Browsing by Author "Suprapto"
Now showing 1 - 9 of 9
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisa Usaha Pengkajian Teknologi Budidaya Ternak Kambing di Desa Suka Marga Kabupaten Lampung Utara(BPTP Jambi, 2008) Silalahi, Marsudin; Suprapto; BPTP JambiAnalisa usaha pengkajian teknologi budidaya ternak kambing yang terintegrasi dengan tanaman lada ramah lingkungan telah dilakukan didaerah ekosistem lahan kering dataran rendah di sentra pertanaman lada, di Desa Sukamarga Lampung Utara. Pengkajian ini dilakukan Januari 2002 hingga Desember 2003 paket teknologi yang dikaji terdiri dari tiga model yaitu : model 1(teknologi BPTP) yaitu persilangan induk dan pejantan Peranakan Ettawa, diberi pakan tambahan mineral blok, hijauan pakan ternak A. pintoi, glirisidia dan rumput lapangan ; Model 2 (teknologi petani yang diperbaiki) yaitu induk kambing kacang disilangkan dengan pejantan PE diberi pakan tambahan mineral blok dan hijauan pakan ternak A.pintoi, glirisidia dan rumput lapangan dan model 3 teknologi cara petani (pembanding) yaitu persilangan induk dan pejantan kambing kacang, hijauan pakan ternak ramput lapangan dan limbah pertanian tidak biberi pakan tambahan mineral blok.
- ItemKemungkinan Pengendalian Penggerek Batang Lada dengan Parasitoid Spatihus Piperis Wilk. (Hymenoptera: Braconidae)(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1990) SupraptoPenelitian biologi dan parasitasi parasitoid S. piperis sebagai salah satu usaha kemungkinan pengendalian hama penggerek batang (L. piperis) dengan menggunakan parasitoid telah dilakukan di Lampung. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di lapang untuk mengenal beberapa sifat biologi dan tingkat parasitasi parasitoid.
- ItemPreferensi Hama Aphis SP. Terhadap Beberapa Varietas Lada(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1990-10) SupraptoPreferensi hama Aphis sp. pada beberapa varietas lada telah diteliti di Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar, Lampung pada tahun 1989. Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui preferensi Aphis sp. terhadap beberapa varietas lada. Pengujian kesesuaian dan preferensi dilakukan dengan menginfestasikan serangga pada varietas- varietas Belantung, Kerinci, Jambi, LDL, Kalluvally dan Paniyur dalam keadaan dapat memilih dan tanpa dapat memilih inang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aphis sp. dapat bertahan hidup pada varietas lada Belantung, Kerinci, LDL, Jambi, Kalluvally dan Panniyur. Di antara varietas lada tersebut yang paling disukai Aphis sp. adalah varietas LDL, dan Kalluvally. Pada kedua varietas tersebut rata-rata daur hidup 5.65 hari, kemampuan reproduksi 42.15 ekor tiap induk keberhasilan hidup nimfa sampai dewasa 74%, sedangkan salah satu varietas lada yang tidak disukai adalah varietas Panniyur. Pada varietas tersebut rata-rata daur hidup 7.25 hari, reproduksi 9.50 ekor tiap induk, keberhasilan nimfa sampai dewasa 31.25%.
- ItemProgram Pengembangan Perkebunan Dalam Rangka Revitalisasi Pertanian Di Provinsi Jambi(BPTPJambi, 2006) Suprapto; BPTP JambiRevitalisasi pembangunan pertanian menyangkut pada 7 butir program yaitu (1) Meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup petani dan rumah tangga petani, (2) meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya produktif dan permodalan, (3) meningkatkan produktivitas dan kwalitas petani dan pertanian, (4) mengembangkan diversivikasi aktifitas ekonomi pedesaan (5) mengembangkan industrialisasi pedesaan,(6) melaksanakan reformasi agrariaan, dan (7) membangun infrastruktur pertanian dan pedesaan.
- ItemRespon Biologi Penggerek Batang Pada Beberapa Varietas Lada(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1988-07) SupraptoPenelitian respon biologi penggerek batang (Lophobaris piperis March.) pada beberapa varietas lada telah dilakukan di Sub Balittro Natar tahun 1987-1988. Dalam penelitian ini dipelajari kesesuaian penggerek batang pada 30 varietas lada. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggerek batang (L. piperis) makan dan meletakkan telur pada ke-30 varietas lada yang diuji. Pada tiap varietas kumbang dewasa makan antara 0.02-0.73 g tiap hari. Telur diletakkan 3-8 butir selama 60 hari, daya tetas telur 88.24-100%, larva berkepom- pong 56.25-100%. Kepompong yang berhasil menjadi kum- bang dewasa 100% dan umur telur sampai dengan munculnya kumbang dewasa berkisar 48-88 hari. Di antara 30 varietas lada tersebut yang kurang disukai penggerek batang lada adalah varietas Sedeng Jakarta, Bangka, gka, Pulau Laut A, Jambi Bengkulen, Jambi 1 Natar, Bulok Belantung Bogor, Lampung Daun Lebar dan TPN 13 Bangka.
- ItemRisalah Hasil Pengkajian Inovasi Hortikultura di Jawa Tengah(BPTP Jateng, 2011) Prayudi, Bambang; Hermawan, Agus; Pramono, Joko; Hadi Subroto, Isom; Suprapto; BPTP JatengPengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH) merupakan salah satu implemen tasi program pengembangan hortikultura dalam Kementerian Pertanian. Bentuk dukungan PKAH dilakukan melalui upaya peningkatan daya saing dan dukungan inovasi di segala aspek usahatani dari hulu ke hilir dalam konsep sistem agribisnis. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah sesuai dengan tupoksinya, sangat relevan mendukung pengembangan hortikultura, terutama dalam penyediaan inovasi teknologi dan aspek penerapan budidaya pertanian yang baik Good Agriculture Practices (GAP) dan standar operasional prosedur (SOP).
- ItemSalak Bali dan Pembudidayaannya(Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar, 1998) Guntoro, Suprio; Rahayu, Luh Riniti; SupraptoBali dikenal kaya dengan berbagai jenis flora maupun fauna, dan beberapa diantaranya bersifat endemik. Diantara jenis tanaman endemik/ khas Bali adalah Salak Bali. Salak Bali terkenal karena memiliki rasa yang khas, daging buah tebal, rasanya manis dengan sedikit masam dan masir. Salak Bali, diperkirakan berasal dari Desa Sibetan sebuah desa di Kecamatan Bebandem, Karangasem yang memiliki ketinggian sekitar 500 - 600 meter di atas permukaan laut, merupakan daerah lahan kering beriklim basah dengan jenis tanah yang dominan laterit. Kini Salak Bali di Karangasem telah berkembang di 4 (empat) kecamatan yakni Kecamatan Bebandem, Selat, Sidemen dan Rendang dengan populasi tanaman sekitar 8.100.000 pohon. Bahkan saat ini Salak Bali telah berkembang pula di beberapa kabupaten di luar Karangasem, seperti di Kabupaten Gianyar, Bangli, Badung, Tabanan dan Buleleng. Namun salak asal Sibetan Karangasem tetap merupakan primadona karena rasa buahnya yang sulit disamai oleh salak lain.
- ItemTeknologi Budidaya Lada(Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2008) Suprapto; Yani, AlviTanaman lada (Piper nigrum L) adalah tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat mulai berbuah pada umur tanaman berkisar antara 2-3 tahun. Di Lampung komoditas ini banyak diusahakan petani dalam bentuk perkebunan kecil yang diusahakan secara turun temurun dengan padat tenaga kerja. Produktivitas kebun lada rakyat di Lampung masih tergolong rendah yaitu rata-rata 591 kg/ha, dibanding produktivitas nasional yang mencapai 800 kg/ha. Pengembangan lada di Lampung diarahkan untuk menghasilkan lada hitam yang dikenal di pasaran dunia dengan nama “Lampong Black Pepper “. Lampung telah dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil lada hitam di Indonesia. Produktivitas tanaman lada masih berpotensi dapat ditingkatkan dengan melalui penerapan teknologi budidaya mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang baik.
- ItemTeknologi Budidaya Pisang(Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 2008) Mulyanti, Nina; Suprapto; Hendra, JekvyDi Indonesia, pisang menduduki tempat pertama di antara jenis buah-buahan lainnya, baik dari segi sebaran, luas pertanamannya maupun dari segi produksinya. Total produksi pisang Indonesia tahun 2006 sekitar 5.037.472 ton dan Lampung menyumbang 535.732 ton, atau 10,6% dari produksi pisang nasional. Namun demikian secara umum produktivitas pisang yang dikembangkan masyarakat masih sangat rendah, seperti di Lampung produktivitas pisang hanya 10-15 ton/ha, padahal potensi produktivitasnya bisa mencapai 35-40 ton/ha. Kesenjangan produktivitas tersebut terutama disebabkan teknik budidaya tidak tepat dan tingginya gangguan hama dan penyakit terutama oleh serangan dua penyakit paling berbahaya dan mematikan, yaitu penyakit layu bakteri atau penyakit darah dan penyakit layu Fusarium.