Browsing by Author "Surtikanti"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPenggerek Batang Padi dan Strategi Pengendaliannya di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Djafar Baco; M. Yasin; SurtikantiAda tiga spesies penggerek batang padi yang umum dijumpai di Sulawesi Selatan yaitu penggerek batang putih (Scirpophaga innotata), penggerek batang bergaris (Chilo suppressalis), dan penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens). Di antara ketiga spesies tersebut, penggerek batang padi putih merupakan spesies yang paling dominan. Larva penggerek batang padi putih ada yang mengalami diapause hanya sekitar dua bulan bahkan ada pula yang tidak mengalami diapause. Informasi ini sangat penting dalam hal peramalan maupun penentuan strategi pengendalian hama tersebut. Pola serangan dan dinamika populasi penggerek batang putih berbeda antara musim hujan dengan musim kemarau, sehingga memerlukan pengelolaan yang berbeda. Dari sejumlah varietas/galur padi yang diuji belum ada yang memiliki sifat ketahanan yang tinggi terhadap penggerek batang padi putih. Namun demikian, terdapat varietas yang memperlihatkan tingkat serangan yang relatif lebih baik dibanding varietas lainnya. Tanaman padi yang mengandung silika tinggi relatif tahan terhadap serangan penggerek batang. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian silika 20 kg/ha memberikan hasil sebanding dengan penggunaan Carbofuran 0,5 kg b.a/ha. Pemaduan dari komponen-komponen pengendalian yang telah ada dapat mengurangi, bahkan meniadakan, penggunaan insektisida.
- ItemPotensi Parasitoid Telur sebagai Pengendali Hama Penggerek Batang dan Penggerek Tongkol Jagung(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006) SurtikantiTrichogramma evanescens merupakan agensia hayati untuk pengendalian hama utama jagung yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan penggerek tongkol (Helicoverpa armigera). Perbanyakan T. evanescens dilakukan dengan mengguna- kan inang pengganti yaitu Corcyra cephalonica. Untuk mendapatkan hasil per- banyakan yang maksimal (90%) digunakan perbandingan 1 : 6 (satu ekor T. evanescens betina dan enam butir telur C. cephalonica). Kemampuan satu ekor T. evanescens betina untuk memarasit telur O. furnacalis sebanyak 100 butir dan C. cephalonica sebanyak 100 butir adalah 35% dan 43%. Hasil survey didapatkan bahwa telur penggerek batang jagung O. furnacalis di lapang sudah terparasit T. evanescens, parasitasi dapat mencapai 81% pada varietas Bisma di Takalar. Di laboratorium didapatkan pula bahwa T. evanescens dapat memarasit telur H. armigera sebanyak 92,3%. T. evanescens mempunyai harapan untuk dikembang- kan sebagai agensia hayati dalam pengendalian hama utama jagung yaitu O. furnacalis dan H. armigera. H ama penggerek batang dan penggerek tongkol pada jagung merupakan salah satu masalah penting dalam usaha produksi jagung di Indonesia. Usaha untuk melindunginya, mengembangkan serta meningkatkan efektivitas musuh alami terhadap hama tersebut perlu dilakukan. Penelitian biologi atau siklus hidup musuh alami yang berupa parasitoid telur (Tricho- gramma spp.) diharapkan dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai salah satu komponen penting dalam mendukung program nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Perbanyakan masal trichogramma di laboratorium, telah diaplikasikan guna membantu pengendalian hama penggerek tebu, seperti yang telah dilakukan oleh pabrik gula (PG) Takalar di Gowa. Musuh alami sebagai agensia pengendali alami merupakan salah satu komponen penting PHT, dan mempunyai peluang yang cukup baik untuk me- ngendalikan hama penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis) dan hama penggerek tongkol (Helicoverpa armigera).