Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Subandi"

Now showing 1 - 16 of 16
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Efektivitas Multi-isolat Rhizobium dalam Pengembangan Kedelai di Lahan Kering Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2011-12-16) A. Harsonoc; Prihastuti; Subandi
    Pengembangan areal kedelai di lingkungan suboptimal lahan masam akan semakin penting seiring dengan makin sempitnya lahan optimal yang dapat ditanami kedelai. Pengembangan kedelai pada lahan masam menghadapi banyak masalah, di antaranya keracunan Al, kahat hara N, P, K dan Ca, sehingga produktivitasnya sangat rendah (50%) yang terus menerus ditanami ubikayu, apabila tidak dikapur meskipun dipupuk 300 kg phonska/ha (setara 100 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha), kedelai hanya memberikan hasil 0,35 t/ha. Pada tanah yang telah dikelola intensif dengan polatanam bervariasi, pH-nya di bawah 5,0, kejenuhan Al
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Hama dan Penyakit Tanaman Kedelai
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2017-12-16) Marwoto; Sri Hardaningsih; Abdullah Taufiq; A.A. Rahmianna; Subandi
    Upaya peningkatan produksi kedelai dihadapkan kepada masalah hama, penyakit, dan ketidakseimbangan hara di tanah. Serangan hama dan penyakit juga berpotensi menurunkan kualitas hasil dan ketidakseimbangan hara di tanah tidak hanya berdampak terhadap penurunan produksi dan mutu hasil, tetapi juga menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit tertentu pada tanaman seringkali menampilkan gejala serupa dengan gejala ketidakseimbangan hara. Oleh karena itu, gejala tersebut perlu diidentifikasi agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat untuk menentukan cara pengendalian atau pemulihan tanaman dengan efisien dan efektif. Buku saku ini berisi informasi tentang berbagai jenis hama dan penyakit pada tanaman kedelai termasuk bioekologi, tanaman inang, gejala serangan, dan beberapa masalah yang terkait dengan ketidakseimbangan hara (kahat atau keracunan), informasi ini diharapkan dapat membantu penyuluh, pengamat hama penyakit, teknisi, dan petani dalam mengidentifikasi dan mengatasi gangguan hama dan penyakit maupun masalah keharaan pada tanaman kedelai. Pada Edisi - 9 (2015) ini telah dilakukan beberapa koreksi terutama dalam penulisan nama-nama ilmiah hama dan penyakit oleh Dr. Yusmani Prayogo. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan buku saku ini disampaikan penghargaan dan terima kasih.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Jagung Teknologi Produksi dan Pascapanen
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1998) Subandi; Inu G. Ismail; Hermanto
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Budidaya Kedelai di Berbagai Kawasan Agroekosistem
    (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2015) Mejaya, Made Jana; Harnowo, Didik; Marwoto; Subandi; Sudaryono; Adie, M. Muchlish
    Salah satu program Kementerian Pertanian pada periode tahun 2015-2019 adalah peningkatan produksi kedelai menuju Swasembada. Program peningkatan produksi kedelai di lakukan dengan peningkatan produktivitas dan perluasan areal melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) dan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Sasaran perluasan areal yang potensial adalah di agroekosistem lahan sawah, lahan kering/kering masam, lahan rawa lebak dan lahan pasang surut. Dalam kaitannya peningkatan produksi kedelai telah di susun dan dilaksanakan melalui Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknologi Produksi Jagung Bersari Bebas
    (BALAI PENELITIAN TANAMAN SEREALIA, 2007-12-22) Zubachtirodin; Subandi; Sania Saenong
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pedoman Penerapan Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Tanaman Kedelai di Indonesia
    (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, 2008-12-13) Yuliantoro Baliadi; Wedanimbi Tengkano; Bedjo; Suharsono; Subandi
    Hingga tahun 2008, produksi kedelai nasional baru mampu memenuhi 35-40% kebutuhan dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan nasional sebagian besar masih bersumber dari kedelai impor. Pada tahun 2007, impor kedelai telah mencapai 1,3 juta ton. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui beberapa program terobosan, diantaranya Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Primatani) yang bertujuan untuk mempercepat diseminasi dan adopsi teknologi inovatif terutama yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dan rintisan Sekolah Lapang-Pengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai (SL-PTT Kedelai) yang bertujuan untuk mengembangkan PTT kedelai secara nasional pada tahun 2008. Beberapa teknologi inovatif yang telah dihasilkan meliputi varietas unggul berdaya hasil tinggi dan teknologi budidaya pendukungnya. Namun demikian seringkali hasil panen kedelai di tingkat petani masih di bawah potensi hasil varietas kedelai yang ditanam. Kegagalan untuk mempertahankan hasil panen tinggi salah satunya akibat petani kurang mampu mengendalikan kompleks hama yang menyerang pertanaman kedelai. Semenjak program swasembada kedelai pada tahun 1986 yang menekankan pada hasil tinggi, petani menganggap insektisida adalah salah satu sarana produksi utama. Anggapan tersebut terbukti menimbulkan masalah resistensi hama terhadap insektisida, resurjensi hama, peningkatan status satu jenis hama dan ledakan hama akibat punahnya musuh-musuh alami baik predator maupun parasitoid yang sebelumnya bertindak sebagai penyangga ekosistem. Pengendalian Hama Hama secara Terpadu (PHT) merupakan konsep pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan komponen pengendalian yang selaras, terbukti tidak hanya meningkatkan produksi kedelai tetapi juga pendapatan petani. Teknologi PHT melibatkan semua komponen yang berpeluang untuk menekan atau mencegah hama agar tidak mencapai ambang batas populasi merusak secara ekonomi (economic injury level/economic threshold). Kebanyakan komponen PHT bersifat pencegahan, yaitu varietas tahan, sanitasi, tanaman perangkap, tanam serentak, pergiliran tanaman, pendayagunaan musuh alami, dan aplikasi insektisida berdasarkan pada ambang ekonomi hama. Buku ini berbasis pada pedoman rekomendasi PHT Task-force Bappenas 1992-1994 yang sebagian besar merupakan hasil-hasil penelitian Pusat Penelitian iii dan Pengembangan Tanaman Pangan. Saya berharap buku pedoman ini dapat dijadikan acuan oleh institusi terkait di lingkup Departemen Pertanian dan dapat membantu masyarakat, pelajar, mahasiswa, petani, dan petugas pertanian di lapangan mengenai pengenalan hama kedelai, jenis hama pada setiap fase pertumbuhan tanaman kedelai dan bagaimana cara mengendalikannya dengan menerapkan prinsip-prinsip PHТ.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pedoman Umum PTT Kedelai
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2016) Marwoto; Subandi; Adisarwanto, T.; Sudaryono; Kasno, Astanto; Hardaningsih, Sri; Setyorini, Diah; Adie, M. Muchlish
    Hingga saat ini kebutuhan kedelai nasional sebagian masih harus dipenuhi dari impor karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat. Kedelai banyak digunakan untuk industri pangan, antara lain tahu dan tempe yang telah menjadi menu utama masyarakat. Untuk menekan volume impor yang terus membengkak diperlukan upaya percepatan peningkatan produksi kedelai. Belajar dari pengalaman dalam penerapan inovasi teknologi padi sawah dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), Badan Litbang Pertanian mengembangkan PTT kedelai untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta menjaga kelestarian lingkungan.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pedoman Umum PTT Ubi Jalar
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012) Saleh, Nasir; Widodo, Yudhi; Rahayuningsih, St. A.; Indiati, Sri Wahyuni; Sumartini; Marwoto; Subandi; Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peluang Pengembangan Kedelai pada Areal Pertanaman Ubi Kayu di Lahan Kering Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-11-19) Arief Harsono; Subandi
