dievaluasi dalam uji observasi dengan menggunakan rancangan augmented dan dibagi ke dalam empat blok. Sebanyak 45 galur ditanam di masingmasing blok. Pada masing-masing blok ditanam lima varietas pembanding yaitu Sigambiri Merah, Sigambiri Putih, Situ Patenggang, Jatiluhur dan Limboto. Sejumlah galur terpilih dari masing-masing blok menunjukkan hasil gabah di atas varietas pembanding terbaik dan rata-rata hasil semua varietas pembanding. Beberapa galur yang memberikan hasil terbaik di masing-masing blok antara lain B13636G-TB-14-1 (4.70 t/ha) di blok 1, B14083F-TB-3 (5.33 t/ha) di blok 2, B12056F-Tb-1-29-1 (4.52 t/ha) di blok 3 dan B11910D-MR-22-2 (3.62 t/ ha) di blok 4. Galur-galur dengan rata-rata hasil yang tinggi berpotensi untuk dikembangkan di lahan kering dataran tinggi sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut daya hasilnya di lahan kering dataran tinggi.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Stabilitas Hasil Galur Harapan Padi Gogo
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Hermanasari, Rini; Kustianto, Bambang; Lubis, Erwina; Suwarno
    Abstract Yield Trial of Upland Rice Promising Lines. During the year of 2009, advance yield trials involving a total of 17 selected promising lines developed by the Indonesian Center for Rice Research, have been conducted in eight locations. These eight experimental locations were Tamanbogo and Pekalongan (East Lampung), Sukabumi and Indramayu (West Java), Banjarnegara (Central Java), Blora and Pacitan (East Java), and Sitiung (West Sumatra). In each location, the trial was arranged in a Randomized Block Design with four replications. Three varieties, Limboto, Batutegi, and Situ Patenggang, were planted as the check plants. The objectives of these experiments were to identify upland rice promising lines adaptive to environmental stress, bear high yielding character, and possess good grain quality. Results of these experiments indicated that the promising line of TB490B-TB-14-3 yielded higher than the three check rice varieties in five locations, Blora, Indramayu, Pacitan, Pekalongan, and Sukabumi. The promising lines of B11338F-TB-26 yielded higher than the check rice plants in three locations, Banjarnegara, Pacitan, and Sukabumi. While the promising line of IR30176-B-2-R-1 yielded higher than the check rice plants in two locations, Pacitan and Sitiung. Two promising lines, namely TB409C-TB-1-2-1 and TB490C-TB-1-21-MR-1-1 yielded higher than the check rice plants in two locations, Indramayu and Sitiung. There evaluation also indicated that the average yield of nine promising lines were higher than that of the cultivars commonly grown in the areas. These nine lines were B11338F-TB-26, B11577E-MR-12-1-1, B11577E-MR-B-13-1-1-5-5, BP702C-Si-5-1-12, B11577E-MR-12-1, IR30176-B-2-R-1. TB490C-TB-14-3, TB490C-TB-1-2-1, and TB490C-TB-1-21-MR-1-1. The highest yield was demonstrated by B11338F-TB-26 and IR30176-B-2-R-1, in Banjarnegara and Sitiung, respectively. Eight promising lines performed good quality character. The promising line of B11338F TB-26 produced the highest milled head rice and posed soft texture, the B11580-MR-7-1-1 was aromatic, and BP19768-2-3-7-TB-1-1 performed the highest head rice with medium texture. Abstrak Pada tahun 2009 telah dilakukan uji daya hasil 17 galur harapan terpilih hasil penelitian Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di 8 lokasi, Tamanbogo dan, Pekalongan (Lampung Timur), Sukabumi dan Indramayu (Jawa Barat), Banjarnegara (Jawa Tengah). Blora dan Pacitan (Jawa Timur), dan Sitiung (Sumatera Barat). Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok lengkap dengan empat ulangan. Varietas-varietas Limboto, Batutegi, dan Situ Patenggang. ditanan sebagai pembanding. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi galur harapan padi yang mampu beradaptasi baik di lahan kering, berdaya hasil tinggi, dan memiliki mutu beras yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur harapan TB490B-TB-14-3 memberikan hasil yang lebih tinggi dari semua varietas pembanding di 5 lingkungan, Blora, Indramayu, Pacitan, Pekalongan, dan Sukabumi, diikuti oleh galur B11338F-TB-26 di tiga lingkungan, Banjarnegara, Pacitan, dan Sukabumi: galur IR30176-B-2-R-1 di dua lingkungan Pacitan dan Sitiung, dan galur TB409C-TB-1-2-1 dan TB4960 TB-1-21-MR-1-1 di dua lingkungan, Indramayu dan Sitiung. Sembilan dari 17 galur harapan yang diuji menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari hasil padi yang biasa ditanam di 8 lokasi tersebut di atas. Galur-galur tersebut adalah B11338F-TB-26, B11577E-MR-12-1-1B11577E-MR-B-13-1-1-5-5, BP702C-Si-5-1-12, B11577E-MR-12-1, IR30176-B-2-R-1, TB490C-TB-14-3, TB490C-TB-1-2-1, dan TB490C-TB-1-21-MR-1-1. Hasil tertinggi sebesar 6,18 t/ha dicapai olch galur B11338F-TB-26 di Banjarnegara, diikuti oleh galur IR30176-B-2-R-1 sebesar 6,15 t/ha di Sitiung. Pada pengujian ini terdapat 8 galur yang memiliki mutu beras baik. Galur B11338F-TB-26 memiliki rendemen beras kepala 84% dengan tekstur nasi yang pulen, galur B11580-MR-7-1-1 memiliki sifat beras yang aromatik, sedangkan galur BP19768-2-3-7-T8-1-1 memiliki rendemen beras kepala tertinggi (94%) dan memiliki rasa nasi sedang.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Uji Daya Hasil Galur Padi Di Rawa Lebak Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Suparwoto; Waluyo; Supartopo; A.Rumanti, Indrastut; Suwarno; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
    Penelitian ini kerjasama Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi dengan BPTP Sumatera Selatan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan beberapa galur calon varietas yang memiliki potensi hasil tinggi, berpenampilan baik, umur genjah sampai sedang dan adaptif pada lahan rawa lebak. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Kayuagung Desa Sidakersa Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan dimulai pada musim kemarau 2015. Galur/varietas yang diteliti sebanyak 29 galur dan 4 varietas sebagai pembanding. Penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan, luas petak 2 m x 5m, jarak tanam 25 cm x 25 cm, umur bibit 40 HSS, ditanam 2-3 bibit/rumpun. Pupuk yang digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 0 hari setelah tanam (HST) dengan takaran 75 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea/ha, diberikan secara disebar. Pemeliharan tanaman dilakukan secara intensif. Peubah yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, umur berbunga, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, dan hasil gabah kering giling/petak setelah dihilangkan satu baris pinggir. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa 21 galur yang terpilih mempunyai hasil antara 3 ton-5 ton GKG/ha ditanam pada keadaan kondisi kering adalah B13925E-KA-1, B13925E-KA-7, B13925E-KA-42, B13925E-KA-46, B13926E-KA-1, B13926EKA-13, B13926E-KA-23, B13926E-KA-26, dan B13131-4-MR-1-KA-7, B13926E-KA-44, B13926E-KA-49, B13952E-KA-5, B13957E-KA-11, B131328-MR-1-KA-21, B13134-4-MR-1-KA-1, B13136-6-MR-2-KA-2-1-7, B13573EKA-1-B, B13582E-KA-6-B, B13588E-KA-18-B lebih baik dari IR 42 (2,1 ton/ha), Inpara 4 (2,8 ton/ha dan Inpara 7 (2,9 ton/ha).

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback