Browsing by Author "Shantiningsih, Melia Dwi"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemKeamanan Bahan Pakan Asal Hewan di Perusahaan Pakan Ternak di Propinsi Jawa Timur Tahun 2019(Direktorat Kesehatan Hewan, 2020) Shantiningsih, Melia Dwi; D. N, Marina; Isnaini, M. Fauzan; Direktorat Kesehatan HewanBBVet Wates Yogyakarta tahun 2019 telah melakukan monitoring yang bertujuan untuk menjamin agar pakan dan/bahan pakan asal hewan (BPAH) yang diproduksi dan diedarkan/diperdagangkan sampai dengan diberikan kepada ternak tetap terjaga keamanannya. Dalam monitoring ini pengambilan sampel dilakukan di empat perusahaan terpilih di Propinsi Jawa Timur. Sampling dilakukan di pabrik yang melakukan pemasukan BPAH yang diimport dari negara New Zealand dan Amerika Serikat, Tahun 2019 BBVet Wates telah mengambil 40 BPAH dari empat perusahaan tersebut, dan kajian keamanan BPAH ini berdasar pada hasil pengujian sampel tersebut. Pengujian di laboratorium dilakukan dengan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) MBM porcine, isolasi dan identifikasi Salmonella sp, Clostridium perferingens, dan Bacillus anthracis. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa 40 sampel yang diuji MBM 0 % positif porcine, 0% positif Bacillus anthracis , 25% positif Salmonella sp, dan 0,975% positif 1,5x10¹ Clostridium perferingens. Hasil ini menunjukkan bahwa BPAH yang telah disampling bahan pakan untuk ternak yang ada di 4 perusahaan terpilih kurang aman dan tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 23/Permentan/PK.130/4/2015 karena positif Salmonella sp dan Clostridium perferingens.. Untuk itu disarankan kepada para penentu kebijakan agar dilakukan pengawasan berkelanjutan terhadap bahan pangan asal hewan yang masuk ke Indonesia untuk mengurangi kemungkinan dampak yang tidak dikehendaki.
- ItemStudi Kasus-Kontrol pada Rumah Tangga Miskin Penerima Ayam Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (#Bekerja) di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga Tahun 2018(Direktorat Kesehatan Hewan, 2019) Pratamasari, Dewi; Wibawa, Hendra; Fatiyah, Eni; Shantiningsih, Melia Dwi; Susanta, Dwi Hari; Farhani, Nur Rohmi; Susilaningrum, TH. Siwi; Famia, Zaza; Kumorowati, Enggar; Delviana, Rizky Meityas; Kesumaningrum, Nining; Prayitno, Gugus Eka; Poermadjaja, BagoesDalam kegiatan #BEKERJA telah dilaporkan beberapa kasus kematian ayam dalam waktu 1-2 bulan setelah ayam diterima Rumah Tangga Miskin (RTM). Namun, jumlah kematian yang dilaporkan belum jelas penyebab dan faktor-faktor risikonya. Oleh karena itu, BBVet Wates melakukan monitoring menggunakan pendekatan studi kasus-kontrol (case-control study) di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga, dengan tujuan: a) mengetahui proporsi kematian ayam dengan atau tanpa disertai tanda klinis penyakit, b) mengetahui gambaran pemeliharaan ayam, c) mengetahui faktor-faktor risiko yang berperan terhadap terjadinya kasus penyakit unggas. RTM digunakan sebagai unit epidemiogi, sedangkan kasus didefi nisikan sebagai kematian ayam lebih dari 20% (>10 dari 50 ekor) pada RTM dan menunjukkan salah satu atau lebih dari tanda klinis penyakit (dijelaskan dalam tulisan). Hasil studi menunjukkan penyusutan ayam #Bekerja disebabkan kematian dan faktor lain (penjualan dan pemotongan ayam oleh RTM). Proporsi kematian ayam yang disertai tanda klinis penyakit mencapai 29.1% di Kabupaten Banyumas dan 27.6% di Kabupaten Purbalingga. Sebagian besar RTM berpendidikan SD/sederajat, tetapi sudah > 5 tahun berpengalaman memelihara ayam sehingga sebagian besar memiliki pengetahuan dasar beternak ayam. Kepala RTM umumnya yang memelihara langsung ayam sehari-hari, dan hanya sebagian kecil dikerjakan orang lain. Sebagian besar RTM menggunakan tipe kandang panggung dan memiliki penerangan di malam hari, tetapi jarang menggunakan alas kandang. Faktor risiko tertinggi terhadap terjadinya penyakit adalah kunjungan RTM ke RTM lain yang tengah atau sebelumnya terjadi kasus (OR=10.48, 95%CI=2.88-53.37, p<0.05). Hal ini dikuatkan dengan hasil analisa kuantitatif keluar-masuk pemilik/RTM ayam ke dalam kandang yang juga tinggi (OR=4.63, 95%CI=1.20-23.85, p<0.05). Ada kemungkinan bahwa pemilik/RTM yang bersangkutan menjadi agen penular terhadap ayamnya sendiri. Bimbingan teknis cara beternak ayam yang baik, peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang risiko penularan penyakit dan bimtek biosekuriti harian kepada RTM perlu ditingkatkan sehingga kasus penyakit dapat ditekan dan ayam akan menghasilkan output dan manfaat lebih kepada RTM.