Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sajimin"

Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Agronomi Dan Pemanfaatan Centrosema Pubescens
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Sutedi; Sajimin; B.R. Prawiradiputra
    Untuk meningkatkan dalam usaha peternakan diperlukan adanya peningkatan ternak dengan pengelolaan yang cukup baik, namun usaha tersebut tidak terlepas dari ketersediaan hijaun pakan ternak yang berkesinambungan baik musim hujan maupun musim kemarau. Untuk itu perlu dilakukan pemilihan bibit yang yang unggul, salah satunya tanaman Centrosema pubescens yang merupakan tanaman dari jenis Leguminosa. Yang berasal dari Amerika selatan, yang mempunyai umur panjang yang bersifat merambat dan memanjat, batang agak berbulu dan panjang mencapai 5 m, berdaun tiga berbentuk elips, bunga berbentuk kupu-kupu berwarna violet keputihan-putihan buah berbentuk polong panjang mencapai 9-17 cm, relatif tahan terhadap kekeringan, Hama dan penyakit serta mudah tumbuh pada berbagai tipe tanah, drainase yang jelek, dan perkebunan. Centrosema termasuk tanaman legum yang mudah berbunga, berbiji serta dapat dipakai sebagai tanaman campuran dengan tanaman semua jenis rumput maupun sebagai tanaman sisipan pada padang pengembalaan. Tanaman Centrosema juga dapat meningkatkan kualitas hijaun terutama pada kandungan protein.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Agronomi Rumput Benggala (Panicum Maximum Jacq) Dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput Potong
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Sajimin; E.Sutedi; N.D. Purwantari; B.R. Prawiradiputra
    Rumput Panicum maximum Jacq yang telah dikoleksi di Kebun Raya Bogor sejak tahun 1865 dalam Kebun Tanaman (Cultuurtuin) tapi sampai sekarang tidak sepopuler rumput gajah. Tahun 1974 Program Hijauan Pakan Ternak, Balitnak mengintroduksi kembali dari berbagai negara, hingga sekarang 8 kultivar yang ada didalam koleksi yaitu cultivar Gatton, Guinea, Riversdale, Natsuyutaka, Hamil, Natsukaze, T58 dan Petrie. Hasil penelitian yang telah dikarakterisasi sifat agronominya digunakan rumput potong. Produksi bahan kering hijauan, nilai gizi, palabilitas dan kecernaan mendekati rumput gajah dan kelebihannya, rumput P.maximum lebih tahan terhadap kekeringan dibanding rumput gajah. Produktivitas yang optimum dicapai pada interval potong yaitu 30 – 40 hari dan setelah umur tersebut tanaman menuju fase pertumbuhan generatif dan tidak bertambah produksi daunnya. Produksi bahan kering mencapai 36,70 t ha -1th-1 dengan nilai palatabilitas pada ternak domba 46 % dan konsumsi per ekor sebanyak 537,84 g sedangkan pada Pennisetum purpureum 346,6 g. Morfologi tanaman memiliki batang yang kecil sehingga hampir semua dapat dimakan ternak. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang tanpa pupuk kimia yang mempunyai efektifitas produksi hingga pemotongan ke empat dengan interval potong 6 minggu. Penanaman rumput ini pada lahan miring juga dapat mengurangi laju erosi yang sekaligus penyedaan hijauan pakan serta meningkatkan produktivitas lahan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Leucaena: Taxonomi, Adaptasi, Agronomi Dan Pemanfaatan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) N.D. Purwantari; B.R. Prawiradiputra; Sajimin
    Leucaena spp merupakan tanaman pohon yang multiguna. Tanaman ini merupakan tanaman leguminosa pohon yang paling produktif dibanding yang lain, kualitas hijauannya tinggi, tahan kekeringan, tumbuh dengan variasi iklim yang luas, batangnya mempunyai kualitas yang tinggi untuk kayu bakar, bahan pembuat furnitur, pulp, bijinya dapat digunakan untuk aksesori, di daerah tertentu biji sebagai makanan manusia. Species L. leucocephala mempunyai beberapa kendala didalam pemakaiannya, antara lain ketersediaan plasma nutfah yang relatif sempit untuk produser, tidak tahan terhadap hama kutu loncat (Heterospsylla cubana), tidak tahan terhadap tanah yang terlalu asam (<5), suhu dingin, ketegaran benih rendah, produksi biji yang tinggi berpotensi sebagai gulma. Beberapa species lain yang kurang “popular” dari genus Leucaena telah diketahui mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap hama kutu loncat antara lain L. collinsii, L. diversifolia, L. esculenta, L. pallida. L. diversifolia juga telah diketahui sebagai jenis yang tahan terhadap suhu dingin dan tanah asam. L. esculenta dan L. pallida mempunyai ketegaran biji yang tinggi. Beberapa hibrid telah diperoleh untuk ketahanan terhadap kutu loncat, adaptasi pada kondisi tanah asam, suhu dingin. Adanya beberapa hibrid yang tahan kutu loncat, produksi tinggi tetapi produksi biji sedikit atau terjadinya segregasi yang tinggi pada populasi generasi berikutnya bila diperbanyak dengan biji, maka perbanyakan vegetatif merupakan salah satu alternatif. Sampai saat ini perbanyakan dengan bahan vegetatif masih terus dikembangkan untuk dapat diaplikasikan pada skala besar. Sosialisasi species Leucaena yang kurang dikenal kepada pengguna perlu dipertimbangkan.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Karakterisasi Rumput
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2020-10) Fanindi, Achmad; Sajimin; Harmini
    Rumput merupakan salah satu hijauan pakan ternak sebagai sumber serat dan energi. Selain fungsinya sebagai pakan ternak, rumput juga dapat sebagai penutup tanah (cover crop), menahan pengikisan tanah dan erosi, tanaman penyubur tanah, agen fitoremediasi lahan tercemar polutan, dan sumber energi pengganti bahan bakar (bioenergi). Melihat fungsinya yang penting, perlu perhatian khusus untuk rumput baik dari segi budi daya atau sebagai sumber daya genetik termasuk untuk pakan ternak. Pemanfaatan rumput budi daya telah banyak dikembangkan oleh para peternak termasuk petani peternak. Namun dokumentasi rumput pakan baik dalam bentuk pendataan atau kepemilikan sebagai varietas lokal maupun hasil pemuliaan rumput pakan belum banyak dilakukan di Indonesia. Pendataan dan kepemilikan rumput pakan menjadi penting, karena rumput lokal maupun introduksi yang sudah lama dikembangkan di Indonesia merupakan sumber daya genetik yang perlu dilestarikan. Indonesia memiliki biodiversitas dan keragaman rumput lokal yang tinggi. Keragaman yang tinggi pada rumput menjadi modal penting untuk kegiatan pemuliaan dalam rangka merakit varietas unggul. Kepemilikan rumput lokal juga perlu diperhatikan oleh pemerintah, terutama pemerintah daerah untuk melindungi keberadaannya sebagai sumber daya genetik yang harus dipelihara kelestariannya. Beberapa peraturan tentang tata cara pendaftaran varietas rumput pakan lokal maupun hasil pemuliaan dan pelepasan varietas rumput pakan telah diterbitkan. Pedoman tersebut mengharuskan adanya deskripsi rumput pakan yang akan didaftarkan maupun dilepas. Deskripsi memerlukan karakterisasi rumput pakan yang akan didaftarkan atau dilepas. Karakterisasi dilakukan untuk melihat bentuk morfologi hingga agronomi, serta potensinya sebagai pakan ternak.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Karakterisasi Tanaman Leguminosa
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, 2020) Sutedi, Endang; Fanindi, Achmad; Pratomo, Ganjar Hadiyanto; Sajimin
    Leguminosa merupakan tanaman pakan ternak serbaguna, selain sebagaipakanternak, leguminosa dapat dimanfaatkan antara lain untuk menyuburkan tanah, penutup tanah, tanaman pelindung dan tanaman fitoremediasi lahan tercemar polutan. Penggunaan pakan leguminosa pada ternak ruminansia merupakan salah satu cara mitigasi perubahan iklim, karena dapat menurunkan emisi gas metana (CH4) enterik fermentasi dari ternak. Sumber daya genetik leguminosa di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan leguminosa oleh peternak perlu didorong, mengingat leguminosa merupakan sumber protein yang baik untuk ternak ruminansia. Pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik tanaman leguminosa dilakukan melalui tahapan koleksi, karakterisasi, evaluasi dan dokumentasi. Koleksi tanaman leguminosa akan menjadi bahan baku untuk pembentukan varietas unggul yang adaptif pada lingkungan tertentu. Sumber daya genetik tanaman leguminosa ini bila tidak dimanfaatkan dengan baik maka dapat menyebabkan pengurangan keragaman genetic dan kemungkinan dimanfaatkannya atau dimilikinya sumber daya genetik tersebut oleh pihak asing sehingga akan merugikan kepentingan negara. Sumber daya genetik yang akan dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan maka harus melalui proses alih material (material transfer agreement).
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengaruh Interval Potong terhadap Produktivitas dan Kualitas Tanaman Bangun-Bangun (Coleus amboinicus L.) sebagai Komoditas Harapan Pakan Ternak
    (Balai Penelitian Ternak, 2011) Sajimin; N.D. Purwantari; E. Sutedi; Oyo
    Tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) adalah salah satu jenis tanaman yang umum dikonsumsi oleh ibu-ibu di daerah Sumatera Utara untuk meningkatkan air susu. Daun tanaman memiliki zat gizi tinggi antara lain besi dan karoten. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari produktivitas tanaman bangun-bangun pada interval pemotongan yang berbeda. Rancangan percobaan acak lengkap dengan perlakuan umur potong 30, 40, 50 dan 60 hari dengan 10 ulangan. Data yang diukur produksi hijauan segar dan kering, kandungan protein kasar, Cu, Zn dan B pada awal, pertengahan dan akhir percobaan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa interval potong berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap produksi hijauan. Total produksi tertinggi pada interval potong 60 hari (34,1 g/tanaman) dan terendah pada interval potong 50 hari (19,6 g/tanaman). Demikian juga kandungan protein kasar dan unsur Cu, Zn dan B tertinggi pada interval potong 60 hari. Kandungan protein kasar pada interval pemotongan 60 hari berkisar 12,31-15,59%.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback