Browsing by Author "Sudaryono"
Now showing 1 - 8 of 8
Results Per Page
Sort Options
- ItemKarakteristik Sifat Kimia dan Fisika Tanah Alfisol di Jawa Timur dan Jawa Tengah(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) Andy Wijanarko; Sudaryono; SutarnoPemanfaatan tanah dalam jangka waktu yang lama tanpa teknik pengawetan, dapat menyebabkan penurunan kesuburan kimiawi dan fisik tanah, sehingga produktivitasnya rendah. Alfisol umumnya berada pada kondisi geografis dan agroklimat yang mendorong untuk menjadi tanah marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat kimia dan fisika tanah Alfisol di tujuh lokasi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah Alfisol yang diamati bereaksi dari masam hingga netral, dengan kandungan C- organik rendah, P-tersedia dari sangat rendah hingga sedang, K-dd dari rendah hingga tinggi, Ca-dd dari sedang hingga sangat tinggi, Mg-dd dari sedang hingga tinggi, KTK dari sedang hingga sangat tinggi dan unsur mikro (Fe dan Zn) yang tinggi. Warna tanah Alfisol yang diamati adalah coklat kemerahan hingga merah gelap, kekuatan tanah yang relatif rendah yaitu kurang dari 3,75 kg F/cm2, struktur tanah dari butir hingga tiang dan tekstur tanah dari lempung liat berpasir hingga liat
- ItemKontribusi Ilmu Tanah dalam Mendorong Pengembangan Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2005) Sudaryono; Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianKendala produksi pertanian tanaman kacang tanah secara garis besar dikelompokkan ke dalam lima macam, yaitu (1) biofisik, (2) teknis, (3) sosial, (4) ekonomi, dan (5) kebijakan. Kendala biofisik menyangkut masalah lahan atau jenis tanah, pola tanam, dan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT). Ragam jenis tanah menunjukkan ragam karakteristik tanah yang sekaligus mencerminkan ragam kendala dan tingkat produktivitas kacang tanah. Ragam jenis lahan atau agroekologi mencerminkan ragam dinamika gangguan OPT, serta ragam pola tanam. Pola tanam lebih ditentukan oleh neraca air musiman atau secara umum ragam iklim suatu wilayah.
- ItemPanduan Teknis Budidaya Kedelai di Berbagai Kawasan Agroekosistem(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2015) Mejaya, Made Jana; Harnowo, Didik; Marwoto; Subandi; Sudaryono; Adie, M. MuchlishSalah satu program Kementerian Pertanian pada periode tahun 2015-2019 adalah peningkatan produksi kedelai menuju Swasembada. Program peningkatan produksi kedelai di lakukan dengan peningkatan produktivitas dan perluasan areal melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) dan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Sasaran perluasan areal yang potensial adalah di agroekosistem lahan sawah, lahan kering/kering masam, lahan rawa lebak dan lahan pasang surut. Dalam kaitannya peningkatan produksi kedelai telah di susun dan dilaksanakan melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu.
- ItemPedoman Umum PTT Kedelai(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2016) Marwoto; Subandi; Adisarwanto, T.; Sudaryono; Kasno, Astanto; Hardaningsih, Sri; Setyorini, Diah; Adie, M. MuchlishHingga saat ini kebutuhan kedelai nasional sebagian masih harus dipenuhi dari impor karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat. Kedelai banyak digunakan untuk industri pangan, antara lain tahu dan tempe yang telah menjadi menu utama masyarakat. Untuk menekan volume impor yang terus membengkak diperlukan upaya percepatan peningkatan produksi kedelai. Belajar dari pengalaman dalam penerapan inovasi teknologi padi sawah dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Badan Litbang Pertanian mengembangkan PTT kedelai untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta menjaga kelestarian lingkungan.
- ItemPenanganan Pascapanen Ubi Jalar(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Setyono; Yetty Setiawati,; SudaryonoUbi jalar (Ipomoea batatas L.) potensial sebagai bahan pangan dan bahan baku industri sehingga penanganan setelah panen perlu mendapat perhatian. Penyimpanan umbi dalam tumpukan jerami lembab cukup baik karena rendahnya tingkat kerusakan, tetapi umbi sebagian besar (90%) bertunas. Ubi jalar segar dapat diolah menjadi berbagai jenis produk olahan, seperti ceriping, keremes, saos, dan selai. Sebagian industri pangan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku saos. Selai campuran ubi jalar dan nenas, bermutu baik apabila pembuatannya dilakukan dengan cara yang tepat. Penggunaan larutan Ca(OH)2 0,5% dalam pembuatan chip ubi jalar menghasilkan chip yang bermutu, yang selanjutnya dapat diolah menjadi tepung. Tepung ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis kue, roti, cake, mi, dan makanan lainnya. Ditinjau dari ragam penggunaannya, ubi jalar mempunyai prospek yang baik dalam kaitannya dengan pengembangan agroindustri di pedesaan.
- ItemPengelolaan Lahan Kering Masam untuk Budi Daya Kedelai(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009-12-16) SudaryonoLahan kering masam Ultisol yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi tumpuan pengembangan kedelai. Kondisi lahan kering Ultisol harus diperbaiki agar memiliki tingkat kesesuaian dan kesuburan yang layak untuk pengembangan kedelai. Inti masalah pada tanah Ultisol adalah: (1) Al yang dapat dipertukarkan (Aldd) dan kejenuhan Al tanah tinggi sehingga menjadi racun dan menghambat ketersediaan P karena fiksasi (Al-P) sehingga P tidak tersedia untuk tanaman; (2) kadar besi (Fe) tinggi, potensial menjadi racun dan memfiksasi P (Fe-P) sehingga ketersediaan P rendah tersedia; (3) kadar bahan organik umumnya rendah, menyebabkan daya sangga (buffering capacity) tanah rendah. Tanaman kedelai tidak dapat tumbuh optimal pada Ultisol yang memiliki kemasaman tinggi (pH tanah < 4,5) dan kejenuhan Aldd > 20%. Untuk pemecahan masalah keracunan Al dan Fe pada Ultisol umumnya memakai amelioran tanah dengan bahan baku mineral seperti kapur pertanian (kalsit atau CaCO3, kapur tohor atau CaOH), dolomit maupun zeolit. Detoksifikasi Al dan Fe pada Ultisol dengan pupuk organik belum banyak dikerjakan sehingga membuka topik penelitian selanjutnya. Penggunaan pupuk organik, khususnya limbah pabrik tapioka dan pupuk kandang terfermentasi, memiliki arti penting untuk budi daya kedelai di lahan kering masam. Kesuburan tanah ideal untuk lahan kering masam dapat diwujudkan melalui tindakan manipulatif pengelolaan lahan, baik bersifat fisik-mekanik, maupun kimia, hayati, dan konservasi. Tindakan praktis yang disarankan adalah (1) perbaikan kesuburan fisik melalui penyiapan lahan untuk mencapai kondisi solum tanah cukup dalam (40-50 cm), struktur tanah gembur, daya simpan lengas meningkat, (2) perbaikan kesuburan kimia melalui ameliorasi tanah (zeolit, dolomit, kapur, amelioran organik), pemupukan organik dan anorganik (NPK, dan hara mikro), (3) perbaikan kesuburan hayati dengan pupuk hayati yang mengandung mikroba tanah terutama bakteri pelarut fosfat, mikoriza, dan bakteri penambat N nonsimbiotik, dan (4) pengaturan pola tanam atau rotasi tanaman yang lebih produktif.
- ItemTeknologi Budi Daya Jagung untuk Lahan Kering di Jawa Timur(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sudaryono; A. Taufiq; S. PrayitnoUntuk mendukung program intensifikasi jagung di Jawa Timur telah tersedia paket teknologi spesifik lokasi. Paket teknologi budi daya jagung pada prinsipnya dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu (1) komponen teknologi yang secara nisbi dapat bersifat umum (varietas, kerapatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, dan pascapanen), dan (2) komponen teknologi spesifik lokasi (pengolahan tanah, pemupukan). Populasi optimal tanaman untuk varietas unggul Arjuna, Rama, Hibrida CPI-1, Semar-1 dan Semar-2 adalah sekitar 60.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 80 x 40 cm, dengan dua tanaman/lubang, atau jarak tanaт 80 x 20 cm dengan satu tanaman/lubang. Hama lalat bibit dan penggerek pucuk/daun dapat dikendalikan dengan insektisida karbofuran (Furadan 3G dengan takaran 5-10 kg/ha). Perlakuan benih dengan pestisida metalaxyl (5 g Ridomil/kg benih) dapat mencegah perkembangan penyakit bulai. Cara dan bentuk pengolahan tanah mengacu pada jenis tanah. Untuk tanah berat (lempung), pengolahan tanah perlu dilakukan agar perakaran tanaman dapat berkembang dengan baik. Paket teknologi budi daya jagung dapat disusun berdasarkan spesifikasi lokasi sebagai satuan wilayah rekomendasi. Berdasarkan ketinggian dari muka laut, tipe agroekologi tegalan dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu: (1) ketinggian 0-300 m dpl., (2) ketinggian 300-600 m, dan (3) ketinggian 600 m dpl. Di samping ketinggian tempat, rekomendasi paket teknologi budi daya spesifik lokasi perlu mempertimbangkan ragam jenis tanah dan kondisi iklim setempat.
- ItemTransformasi Sistem Produksi Tanaman Pangan Menjadi Tanaman Tahunan di Lahan Kering: Ancaman bagi Keamanan Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2011-12-15) Sudaryono; P. C. HastutiProporsi dan pengelolaan sistem produksi tanaman semusim dan tanaman tahunan pada lahan kering suboptimal menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dalam pasokan produksi tahunan. Alih fungsi lahan kering dari pertanian pangan menjadi nonpertanian dan atau ke pertanian lain perlu dicermati berkaitan dengan jaminan keamanan pangan nasional. Lahan kering di Lampung umumnya tergolong suboptimal dan memiliki kendala kelestarian, khususnya dari aspek bahan induk tanah yang miskin hara, erodibilitas tinggi, curah hujan tinggi, berlereng, perkolasi dakhil (internal) cepat, dan daya dukung rendah. Lahan kering suboptimal akan cepat merosot kemampuannya bilamana sistem pengelolaan lahan tidak bijaksana. Pengelolaan lahan dan tanaman dengan pola pergiliran tanaman secara intensif dan membiarkan permukaan tanah kurang terlindungi, pengaturan aliran air permukaan tidak teratur, dan miskin tindakan 184 Iptek Tanaman Pangan Vol. 6 No. 2 - 2011 konservasi lahan akan menyebabkan tanah menjadi cepat rusak. Sistem usahatani tanaman semusim (umur < 4 bulan panen) memiliki sistem perakaran di permukaan tanah