Browsing by Author "Surmaini, Elza"
Now showing 1 - 9 of 9
Results Per Page
Sort Options
- ItemEmbung: Sumber Air Alternatif Untuk Peningkatan Produktivitas Lahan Kering(Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2004-10-01) Heryani, Nani; Sutrisno, Nono; Surmaini, Elza; Syahbuddin, Haris; SawiyoReservoir: Alternative of water resources to increase upland productivity. Watershed's patch capacity escalation by made reservoir could be diminishing runoff volume and enhancing of soil water content. The purposed of the research was enhanced water resources availability dan crops productivity in upland area. The research was conducted in Cianjur regency. In the initial step we bring about Rapid Rural Apraisal (RRA), besides that climate and soil resouces. All of the information were analysed by economic and crop water balance. The implementation of water balance analysis were conducted by field experiment on chili. The results of the experiment showed that chili plantation in the end of dry season or the early of rainy season (Oct. 2 and 9, 2003), on the early planting time indicated unsatisfied crop's growing. In the early planting date on Oct 2, 2003, the crops.had been suffered from water stress indicated by ETRIETM ratio bellow 0.65. The planting date of Oct. 2 and 9, 2003 showed relative yield lost about 7 and 1 %. Reservoir could be utilized as a source of suplement irrigation at dry season, and increased the planting area. Key words: water resources, suplement irrigation, land productivity
- ItemJurus Jitu Menyikapi Iklim Ekstrem El Niño dan La Niña untuk Pemantapan Ketahanan Pangan(IAARD Press, 2018-09-02) Sulaiman, Andi Amran; Agus, Fahmudin; Noor, Muhammad; Dariah, Ai; Irawan, Bambang; Surmaini, Elza; Balitbangtan
- ItemOptimasi Irigasi Untuk Menekan Kehilangan Hasil Tanaman Tebu(Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2004-10-01) Apriyana, Yayan; Surmaini, Elza; Jayanto, Ganjar; Irianto, GatotPenanaman yang dilakukan pada periode April sampai September di sub DAS Way Pengubuan PT Gunung Madu Plantations menyebabkan defisit air pada fase kritis tanaman tebu tidak dapat dihindari. Defisit air tersebut menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 50% yang dicirikan oleh nisbah Evapotranspirasi Real/Evapotranspirasi Maksimum (ETR/ETM) yang merosot tajam pada periode tertentu. Untuk melakukan evaluasi indeks kecukupan air dan untuk menghitung potensi kehilangan hasil tanaman, maka terlebih dahulu dihitung neraca air di zona perakaran berdasarkan nisbah ETR/ETM menurut FAO. Sedangkan untuk menyusun rekomendasi volume dan interval pemberian irigasi suplementer digunakan perangkat lunak program Crop Water Balance (CWB). Berdasarkan data volume dan interval pemberiaan air irigasi tersebut, maka kebutuhan air irigasi suplementer tiap-tiap lebung bisa dihitung. Untuk optimasi kebutuhan air irigasi suplementer dalam kondisi air terbatas dilakukan berdasarkan kehilangan hasil terendah. Hasil optimasi pemberian air irigasi suplementer untuk berbagai masa tanam pada kondisi ketersediaan air yang terbatas menunjukkan bahwa persentase air irigasi suplementer yang dapat diberikan dibandingkan dengan kebutuhannya (rekomendasi) bervariasi dari 26-47% (terendah terjadi di lebung IX) sampai 90-100% (tertinggi terjadi di lebung II). Dengan jumlah irigasi yang diberikan tersebut kehilangan hasil minimum yang dapat dicapai sekitar 11-25%. Jumlah irigasi yang optimal berkisar 10-25 mm dengan interval 10 hari. Kata Kunci : tebu, kehilangan hasil, optimasi irigasi
- ItemPedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Rejekiningrum, Popi; Las, Irsal; Amien, Istiqlal; Pujilestari, Nurwindah; Estiningtyas, Woro; Surmaini, Elza; Suciantini; Sarvina, Yeli; Pramudia, Aris; Kartiwa, Budi; Muharsini, Sri; Sudarmaji; Hardiyanto; Hermanto, Catur; Putranto, Gatot Ari; Marbun, OswaldDengan sifat iklim yang dinamis, variabilitas dan perubahan iklim merupakan suatu keniscayaan yang mesti dan telah mulai terjadi di beberapa tempat. Namun karena pemanasan global akibat berbagai aktivitas manusia mempercepat dinamika dan perubahan iklim yang terjadi secara alami. Perubahan iklim berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan dan aktivitas manusia. Walaupun ikut berkontribusi sebagai penyebab, sektor pertanian merupakan korban dan paling rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim, terutama Ketahanan Pangan Nasional. Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan nasional terjadi secara runtut, mulai dari pengaruh negatif terhadap sumberdaya (lahan dan air), infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui produktivitas, luas tanam dan panen. Petani juga memiliki sumberdaya yang lebih terbatas untuk dapat beradaptasi pada perubahan iklim. Berdasarkan konsekuensi dan dampak dari perubahan iklim tersebut, diperlukan arah dan strategi antisipasi dan penyiapan program aksi adaptasi dengan dukungan teknologi inovatif dan adaptif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu suatu panduan atau pedoman umum, baik dalam rangka antisipasi untuk menyiapkan strategi dan program adaptasi maupun dalam rangka pelaksanaan atau aksi adaptasi. Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian ini menguraikan beberapa dampak perubahan iklim pada masing-masing sub sektor, arah dan strategi serta program aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor pertanian. Pedoman umum adaptasi perubahan iklim sektor pertanian diharapkan menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program dan petunjuk operasional terkait upaya adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.
- ItemPedoman Umum Inventori Gas Rumah Kaca dan Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Setyanto, Prihasto; Susanti, Emi; Las, Irsal; Amien, Istiqlal; Makarim, A. K.; Nursyamsi, Dedy; Rubiyo; Anwar, Khairil; Widarto, Heru Tri; Rejekiningrum, Popi; Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Pujilestari, Nurwindah; Sutarya, Rakhmat; Harmanto; Miranti; Hamdani, Adang; Sukarman; Wahyunto; Thalib, Amlius; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
- ItemPeta Prediksi Tanam dan Kebutuhan Air Komoditas Strategis Perkebunan(Direktorat Jenderal Perkebunan, 2019) Subagyono, Kasdi; Dikin, Antarjo; Gunadi, Dudi; Harmanto; Apriyana, Yayan; Surmaini, Elza; Pramudia, Aris; Syahbuddin, Haris; Ripaldi, Adi; Nugroho, Anindito Adi; Misnawati; Firda, Dariin; Ronal, Muhamad; Agustian, Moh; Las, Irsal; Maya, Deden Indra Teja; Widarto, Heru Tri; Arsiah; Sukanadi, Ketut Ayu; Rulianti, Ebi; Direktorat Jenderal PerkebunanAir merupakan salah satu faktor penting dalam usaha meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman perkebunan. Salah satu kendala dalam usaha peningkatan produksi dan produktivitas perkebunan yaitu kekurangan air terutama pada saat musim kemarau. Untuk mengurangi risiko kegagalan panen akibat kondisi tersebut, perlu disusun informasi mengenai prediksi tanam dan kebutuhan air terutama pada wilayah-wilayah pengembangan komoditas strategis perkebunan. Informasi tersebut selanjutnya akan menjadi pedoman dalam menentukan jadwal tanam yang tepat, melakukan antisipasi kekurangan air terutama apabila penanaman dilakukan di luar musim (off season). Sehubungan dengan kebutuhan akan informasi-informasi tersebut, maka disusunlah Buku Peta Prediksi Tanam dan Kebutuhan Air Komoditas Strategis Perkebunan yang merupakan kerjasama antara Direktorat Jenderal Perkebunan dengan Balai Agro Klimat dan Hidrologi ± Badan Litbang Pertanian, mencakup informasi mengenai tentang prediksi tanam dan kebutuhan air untuk 10 komoditas strategis perkebunan (Lada, Pala, Cengkeh, Tebu, Kelapa Dalam, Kelapa Sawit, Karet, Kakao, Kopi dan Teh) pada provinsi pelaksana kegiatan pengembangan komoditas perkebunan tahun anggaran 2019
- ItemPetunjuk Teknis Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015) Kartiwa, Budi; Heryani, Nani; Rejekiningrum, Popi; Susanti, Erni; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Haryono; Sosiawan, Hendri; Sutrisno, Nono; Hamdani, Adang; Talaohu, Sidik Hadi; Sudarman, Kurmen; Pramudia, Aris; Apriyana, Yayan; Surmaini, Elza; Husen, Edi; Syahbuddin, Haris; Nursyamsi, DediPetunjuk teknis (Juknis) Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer merupakan pedoman bagi: (1) koordinator POPT Kabupaten (Dinas Pertanian), (2) Danramil wilayah kekeringan (KODIM), (3) koordinator Liaison Officer (LO) Upaya Khusus (UPSUS) BPTP, di 14 provinsi yang terkena kekeringan, serta (4) beberapa eselon 2 dan 3 Balitbangtan, (5) Eselon 2 dan 3 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, (6) eselon 2 dan 3 Ditjen Tanaman Pangan, dan (7) Tim kekeringan Kementerian Pertanian. Juknis Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer terdiri atas: (1) pendahuluan, (2) jenis-jenis sumber dan bangunan air, (3) identifikasi sumber dan bangunan air eksisting, (4) identifikasi dan pengembangan sumber dan bangunan air baru, (5) perawatan sumber dan bangunan air, dan (6) pelaporan hasil
- ItemRoad Map Strategi Sektor Pertanian Menghadapi Perubahan Iklim(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Las, Irsal; Runtuwutu, Eleonora; Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Amien, Istiqlal; Rejekiningrum, Popi; Pujilestari, Nurwindah; Unadi, Astu; Agus, Fahmudin; Susanti, Erni; Syahbuddin, Haris; Makarim, A.K; Irawan; Suwandi; Mudiarsa, Ketut G.; Wijayanti, Ari; Sutrisno, Nono; Noble, Pither; Wahyunto; Thalib, Amlius; Hamdani, Adang; HaryonoPerubahan iklim telah dan akan mengancam hampir semua lini kehidupan di muka bumi. Peningkatan suhu udara, kekeringan, banjir, dan badai topan adalah dampak langsung dari perubahan iklim. Fenomena alam ini telah terjadi di berbagai belahan dunia dan menimbulkan kerugian besar, termasuk penurunan produksi pertanian. Sektor pertanian paling peka terhadap perubahan iklim yang mengubah sistem produksi dan pola tanam. Di sisi lain, pertanian berperan penting dalam kehidupan umat manusia, baik sebagai sumber pangan maupun industri yang menggerakkan roda perekonomian. Meski peka terhadap iklim, sektor pertanian potensial dalam hal mitigasi. Indonesia dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia dan terus meningkat dari tahun ke tahun dituntut untuk mampu menyediakan pangan bagi semua lapisan masyarakat. Di sisi lain, dinamika pembangunan nasional berdampak terhadap konversi lahan pertanian dan sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini merupakan tantangan yang perlu dicarikan jalan keluarnya.
- ItemStrategi Optimalisasi MH 2006/2007 untuk Sentra Produksi Pertanian di Jawa Barat(Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2006-10-01) Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro; Amien, IstiqlalKondisi iklim di Jawa Barat digambarkan oleh lima stasiun iklim pewakil yaitu Cimanggu (Bogor) untuk mewakili gambaran kondisi iklim wilayah bagian barat, Pacet (Cianjur) untuk mewakili daerah dataran tinggi, Sukamandi dan Pusakanegara (Subang) mewakili wilayah Pantura, dan Kuningan mewakili wilayah bagian timur. Curah hujan dan anomalinya periode Maret-Agustus 2006.