Browsing by Author "Rostiana, Otih"
Now showing 1 - 20 of 21
Results Per Page
Sort Options
- ItemKARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.)(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2008) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih
- ItemKARAKTERISTIK MORFOLOGI, KOMPONEN HASIL DAN MUTU NOMOR KOLEKSI PURWOCENG DI GUNUNG PUTRI(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Rostiana, Otih; Haryudin, W.; Ma'mumKajian terhadap kandungan bahan aktif dan khasiat purwoceng sebagai tanaman obat berkhasiat afrodisiak telah banyak dilakukan. Namun, bahan tanaman unggul dengan informasi karakteristik yang diinginkan belum tersedia. Karakterisasi terhadap nomor koleksi purwoceng di KP. Gunung Putri, Cipanas, Jawa Barat tahun 2005, diperoleh data keturunan F1 dapat dibedakan berdasarkan warna tangkai daun, dan pembungaan (merah gelap, merah dan hijau kemerahan), namun proporsinya beluin jelas. Sifat pembeda lainnya terlihat dari diameter akar dan produksi herba basah, yang berlainan antar aksesi yang dikoleksi. Penelitian terhadap morfologi (warna tangkai daun, daun dan tulang daun), dilakukan untuk menentukan sifat pembeda antar aksesi serta proporsi warnanya, komponen hasil juga mutu simplisia. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Desember 2006 di KP. Gunung Putri, Cipanas, menggunakan enam nomor koleksi purwoceng (Pipru 01, 02, 03, 04, 05 dan 06), ditanam dengan jarak tanam 30 x 40 cm, di dalam petak berukuran 6 x 4 m², populasi per petak 100 tanaman. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, keenam aksesi purwoceng dapat dibedakan secara morfologi berdasarkan karakter warna daun, tulang daun dan tängkai daun. Sifat pembeda dengan proporsi yang jelas adalah warna tulang daun bagian bawah Pipru 01 dan 02 (hijau) berbeda dengan Pipru 03, 04 dan 05 (merah), warna daun dewasa bagian bawah Pipru 01, 02, 03, 04, dan 05 (hijau) berbeda dengan Pipru 06 (merah), serta warna tangkai daun muda bagian atas Pipru 03 (hijau) berbeda dengan lima aksesi lainnya (merah). Namun penyimpangannya masih relatif tinggi, sehingga perlu dilakukan pemurnian benih supaya identitas populasi dari setiap aksesi lebih akurat. Komponen hasil dan produksi keenam aksesi tidak berbeda nyata pada umur 6 BST, sedangkan mutunya berbeda. Kandungan sitosterol tertinggi (15,9 ppm) diperoleh dari akar Pipru 06, stigmasterol (13,6 ppm) dari akar Pipru 03, saponin (18,8 ppm) dari terna Pipru 06, bergapten (6,9 ppm) dari terna Pipru 03.
- ItemKeragaman Aksesi Jambu Mete Hasil Persilangan pada Umur Dua Tahun Berdasarkan Karakter Morfologi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2018) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih; Darajat, JajatJambu mete merupakan tanaman menyerbuk silang, salah satu upaya untuk meningkatkan keragaman gentik pada plasma nutfah jambu mete dilakukan persilangan antara tetua berproduksi tinggi dan tetua toleran terhadap hama helopeltis sp. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ke ragaman 25 aksesi jambu mete hasil persilangan berdasarkan karakter morfologi daun. Peneliti dilakukan di KP. Cikampek, sejak Januari sampai Desember 2016, menggunakan metode observasi dengan mengamati secara individu karakter morfologi secara kualitatif dan kuantitatif mete umur 2 tahun. Pengamatan dilakukan terhadap 8 tanaman per plot, masing-masing diamati 50 daun per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan karakter morfologi jambu mete hasil persilangan bervariasi. Karakter bentuk daun bulat telur, bulat telur terbalik dan memanjang. Pangkal dan ujung bulat, runcing dan tumpul. Bentuk tepi daun rata, bentuk permukaan bawah dan atas daun halus. Warna daun dewasa hijau tua dan daun muda hijau kekuningan dan coklat kemerahan. Tingkat keragaman 18,35-100 % dan tingkat kedekatan antara 0,10-0,38 terbagi dua kelompok. Kelompok I dipisahkan oleh karakter bentuk daun memanjang, bentuk pangkal daun membulat, bentuk ujung daun bulat dan tumpul dan warna daun muda GBG N119 A, kelompok II dipisahkan oleh karakter bentuk daun bulat telur terbalik, bentuk pangkal tumpul, bentuk ujung daun runcing dan berlekuk dan warna daun muda GB 200 B. Karakter panjang daun, lebar daun, tebal daun dan panjang tangkai daun bervariasi dengan tingkat keragaman 47,67-96,94 % dan jarak kedekatan antara 0,19-6,19 yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok I dipisahkan oleh karakter panjang daun tertinggi 17,6-20,6 cm, sedangkan kelompok II dipisahkan oleh karakter panjang daun terkecil 14,6-17,1 cm.
- ItemKUNJUNGAN ILMIAH КЕ ТОКYO UNIVERSITY OF AGRICULTURE AND TECHNOLOGY (TUAT) DAN LEMBAGA PENELITIAN DI JEPANG : Warta balittro Vol 32, No. 64 Desember 2015(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2015-12-01) Rostiana, Otih; Syahid, Sitti FatimahJepang merupakan salah satu negara dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tergolong sangat cepat. Berbagai perkembangan teknologi di bidang pertanian berkembang setara dengan negara-negara maju lainnya. Dalam bidang pemuliaan tanaman, terutama dalam pengembangan varietas baru, salah satu teknologi terbaru adalah Genom editing.Teknologi yang menjanjikan mampu membentuk "Super Ragam Tanaman non transgenik" dengan menggunakan berbagai teknik diantaranya TALENS (Transcription activator like efector nuclease), CRISPR (Cluster regularly interspace short palindromic repeats), ZFN (Zink finger nuclease), eMNS (Enginered mega nuclease), SDN (Site Directed Nuclease), dan lain lain. Aplikasi teknologi genom editing untuk varietas baru, tidak terlepas dari teknologi in vitro, diperlukan sebagai alat untuk perbanyakan benih genotipe elit. Tujuan kunjungan adalah untuk melakukan studi banding di bidang pemuliaan tanaman, khususnya genetika molekuler, kultur in vitro, dan produksi benih komersial dengan mengunjungi Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) dan instansi terkait lainnya (Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, dan produsen benih komersial).
- ItemOPTIMALISASI TEKNIK ISOLASI DNA DAN PEMILIHAN SAMPEL DAUN UNTUK ANALISIS MARKA MOLEKULER JAMBU METE : Warta balittro Vol. 33 No. 66 tahun 2016(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2016-12-01) Arlianti, Tias; Darajat, Jajat; Rostiana, OtihJambu mete (Anacardium occidentale L) merupakan salah satu tanaman potensial sumber devisa negara. Peningkatan produktivitas jambu mete sampai saat ini masih dilakukan secara konvensional melalui seleksi populasi dan hibridisasi. Penggunaan marka molekuler dapat digunakan untuk mempercepat proses seleksi. Untuk dapat memperoleh marka molekuler yang akurat, diperlukan DNA berkualitas tinggi. Optimasi teknik isolasi DNA pada jambu mete telah dilakukan dengan menggunakan tiga fase pertumbuhan daun (pucuk, sedang, tua) pada kondisi segar dan kering serta perbaikan metode ekstraksi dengan cara homogenisasi sampel, memperhalus sampel dan memperpanjang waktu senrifugasi menjadi dua puluh menit. Daun sedang (daun ketiga dari pucuk) merupakan jenis sampel terbaik untuk isolasi DNAjambu mete.
- ItemPENGARUH Indole Butyric Acid DAN Naphtaleine Acetic Acid TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TUNAS PIRETRUM [Chrysanthemum cinerariifolium (Trevir.)Vis.] KLON PRAU 6 SECARA IN VITRO(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2016-09-27) Rostiana, Otih; Seswita, Deliah
- ItemPengaruh Rimpang Utama dan Rimpang Cabang Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tiga Tipe Kencur di KP. Citayam(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1993) Rostiana, Otih; Abdullah, Achmad; -; Martono, Budi; -; Wahyudin, Wawan; -; Aisyah, Siti; -
- ItemPENGGALIAN IPTEK ETNOMEDISIN DI GUNUNG GEDE PANGRANGO(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007) SMD, Rosita; Rostiana, Otih; Pribadi, E. R.; Hernani, Hernani
- ItemPERBANYAKAN TANAMAN ANIS (Pimpinella anisum L.) SECARA IN VITRO(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007) Rostiana, Otih
- ItemSTABILITAS KARAKTER MORFOLOGI 10 AKSESI CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DI KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2011) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih
- ItemTeknologi Unggulan Jahe : Budidaya Pendukung Varietas Unggul(Puslitbangbun, 2007-06-10) Rostiana, Otih; Effendi, Dedi soleh; Bermawie, Nurliani; Balittro
- ItemTeknologi Unggulan Kencur : Perbenihan dan Budidaya Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007) Rostiana, Otih; Effendi, Dedi Soleh; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
- ItemTeknologi Unggulan Kencur: Budidaya dan Pascapanen Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2014) Rostiana, Otih; Effendi, Dedi SolehUntuk penerapan teknologi kesesuaian lahan dan iklim tidak akan menimbulkan dampak negatif. Sebaliknya tanpa penerapan teknologi kesesuaian lahan maka akan menimbulkan dampak negatif dalam pengusahan tanaman kencur. Iklim dan kondisi lahan yang tidak sesuai akan menyebabkan produktivitas tanaman tidak optimal.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Sukanda, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemVARIETAS UNGGUL JAMBU MЕТЕ ASAL POPULASI LOKAL DAN KETERSEDIAAN BENIH BERKELANJUTAN: STUDI KASUS DI KABUPATEN MUNA : Warta balittro Vol 32, No. 64 Desember 2015(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2015-12-01) Rostiana, OtihBenih merupakan faktor penentu utama di dalam budi daya tanaman. Benih yang beredar harus berasal dari benih bina (benih yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian). Proses pemuliaan untuk menghasilkan benih bina tanaman perkebunan tahunan seperti jambu mete, memerlukan waktu yang sangat lama sehingga untuk menghasilkan benih bina jambu mete dilakukan seleksi populasi yang ada di pertanaman petani. Varietas unggul jambu mete asal populasi lokal dari berbagai daerah sentra produksi telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Namun, kemampuan penyediaan benih bina dari masingmasing varietas yang sudah dilepas tersebut belum memadai. Perlu upaya nyata untuk penyediaan benih bina berkelanjutan.