Browsing by Author "Ratna Rohaeni, Wage"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemMenjembatani Kesenjangan Kemajuan Iptek dan Rendahnya Tingkat Pendidikan Petani Melalui Pendekatan Sdmc (Spectrum Dissemination Multichannel) Mendukung Terwujudnya Lumbung Pangan Dunia(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Rachmawati, Nia; Ratna Rohaeni, WageAbstrak Kemajuan dalam bidang IPTEK terus maju dan berkembang sesuai dengan tuntutan. Begitupun dengan kebutuhan petani yang semakin berkembang untuk memajukan usahataninya yang memerlukan masukan berupa teknologi inovatif yang dapat diaplikasikan pda usahatani yang sedang dijalankannya. Kebutuhan teknologi inovatif di sektor pertanian terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan produk pertanian dan ragam usahatani yang dijalankan oleh petani. Teknologi merupakan prasyarat menuju kemajuan usaha pertanian yang sangat diperlukan untuk pertanian yang tangguh dan berorientasi bisnis. Sektor pertanian adalah sektor yang berperan dalam penyediaan bahan pangan yang dibutuhkan oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya. Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia yang wajib dipenuhi. Indonesia memiliki potensi ketersediaan anekaragam pangan yang sangat besar sehingga dapat menjadi lumbung pangan dengan pengelolaan sumberdaya yang ada. Tulisan ini mencoba mengungkapkan hal yang terkait dengan perkembangan IPTEK dan kondisi petani sebenarnya dengan harapan untuk memperoleh masukan demi menjembatani kesenjangan yang terjadi antara kemajuan IPTEK dengan rendahnya tingkat pendidikan petani. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian salah satunya untuk mendekatkan sumber-sumber informasi kepada pengguna terutama petani agar hasil-hasil penelitian dan pengembangan dapat segera dijangkau oleh petani dan diaplikasikan pada usahataninya untuk mendukung terwujudnya lumbung pangan dunia. Badan Litbang Pertanian melalui pendekatan SDMC berupaya medaka teknologi inovatif kepada petani agar lebih mudah untuk mengakses beragam informasi berupa inovasi teknologi yang diperlukan petani. Abstract Science and Technology continue to advance and develop in accordance with the demands. Likewise with the growing needs of farmers to advance their farms that require input in the form of innovative technology that can be applied pda farming is running. The need for innovative technology in the agricultural sector continues to increase in line with the increasing needs of agricultural products and farmer-run farms. Technology is a prerequisite to the advancement of agriculture that is indispensable for tough and business-oriented agriculture. Agricultural sector is one of sector that plays a role in the provision of food needed by humans for their survival. Food is an important things and strategic commodity for Indonesian nation that must be fulfilled. Indonesia is the potential country for the availability of an enormous variety of food so that it can become a food barn with good management of existing resources. This paper tries to reveal matters relating to the development of science and technology and the actual condition of farmers in the hope of getting input to bridge the gap between the progress of science and technology with the low level of education of farmers. Many efforts have been made by the government through the Agricultural Research Agency to one of them to bring resources to the user, especially farmers so that the results of research and development can be reached by farmers and applied to the farm to support world further food. Indonesian Agricultural Research and Development (IAARD) Agency through SDMC approach seeks to bring innovative technology to farmers to more easily to access a variety of information that contains technology innovation that farmers need.
- ItemPemanfaatan Alat Sensor Tegangan Air dan Konduktivitas Listrik Tanah pada Observasi dan Seleksi Galur Tadah Hujan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2019-12) Ratna Rohaeni, Wage; Susanto, Untung; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Seleksi dan observasi adalah tahapan kegiatan pemuliaan untuk memperoleh galur-galur terbaik untuk cekaman biotik dan abiotik.Pengujian cekaman kekeringan diperlukan kepastian kondisi keringpada skala lapang. Oleh sebab itu diperlukan aplikasi alat sensor ataualat ukur cekaman kekeringan. Irrometer dan EM50 Decagon merupakan alat sensor tegangan air tanah dan konduktivitas listrik tanah yang bekaitan dengan cekaman kekeringan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tegangan air tanah dan mengobservasi galur pada set basah dan kering. Penelitian dilaksanakan pada MT1 2018 diKebun Percobaan Sukamandi, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi,Subang, Jawa Barat. Sebanyak total 100 genotipe telah diujikan (termasuk cek Ciherang, Ciherang Sub-1, Inpari 10, Inpari 38, dan Inpari 43 GSR). Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 ulangan digunakan sebagai rancangan percobaan yang tersarang pada 2 kondisi yakni set basah (optimum) dan set kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat Irrometer direkomendasikan diaplikasikan di kedalaman 45 cm dengan target tegangan air tanah > 50 kPa. Konduktivit as listrik mencapai -500 selama cekaman 1 bulan berlangsung. Cekaman kekeringan mulai terjadi H+15 setelah pemberhentian asupan air ke sawah. Cek terbaik di set kering dan konsisten memiliki produtivitas tinggi di dua set adalah Inpari 10. Diperoleh 7 galur yang memiliki konsistensi produktivitas tinggi baik pada kondisi set basah maupun set kering. Galur tersbut diantaranya: BP19980-JK-2-IND-2-SKI-0-PWK-1-SKI-5-1, BP19980-JK-2IND-2-SKI-0-PWK-1-SKI-1-2, BP19978-JK-1-IND-2-SKI-0PWK -1-SKI-4-1, BP29337-2-CRB-0-SKI-0-7-PWK-1-SKI-3-3, BP20106c-SKI-1-2-7-1-PWK-2-SKI-1-4, BP19978-JK-1-IND-2-71 Teknologi Padi Inovatif Mendukung Pertanian Presisi dan Berkelanjutan 72SKI-0-PWK-3-SKI-3-2, dan BP19980-JK-2-IND-2-SKI-0-PWK-1SKI-2-3.
- ItemRespon Padi Terhadap Suhu Rendah, Fisiologi dan Status Pemuliaan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Lestari, Peni; Ratna Rohaeni, WagePadi masih menjadi primadona pangan utama bagi masyarakat Indonesia, walaupun upaya diversifikasi pangan sudah mulai dilakukan di sejumlah daerah. Masalah perluasan konversi lahan sentra produksi padi menjadi sektor non pertanian menggeser pusat lumbung padi ke daerah suboptimal. Saat ini program pemuliaan padi mulai melirik lahan dataran tinggi disamping tipe lahan marjinal lainnya untuk pengembangan padi selanjutnya. Tantangan yang timbul kemudian adalah mencari genotipe padi unggul toleran suhu rendah disamping ketahanannya terhadap penyakit blast. Selama ini seleksi untuk karakter suhu rendah difokuskan pada fase pembungaan. Sebab, tahap pembentukan malai padi adalah fase kritis terhadap cekaman suhu rendah. Namun demikian, terobosan untuk melakukan seleksi pada tahap pertumbuhan yang lebih awal, seperti tahap benih, penting dilakukan. Melakukan seleksi pada tahap ini akan mengurangi luas lahan yang diperlukan untuk seleksi tanaman padi, dibandingkan bila hanya melakukan seleksi setelah tanaman berbunga. Hanya tanaman yang dapat berkecambah dan tumbuh baik pada kondisi suhu rendah yang kemudian diseleksi untuk mengetahui umur berbunga dan produktivitasnya. Terkait seleksi untuk tahap benih, alat thermogradientbar dapat dijadikan pilihan. Alat ini memiliki rentang suhu yang lebar, yakni 2o – 45o C, dengan gradient suhu 1.6o C per kolomnya. Dengan menggunakan alat ini, hanya benih yang toleran suhu dingin yang dapat berkecambah. Beragamnya gradient suhu memungkinkan untuk dilakukan seleksi padi sekaligus untuk berbagai ketinggian tempat berdasarkan perbedaan suhu.