Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sismiyati Roechan"

Now showing 1 - 1 of 1
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Masalah Pencemaran Kadmium (Cd) pada Padi Sawah
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Sismiyati Roechan; Irwan Nasution; Lalu Sukarno; A.K. Makarim
    Kadmium (Cd) merupakan salah satu logam berat yang sifatnya mirip dengan hara seng (Zn), tetapi merupakan racun dan dapat menghambat aktivitas enzim dan protein dalam jaringan tanaman, hewan, dan manusia. Sumber utama pencemaran Cd adalah limbah tambang logam berat, pabrik minyak, pabrik semen, penyepuhan, dan pusat pembakaran sampah. Cd banyak terdapat dalam batuan endapan fosfat yang merupakan bahan dasar pupuk fosfat. Hasil penelitian di Lampung dan Jawa Barat menunjukkan bahwa kadar Cd pada beras pecah kulit meningkat dengan meningkatnya takaran pupuk TSP. Pada takaran 200 kg TSP/ha, kadar Cd pada beras mencapai 0,047 ppm. Di Jepang, ambang batas kadar Cd di beras adalah 1,0 ppm, tetapi menurut WHO 0,24 ppm. Kadar Cd beras pecah kulit di beberapa lokasi dalam kawasan industri di Jawa Barat masih di bawah standar WHO. Kadar Cd dalam tanaman dan tanah meningkat dari waktu ke waktu. Kadar Cd tanah tertinggi pada sawah yang pernah diamati di Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah 0,619 ppm. Angka ini jauh di bawah angka kadar Cd tanah tercemar di Jepang yang sudah mencapai 35,4 ppm pada lahan kering dan 3,82 ppm pada lahan sawah. Hasil penelitian menunjukkan, dengan meningkatnya kadar Cd tanah, kadar Cd padajerami dan beras pecah kulit meningkat pula. Translokasi Cd dari jerami ke gabah sangat kecil. Hal ini menguntungkan kalau lahan sawah ditanami dengan padi, namun berbahaya kalau ditanami dengan sayuran. Pengendalian pencemaran Cd antara lain dapat dilakukan dengan penggunaan bahan organik, ZnSO4, dan pengapuran.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback