Browsing by Author "Sudarmaji"
Now showing 1 - 8 of 8
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfektivitas Ekstrak Biji Jarak (Ricinus Communis) Sebagai Bahan Antifertilitas Nabati Tikus Sawah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Sudarmaji; N.A. Herawati; A.W. AnggaraAbstract Effectiveness of Castor (Ricinus communis) Extract as an Antifertility Agent on Rice Field Rat. An experiment to study the effect of castor extract on the rice field rat (Rattus argentiventer) reproduction has been conducted in ICRR rodent laboratory in 2006. The experiment was arranged in a completely randomized design with 10 replicates. Treatments were five rates of castor extract of 2; 1.6; 1.2; 0.8; 0.4 ml/100 g body weight/day. The check was aquabidest at the rate of 2 ml/100 g body weight/day given at 5 consecutive days to the rats. The castor extract was given orally using one ways single dose method. After treatment, the rats were kept individually in a single cage for 14 days then were kept together with the non-treated rats in single cage for 7 days to let the couples cross-mated, then each female rat was kept for 21 days to monitor its pregnancy. They were killed afterward to obtain their reproductive organs. The data collected were the body weight (before and after treatment); pregnancy; number of embryos; ovary weight; testes weight; and sperm concentration. Results of the experiment indicated that castor extract given at the dose of 2 ml/100 g body weight/day for 5 consecutive days, led to infertility of the female. The castor extracts also decreased the number of active sperm of about 64.2-90.7%. Abstrak Percobaan untuk mempelajari pengaruh ekstrak biji jarak sebagai antifertilitas nabati terhadap tikus sawah (Rattus argentiventer) telah dilakukan di Laboratorium Tikus, Balai Besar Peneltiian Tanaman Padi pada tahun 2006. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 10 ulangan (5 jantan dan 5 betina). Perlakuan terdiri atas 5 dosis ekstrak biji jarak, yaitu 2 ml, 1.6 ml, 1,2 ml, 0,8 ml, dan turut selama 5 hari. Pemberian ekstrak biji jarak dilakukan secara oral dengan metode dosis tunggal. Setelah perlakuan, hewan uji dipelihara selama 14 hari, kemudian masing-masing dikawinkan dalam satu kandang dengan tikus non-perlakuan selama 7 hari, dan setelah itu dipisahkan lagi. Masing-masing hewan uji dipelihara selama 21 hari untuk menunggu kebuntingan dan dilakukan pembedahan organ reproduksi. Pengamatan meliputi berat badan tikus sebelum dan sesudah perlakuan, kebuntingan, jumlah embrio, berat ovarium, berat testis, dan konsentrasi sperma. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dosis ekstrak biji jarak 2 ml/100 g bb/hari selama 5 hari berturut-turut, menyebabkan kemandulan atau tidak terjadi kebuntingan pada tikus sawah betina. Ekstrak biji jarak juga menurunkan 64,2-90,7% jumlah sperma aktif tikus jantan.
- ItemInovasi teknologi pengendalian hama tikus terpadu berbasis bioekologi untuk pengamanan produksi padi nasional(IAARD Press, 2019-01-02) Sudarmaji; Balitbangtan
- ItemKesesuaian Penempatan Tanaman Perangkap Trap Barrier System Pada Ekosistem(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Anggara, Agus W.; SudarmajiAbstract Suitability of Placement of Trap Barrier System (TBS) in Irrigated Rice Ecosystem. Basical mechanism work of the TBS based on the attractiveness of rats to the rice crops at early the generative growth stages. For the effectiveness of the TBS, therefore, it is very important to select appropriate location for the correct placement of the TBS. An experiment to study the suitable rat habitats for TBS placement was conducted in two blocks of farmer's rice-field rat endemic area in Pabuaran Sub-district, Subang District, West Java Province during the dry season of 2005. In the site of study four TBS units of 15 m x 15 m in size were established near the rat habitats such as the irrigation canal, road bank, village border, and the center of rice field. The short-maturity rice variety, Dodokan, was planted as the trap crop at the same transplanting time with those at the surrounding farmer's crops, called as synchronous TBS. Results of the study indicated that by planting the Dodokan rice variety, provided the trap crops attracted the rats to come into the TBS and made the synchronous TBS became effective to capture rats, even though the population of rat during DS 2005, was low. Total rat captured were 52 rats consisted of 36 female and 16 males. The highest number of rats was those captured by the TBS located near the road habitat and the lowest was those captured by the TBS located at the center of the rice crops. It is recommended, therefore that to function effectively, the TBS should be located in irrigation channel, road bank, and the village border. Abstrak Prinsip TBS adalah ketertarikan tikus sawah terhadap tanaman padi, yang mencapai stadium generatif lebih dahulu. Tanaman perangkap, sebagai komponen TBS yang berfungsi sebagai penarik tikus, harus ditempatkan di lokasi yang paling tepat agar TBS mampu berfungsi efektif. Percobaan lapangan untuk mempelajari lokasi penempatan TBS yang paling sesuai untuk pengendalian ikus sawah telah dilakukan di dua dua hamparan sawah irrigasi endemik tikus di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada MK 2005. Pada setiap hamparan sawah, ditempatkan masing-masing 4 unit TBS berukuran 15 m x 15 m di dekat habitat tikus, yaitu di tanggul irigasi, di perbatasan kampung, di tanggul pematang besar, dan di tengah hamparan sawah. Tanaman padi berumur genjah (varietas Dodokan) sebagai perangkap, ditanam bersamaan dengan waktu tanam petani dan diharapkan agar tanaman varietas genjah tersebut mencapai stadium generatif lebih dulu dari tanaman sekitar milik petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat penelitian berlangsung populasi tikus sangat rendah. Selama 76 hari pengamatan, sebanyak 52 ekor tikus, terdiri atas 16 jantan dan 36 betina, mendatangi TBS dan tertangkap dalam bubu. Ini menunjukkan bahwa TBS mampu berfungsi untuk menarik tikus datang ke dalam TBS. Tikus mulai tertangkap ketika tanaman perangkap berumur 2 minggu dan paling banyak pada TBS yang ditempatkan di dekat pematang besar, sedangkan yang paling sediki adalah pada TBS di habitat tengah sawah. Berdasarkan hasil tersebut, agar TBS berfungsi efektif, direkomendasikan TBS sebaiknya ditempatkan di dekat tanggul irigasi, di tanggul jalan, dan di batas perkampungan.
- ItemOrasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Hama dan Penyakit Tanaman : Inovasi teknologi pengendalian hama tikus terpadu berbasis bioekologi untuk pengamanan produksi padi nasional(IAARD Press, 2019-01-02) Sudarmaji; Balitbangtan
- ItemPedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Rejekiningrum, Popi; Las, Irsal; Amien, Istiqlal; Pujilestari, Nurwindah; Estiningtyas, Woro; Surmaini, Elza; Suciantini; Sarvina, Yeli; Pramudia, Aris; Kartiwa, Budi; Muharsini, Sri; Sudarmaji; Hardiyanto; Hermanto, Catur; Putranto, Gatot Ari; Marbun, OswaldDengan sifat iklim yang dinamis, variabilitas dan perubahan iklim merupakan suatu keniscayaan yang mesti dan telah mulai terjadi di beberapa tempat. Namun karena pemanasan global akibat berbagai aktivitas manusia mempercepat dinamika dan perubahan iklim yang terjadi secara alami. Perubahan iklim berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan dan aktivitas manusia. Walaupun ikut berkontribusi sebagai penyebab, sektor pertanian merupakan korban dan paling rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim, terutama Ketahanan Pangan Nasional. Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan nasional terjadi secara runtut, mulai dari pengaruh negatif terhadap sumberdaya (lahan dan air), infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui produktivitas, luas tanam dan panen. Petani juga memiliki sumberdaya yang lebih terbatas untuk dapat beradaptasi pada perubahan iklim. Berdasarkan konsekuensi dan dampak dari perubahan iklim tersebut, diperlukan arah dan strategi antisipasi dan penyiapan program aksi adaptasi dengan dukungan teknologi inovatif dan adaptif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu suatu panduan atau pedoman umum, baik dalam rangka antisipasi untuk menyiapkan strategi dan program adaptasi maupun dalam rangka pelaksanaan atau aksi adaptasi. Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian ini menguraikan beberapa dampak perubahan iklim pada masing-masing sub sektor, arah dan strategi serta program aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor pertanian. Pedoman umum adaptasi perubahan iklim sektor pertanian diharapkan menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program dan petunjuk operasional terkait upaya adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.
- ItemPengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Lahan Rawa Pasang Surut(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007-12-15) Hamdan Pane; Suwarno; Bambang Kustianto; A. Karim Makarim; Sudarmaji; SutrisnoRapat koordinasi terbatas Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden RI di Departemen Pertanian pada awal Januari 2007 menghasilkan keputusan penting: target peningkatan produksi beras 2 juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5% per tahun hingga tahun 2009. Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut Departemen Pertanian meluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) untuk segera diimplementasikan. Salah satu hal penting dalam upaya pencapaian target peningkatan produksi tersebut adalah penerapan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah rawa pasang surut. Berbeda dengan program intensifikasi padi seperti Insus dan Supra Insus, PTT bukan teknologi atau bukan paket teknologi tetapi pendekatan dalam pemecahan masalah produksi di daerah setempat dengan menerapkan teknologi yang sesuai dan dipilih sendiri oleh petani dengan bantuan para penyuluh pertanian. Tujuan penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat dan yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman dalam penelitian jangka panjang dan pengembangan inovasi teknologi usąhatani padi pada lahan rawa pasang surut dan pengembangan PTT padi sawah irigasi di berbagai daerah. Buku petunjuk lapang ini diperuntukkan untuk dipedomani oleh para penyuluh pertanian dalam usaha meningkatkan produktivitas padi lahan pasang surut melalui pendekatan PTT. Buku ini juga diharapkan dapat pula dipakai sebagai pelengkap bahan pelatihan PTT padi lahan rawa pasang surut, baik yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) maupun Dinas Pertanian di daerah.
- ItemTikus Sawah(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2018-12-21) Sudarmaji; I Nyoman Widiarta; HermantoHingga saat ini tikus sawah Rattus argentiventer masih menjadi hama utama tanaman padi yang merupakan makanan pokok penduduk Indonesia. Kenyataan di lapang menunjukkan tingkat kerusakan tanaman padi akibat serangan tikus sawah bervariasi dari ringan sampai berat dan bahkan dapat menyebabkan puso atau gagal panen, bergantung pada populasinya di suatu wilayah. Dalam periode 2011-2015, serangan hama tikus pada tanaman padi di Indonesia rata-rata 161.000 ha per tahun. Angka ini setara dengan kehilangan 620 juta kg beras, cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan lebih dari 6 juta penduduk selama satu tahun. Di Asia Tenggara, kehilangan produksi padi akibat serangan tikus sawah diperkirakan mencapai 5-10% per tahun dan diperkirakan meningkat dalam beberapa dekade terakhir jika dikaitkan dengan upaya peningkatan indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua atau tiga kali tanam padi dalam satu tahun Tikus sawah juga menularkan berbagai penyakit yang berbahaya bagi manusia dan ternak, di antaranya leptospirosis. Di Indonesia, kasus leptospirosis sering terjadi dan di beberapa daerah merupakan kejadian luar biasa (KLB). Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah tropis, termasuk Indonesia. Penyebab leptospirosis adalah urin hewan terinfeksi Leptospira yang mencemari lingkungan. Gejala klinis penyakit ini sangat bervariasi dari ringan hingga berat, bahkan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, tikus sawah vi 2 perlu dikendalikan dengan seksama agar tidak menimbulkan kerugian, baik pada pertanaman padi maupun kesehatan manusia dan ternak. Upaya pengendalian hama tikus pada lahan sawah belum menunjukkan hasil yang optimal dan tidak konsisten karena masih banyak petani yang belum memahami cara pengendalian yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Penelitian tikus sawah dari berbagai aspek, terutama aspek biologi dan ekologi, berperan penting untuk dijadikan dasar dalam menetapkan strategi pengendalian hama tikus secara terpadu. Berdasarkan penelitian secara komprehensif dan dalam jangka panjang telah dihasilkan inovasi teknologi pengendalian tikus sawah pada pertanaman padi. Teknologi ini telah berkembang di beberapa sentra produksi padi dan telah menjadi bagian dari program nasional Pengendalian Hama Tikus secara Terpadu (PHTT). Dalam hal ini, perangkap bubu tikus atau Trap Barrier System (TBS) dan perangkap linear bubu tikus atau Linear Trap Barrier System (LTBS) adalah teknologi sentral dari strategi pengendalian tikus sawah secara terpadu, yang diintegrasikan dengan teknologi konvensional seperti tanam serempak, sanitasi habitat, gropyokan massal, fumigasi sarang tikus, penggunaan rodentisida secara benar, serta pelestariaan musuh alami tikus sawah Buku ini adalah sintesis informasi hasil penelitian hama tikus sawah berdasarkan biologi, ekologi, dan kaitannya dengan upaya pengendalian yang efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Semoga buku ini dapat menjadi salah satu acuan dalam upaya pengendalian hama tikus pada pertanaman padi
- ItemTikus Sawah: Bioekologi dan Pengendalian(IAARD Press, 2018) SudarmajiUpaya pengendalian hama tikus pada lahan sawah belum menunjukkan hasil yang optimal dan tidak konsisten karena masih banyak petani yang belum memahami cara pengendalian yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Penelitian tikus sawah dari berbagai aspek, terutama aspek biologi dan ekologi, berperan penting untuk dijadikan dasar dalam menetapkan strategi pengendalian hama tikus secara terpadu. Berdasarkan penelitian secara komprehensif dan dalam jangka panjang telah dihasilkan inovasi teknologi pengendalian tikus sawah pada pertanaman padi. Teknologi ini telah berkembang di beberapa sentra produksi padi dan telah menjadi bagian dari program nasional Pengendalian Hama Tikus secara Terpadu (PHTT). Dalam hal ini, perangkap bubu tikus atau Trap Barrier System (TBS) dan perangkap linear bubu tikus atau Linear Trap Barrier System (LTBS) adalah teknologi sentral dari strategi pengendalian tikus sawah secara terpadu, yang diintegrasikan dengan teknologi konvensional seperti tanam serempak, sanitasi habitat, gropyokan massal, fumigasi sarang tikus, penggunaan rodentisida secara benar, serta pelestariaan musuh alami tikus sawah.