Browsing by Author "Suryadi, Rudi"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemPENGARUH JUMLAH TUNAS DAN JUMLAH DAUN TERHADAP KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU METE (Anacardium occidentale) DI LAPANGAN(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2009) Suryadi, Rudi
- ItemPENGARUH SUKROSA DAN PENGERODONGAN TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU METE DI LAPANGAN PADA MUSIM KEMARAU(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Suryadi, Rudi
- ItemPengaruh Sukrosa dan Pengerodongan Terhadap Tingkat Keberhasilan Penyambungan Jambu Mete di Lapangan Pada Musim Kemarau(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Suryadi, RudiABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan teknik penyambungan jambu mete pada musim kemarau. Penelitian dilaksanakan di KP Cikampek, Jawa Barat, mulai Januari sampai Desember 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dengan 3 ulangan, dan ukuran petak 16 sambungan/perlakuan. Sebagai petak utama adalah perlakuan sukrosa, terdiri atas : A) tanpa sukrosa, B) pencelupan dengan sukrosa 0,2% selama 0,5 jam. Sebagai anak petak adalah perlakuan pengerodongan, terdiri atas : 1) pelepah pisang, 2) pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 3) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang, 4) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 5) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung ker tas koran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman batang atas (entres) ke dalam larutan 0,2% sukrosa selama 0,5 jam sebelum penyambungan yang diikuti pengerodongan dengan kero dong plastik tak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tak berwarna, menghasilkan persentase sambungan hidup, pertumbuhan tunas, dan jumlah daun tertinggi masing-masing 72,92%; 53,33 cm; dan 20,67 helai. Teknik penyambungan ini lebih sesuai kalau pelaksanaannya dilakukan pada musim kemarau.
- ItemPengaruh Sukrosa dan Pengerodongan Terhadap Tingkat Keberhasilan Penyambungan Jambu Mete di Lapangan Pada Musim Kemarau(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Suryadi, RudiABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan teknik penyambungan jambu mete pada musim kemarau. Penelitian dilaksanakan di KP Cikampek, Jawa Barat, mulai Januari sampai Desember 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dengan 3 ulangan, dan ukuran petak 16 sambungan/ perlakuan. Sebagai petak utama adalah perlakuan sukrosa, terdiri atas : A) tanpa sukrosa, B) pencelupan dengan sukrosa 0,2% selama 0,5 jam. Sebagai anak petak adalah perlakuan pengerodongan, terdiri atas : 1) pelepah pisang, 2) pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 3) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang, 4) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 5) kerudung plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung ker tas koran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman batang atas entres) ke dalam larutan 0,2% sukrosa selama 0,5 jam sebelum penyambungan yang diikuti pengerodongan dengan kero dong plastik tak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tak berwarna, menghasilkan persentase sambungan hidup, pertumbuhan tunas, dan jumlah daun tertinggi masing-masing 72,92%; 53,33 cm; dan 20,67 helai. Teknik penyambungan ini lebih sesuai kalau pelaksanaannya dilakukan pada musim kemarau.
- ItemPERUBAHAN KARAKTER FISIOLOGI DAN SENYAWA SEKUNDER JINTAN HITAM (Nigella sativa L.) DI INDONESIA : Warta balittro Vol. 33 No. 65 tahun 2016(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2016-06-01) Suryadi, RudiNigella sativa L. yang dikenal adalah tanaman obat yang berasal dari daerah Asia Barat dan Mediterania yang beriklim subtropis. Di daerah beriklim tropis tanaman jintan hitam mampu tumbuh sampai dengan memproduksi biji yaitu di Kebun Percobaan Manoko, Lembang, Jawa Barat, yang terletak pada ketinggian tempat 1.301,5 meter dpl, jenis tanah andisol, suhu dan kelembaban rata-rata 15-27° C dan 71-96%, dengan curah hujan 2.616 mm/tahun. Karakter fisiologi seperti, kehijauan daun, kerapatan stomata, klorofil a, klorofil b, dan total klorofil semakin meningkat seiring bertambahnya umur tanaman sampai 11 minggu setelah semai (MSS). Senyawa sekunder yang tertinggi pada asam lemak biji jintan hitam adalah asam lenoleat (36,00%), sedangkan pada minyak atsirinya adalah thymoquinone (0,063%). Jintan hitam yang tumbuh di Indonesia kandungan klorofilnya tidak jauh berbeda, bahkan ada yang lebih tinggi sedangkan thymoquinonenya 2-4 kali lebih rendah dan asam leoleatnya 1,5-1,9 kali lebih rendah dibandingkan dengan di iklim subtropis.