    Ubi kayu dibudidayakan paling luas pada lahan masam dan umumnya ditanam secara monokultur. Pengembangan kedelai secara tumpang sari dengan ubi kayu, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, merupakan upaya strategis karena: (a) saat ini areal tanaman ubi kayu di dua pulau tersebut cukup luas (sekitar 430.000 ha) dan terus meningkat, (b) pada areal pertanaman ubi kayu, setiap tahun minimal dapat ditanami satu kali kedelai dengan pola tumpang sari ubi kayu + kedelai, ubi kayu + kedelai /+ kacang tanah, atau ubi kayu + kacang tanah/+ kedelai; (c) pertanaman tumpang sari tersebut selain menghasilkan ubi kayu cukup tinggi, juga mampu menghasilkan kedelai dan kacang tanah cukup memadai, sehingga meningkatkan keuntungan usahatani. Teknologi untuk mendukung keberhasilan pola tumpang sari ubi kayu + kedelai tersebut telah tersedia, terdiri dari ameliorasi tanah menggunakan dolomit, penambahan pupuk organik kaya hara “Santap-M” dan pupuk hayati rhizobium strain “Illetrisoy”. Praktek tumpang sari ubi kayu + kedelai, di samping meningkatkan luas panen kedelai juga mampu memperbaiki kesuburan tanah pada areal tanam ubi kayu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    PENGEMBANGAN SISTEM WANATANI PADA LAHAN RAWA PASANG SURUT
    (Balittra, 1996) Alam, Syamsu; Subandi; Zubachirodin; Saenong, Sania; Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa
    Pembukaan dan pemanfaatan lahan rawa Yang semula belum banyak digunakan keprluan budidaya/pertanian, akan terus meningkat bila dikaitkan dengan protransmigrasi dari pulau padat huni, terutama pulau Jawa, yang Jahan pertanian terus reoyusut kerena berbagai keperluan di Juar pertanian ke pulau langka huni di luar Jawa rang Iahannya bclum dimanfaatkan atau dikelola secara optimal
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peranan dan Pengelolaan Hara Kalium untuk Produksi Pangan di Indonesia
    (Balai Penelitian Tanaman Serealia, 2002) Subandi; Balai Penelitian Tanaman Serealia
    Di Indonesia, perhatian terhadap pemberian hara K untuk produksi pertanian, terutama komoditas pangan relatif rendah atau tertinggal dibandingkan dengan hara N dan P. Hal ini disebabkan selain ketersediaan K dalam tanah terutama lahan sawah yang masih cukup, juga karena pupuk K relatif sulit diperoleh dan/atau harganya mahal, serta kurangnya pengertian tentang peranan K secara baik oleh sebagian besar petani dalam berusahatani.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    PRODUKSI BENIH SUMBER KEDELAI, KACANG TANAH, DAN KACANG HIJAU
    (BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN, 2007-12-22) Marwoto; Didik Harnowo; M. Muchlish Adie; M. Anwari; Joko Purnomo; Riwanodja; Subandi
    Program peningkatan ketahanan pangan dan agroindustri memerlukan dukungan subsistem sarana produksi di antaranya, benih. Untuk memproduksi benih sumber yang berkualitas, yakni sehat, bebas penyakit, vigor dan daya tumbuh yang baik diperlukan teknologi produksi benih baik pada periode prapanen maupun pascapanen. Sudah banyak varietas kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau yang telah dilepas, namun belum banyak yang digu- nakan oleh petani. Berbagai sebab belum digunakannya varietas unggul, antara lain: kurangnya informasi keberadaan varietas unggul dengan berbagai sifat-sifat keunggulannya serta keterse- diaan benih varietas unggul terbatas, produksi varietas unggul kelas BS masih terbatas dan terputusnya aliran benih sumber dari BS ke ES. Untuk mendorong penyebaran benih varietas unggul diperlukan pengenalan varietas yakni melalui sosialisasi varietas dan pembekalan teknik produksi benih kepada penangkar di daerah sentra produksi. Salah satu kendala dalam memproduksi benih adalah terbatasnya pengetahuan tentang teknologi produksi yang dimiliki petugas produksi benih maupun penangkar benih. Panduan teknologi produksi benih ini disusun sebagai acuan untuk meningkatkan pemahaman bagi calon penangkar maupun penangkar benih kedelai, kacang tanah dan kacang hijau dalam menghasilkan benih bersertifikat ketiga komoditas tersebut sesuai dengan potensi genetiknya. Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih kepada tim penulis panduan ini yang telah meluangkan waktu untuk menyusun buku panduan ini.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Prospek, Strategi, dan Teknologi Pengembangan Ubikayu untuk Agroindustri dan Ketahanan Pangan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006-12-16) Didik Harnowo; Subandi; Nasir Saleh
    Ubikayu termasuk komoditas yang cukup besar kontribusinya dalam sistem ketahanan pangan nasional. Komoditas ini umumnya diusahakan di lahan kering oleh petani yang lemah modal dan dan berpendapatan rendah. Oleh sebab itu pengembangan agribisnis ubikayu perlu terus dikaitkan dengan upaya peningkatan pendapatan petani dan ketahanan pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan telah menghasilkan berbagai teknologi produksi, teknologi panen, dan penanganan pasca panen ubikayu. Teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih bésar bagi upaya peningkatan produksi dan pengembangan agroindustri ubikayu, termasuk industri bioetanol yang merupakan komponen campuran bahan bakar minyak (BBM), terutama premium yang kebutuhannya terus meningkat. Dalam implementasinya secara luas, pengembangan teknologi produksi, panen, dan pasca panen ubikayu tersebut memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Dalam kaitan ini, telah diselenggarakan Lokakarya Pengem- bangan Ubikayu pada tanggal 7 September 2006 di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang, Jawa Timur. Diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai institusi, lokakarya membahas sejumlah makalah hasil penelitian dan kebijakan pengembangan ubikayu. Para pemakalah berasal dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Asosiasi Produsen Spiritus dan Bioetanol Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi, swasta, dan beberapa institusi di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yaitu Puslitbang Tanaman Pangan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian, dan Balai Penelitian Tanaman Kacang- kacangan dan Umbi-umbian. Untuk dapat diketahui oleh banyak pihak, makalah-makalah tersebut dipublikasikan dalam bentuk prosiding lokakarya. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam Lokakarya dan penerbitan prosiding ini disam- paikan penghargaan dan terima kasih.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Rekayasa Mesin Pemecah Buah Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007) Hastono, Abi Dwi; Samsuri Tirtosastro; Subandi; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
    Untuk mensukseskan program nasional pengembangan jarak pagar (Jatropha curcas), diperlukan dukungan berupa ketersediaan benih unggul, teknologi budidaya, panen dan penanganan pasca panen. Penanganan pasca panen dilakukan antara lain untuk segera memisahkan biji dengan kulit buahnya, karena apabila biji terlalu lama berada di dalam buah yang telah dipanen dapat menyebabkan kemunduran mutu biji jarak pagar. Untuk keperluan tersebut, Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat telah membuat prototype alat pemecah buah jarak pagar yang dilengkapi dengan separator dengan tenaga penggerak motor bensin 5,5 PK sehingga diperoleh biji bersih yang sudah siap untuk diproses lebih lanjut menjadi biofuel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa, prototipe alsin pemecah buah jarak pagar dapat dioperasikan dengan baik. Pengujian prototipe pada buah jarak pagar berwama kuning, diperoleh hasil biji utuh 100% yang sudah bersih dari kulit buah. Kapasitas kerja alat 200 - 250 kg biji per jam dengan putaran silinder 250 rpm.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Teknologi Budi Daya untuk Meningkatkan Produksi Ubikayu dan Keberlanjutan Usahatani
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009-09-12) Subandi
    Dalam komposisi nilai ekonomi tanaman pangan, ubikayu menduduki urutan ketiga setelah padi dan jagung. Berdasarkan proyeksi kebutuhan, produksi ubikayu yang dewasa ini baru mencapai 20 juta ton, masih kekurangan sekitar 5,3 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri tahun 2010. Oleh karena itu, ubikayu perlu memperoleh prioritas dalam pengembangannya, dan diperlukan dukungan teknologi yang produktif dan ramah lingkungan, mengingat komoditas ini banyak dibudidayakan pada lahan marjinal. Penelitian telah menghasilkan komponen teknologi budi daya yang dapat mendukung upaya pengembangan ubikayu dan konservasi lahan untuk keberlanjutan sistem produksi. Teknologi tersebut meliputi (a) varietas unggul, di antaranya UJ-5 dan UJ-3 untuk wilayah bercurah hujan tinggi dan Adira-4, Malang-4, dan Malang-6 untuk wilayah bercurah hujan rendah sampai tinggi; (b) pengaturan populasi tanaman pada jumlah 10.000-12.500 tanaman/ha; (c) penyiapan bibit dari tanaman yang telah berumur 7-12 bulan; (d) stek batang panjang 20-25 cm ditanam secara vertikal dengan kedalaman sekitar 10 cm; (e) lahan diolah sempurna menggunakan bajak ditarik dengan ternak maupun traktor, dan pembuatan guludan; (f) waktu tanam yang tepat agar selama tujuh bulan pertama tanaman memperoleh hujan/air yang cukup; (g) pengendalian gulma, disesuaikan dengan keadaan lapangan; (h) pemupukan 200 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl per ha, atau sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, bagi tanah masam perlu dikapur 300 kg/ha dan 3 t/ha pupuk kandang berupa kotoran ayam atau 6 t/ha kotoran sapi. Panen daun dua kali setiap enam bulan, tiga kali setiap empat bulan, atau enam kali setiap dua bulan, dan perempesan daun tua hingga 75% dapat dilakukan. Penanaman pagar hidup dan mengusahakan kacang-kacangan pada areal pertanaman ubikayu, baik secara bergiliran maupun tumpangsari selain dapat mengurangi erosi tanah juga bermanfaat meningkatkan kesuburan tanah
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan Kedelai pada Lahan Kering Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-04) Subandi
    Pengembangan areal tanam kedelai pada lahan kering masam merupakan alternatif strategis bagi peningkatan produksi nasional menuju swasembada. Lahan kering tersebut tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Pemberian bahan ameliorasi kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Penelitian telah berhasil memperoleh komponen teknologi produksi yang dapat memberikan produktivitas kedelai dan keuntungan yang memadai. Budi daya kedelai dengan pendekatan pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT) mampu menghasilkan 1,76-2,03 t/ha dengan ke- untungan Rp 2.153.000-3.781.000/ha. Dalam pengembangannya, kedelai dapat diusahakan pada areal tanaman pangan yang sudah ada (ubi kayu, jagung, padi gogo), pada lahan perkebunan kelapa sawit dan karet muda, serta pada areal padang alang-alang/semak belukar. Beberapa aspek yang membutuhkan dukungan pemerintah antara lain adalah penyediaan sarana produksi (benih, amelioran, pupuk), bimbingan petani dari penyuluh, dan pemasaran produk di tingkat petani. K einginan untuk berswasembada kedelai telah beberapa kali dicanangkan, namun belum dibarengi dengan program operasional yang memadai. Melalui program revitalisasi pembangunan pertanian, pemerintah bertekad untuk meningkatkan produksi kedelai nasional menuju swasembada pada tahun 2010 (Ditkabi 2006). Program ini perlu dukungan semua pihak terkait, di antaranya dalam penyediaan teknologi produksi kedelai yang produktif dan efisien. Upaya peningkatan produksi kedelai nasional dapat ditempuh melalui dua sumber pertumbuhan yaitu peningkatan areal tanam/panen dan peningkatan produktivitas yang rata-rata nasionalnya masih rendah, yaitu 1,28 t biji/ha (BPS 2005). Peluang peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas masih cukup terbuka, mengingat senjang hasil antara di tingkat petani dengan tingkat penelitian masih lebar (0,60-2,0 vs 1,70-3,20 t/ha).

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback