Browsing by Author "Rasahan, Chairil A."
Now showing 1 - 7 of 7
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisa pendapatan migran dan faktor-faktor yang mempengaruhi peluang bermigrasi(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2016-09-14) Anitawati, Maria Theresia; Rasahan, Chairil A.
- ItemAnalisa pendapatan migran dan faktor-faktor yang mempengaruhi peluang bermigrasi(PSEKP, ) Anitawati, Maria Theresia; Rasahan, Chairil A.
- ItemDevelopment of an Integrated Farming Systems Research Network in Indonesia(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-01-01) Faisal Kasryno; Nataatmadja, Hidayat; Pasandaran, Effendi; Rasahan, Chairil A.; Swenson C.G.Farming systems research is neither a new term nor a new methodology. Many techniques in this field originate from early 20th-century farm management research developed by agricultural economists. As noted by Simmonds (1983), international agricultural research centers (IARCs) shifted toward farming systems research when they realized Green Revolution successes were mainly limited to rice and wheat in areas with adequate water, necessary input infrastructure, and market access. Over time, the analytical focus shifted from multiple cropping research programs to cropping systems, and ultimately to farming systems. In Indonesia, the application of farming systems research methodologies builds on a long history of farm management case studies and area surveys. A key example includes studies by the Agro Economic Survey/Rural Dynamics Study, which analyzed all household enterprises, including non-agricultural income sources. Additionally, the National Panel of Farmers Research Program (Patanas) under the Center for Agro Economic Research (CAER) represents an adaptation of the farming systems approach. More directly, farming systems research in Indonesia developed from the IRRI-sponsored rice-based cropping systems program, which became a core element of the research agenda for the Agency for Agricultural Research and Development (AARD) (Syarifuddin et al., 1984).
- ItemPerubahan Ekonomi Pedesaan Menuju Struktur Ekonomi Berimbang(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1988-09-01) Kasryno, Faisal; Suryana, Achmad; Djauhari, Achmad; Simatupang, Pantjar; Hutabarat , Budiman; Rasahan, Chairil A.Pemahaman dinamika pedesaan merupakan salah satu kunci utama dalam perumusan kebijaksanaan pembangunan pertanian yang tangguh. Pentingnya pemahaman tersebut lebih menonjol lagi karena sektor pertanian masih tetap menjadi sektor penting dalam pembangunan nasional. Sektor pertanian tetap diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, mendorong menyediakan kesempatan kerja, dan penghasil devisa. Sejalan dengan proses pembangunan nasional yang terus berlanjut, ekonomi pedesaan mengalami perubahan struktural secara dinamis. Pada saat ini struktur ketenagakerjaan, ragam sumber dan distribusi pendapatan dan pola konsumsi masyarakat pedesaan berbeda jelas dibandingkan dengan keadaan 20 tahun atau bahkan 10 tahun lalu. Peningkatan rata-rata tingkat pendidikan dan pendapatan riil serta makin terbukanya daerah pedesaan merupakan faktor positif yang membawa perubahan-perubahan tersebut. Perubahan struktural ekonomi pedesaan tersebut dicoba direkam dalam prosiding ini. Pembahasan meliputi aspek-aspek usahatani padi, usahatani non padi, ketenagakerjaan, pendapatan, dan konsumsi. Cakupan daerah analisa meliputi pedesaan-pedesaan Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Semua tulisan diangkat dari hasil penelitian Patanas (Panel Petani Nasional) di ketiga propinsi tersebut. Prosiding ini adalah kelanjutan dari prosiding serupa tentang Profil Pendapatan dan Konsumsi Pedesaan Jawa Timur yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Agro Ekonomi pada tahun 1986. Sejalan dengan penelitian Patanas yang dilaksanakan secara berlanjut, prosiding semacam ini masih akan diterbitkan oleh Pusat Penelitian Agro Ekonomi pada tahun-tahun mendatang dan cakupan propinsi yang diperluas.
- ItemProceedings: Workshop on Farming System Research in Indonesia(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-01-01) Pasandaran, Effendi; Yusdja, Yusmichad; Chong, Kee Chai; Rasahan, Chairil A.; Brein, Dennis T O; Swenson, David Hill C.G.Saat ini, Penelitian Sistem Pertanian (Farming Systems Research/FSR) di Indonesia masih berfokus pada pendekatan agronomis dan pola tanam berbasis tanaman pangan untuk meningkatkan pendapatan petani skala kecil di lahan kering. Namun, pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan karena kurang mengintegrasikan sektor non-lahan seperti peternakan dan perikanan, serta belum mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lahan, modal, dan tenaga kerja. Selain itu, FSR masih berorientasi pada model pertanian individual untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga mikro, sehingga belum mampu mendukung pembangunan ekonomi regional atau memperhitungkan dampak pendapatan sosial secara menyeluruh. Di sisi lain, pelaksanaan FSR menghadapi kendala besar berupa keterbatasan anggaran, kurangnya tenaga ahli, serta minimnya kolaborasi lintas disiplin dan antarlembaga akibat struktur penelitian nasional yang masih terkotak-kotak. Teknologi yang dihasilkan pun sulit diadopsi secara luas oleh petani karena kurangnya keterlibatan aktif dari petani dan petugas penyuluh. Ke depannya, model FSR perlu diperbaiki dengan memperjelas keterkaitan antara sektor pertanian berbasis lahan dan non-lahan, membangun komunikasi dua arah yang kuat antara peneliti dan penyuluh, serta melibatkan petani secara langsung dalam mengidentifikasi kebutuhan, menguji teknologi, dan mengevaluasi hasilnya.
- ItemProfil Pendapatan dan Konsumsi Pedesaan Jawa Timur(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1986-11-01) Faisal Kasryno; Nataatmadja, Hidayat; Rasahan, Chairil A.; Yusdja, YusmichadData pertanian yang dikumpulkan oleh BPS dipandang tidak memadai untuk memonitor keragaan sektor pertanian secara cukup terperinci. Tanpa mengurangi relevansi data BPS untuk memonitor pertumbuhan sektor pertanian rakyat, Departemen Pertanian, khususnya Badan Litbang Pertanian, merasa perlu untuk melaksanakan semacam "middle range study" untuk menjembatani kekurangan informasi terperinci dari data BPS di satu pihak dan sempitnya wawasan yang ditangani dalam studi-studi mikro usahatani yang dilaksanakan secara sporadis oleh berbagai lembaga penelitian. Dengan studi PATANAS diharapkan kedua macam informasi itu dapat diolah menjadi suatu simphoni yang mampu menggambarkan denyut pembangunan yang terjadi di desa-desa, di subsektor pertanian rakyat, yang sering dipandang sebagai "kotak hitam" yang penuh dengan misteri. Sasaran pembangunan adalah meningkatkan pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja, dan menegakkan asas pemerataan. Tetapi kalau dipertanyakan apakah sasaran-sasaran itu telah dicapai, sedikit sekali informasi yang dapat kita sajikan, karena sebagian besar informasi yang ada berkisar pada produksi dan produktivitas. Tidak heran banyak pihak yang mempertanyakan mengenai dampak pembangunan terhadap pendapatan masyarakat desa, misalnya anggapan bahwa pembangunan justru memiskinkan suatu golongan masyarakat desa, kelompok penduduk desa yang tidak memiliki lahan usaha. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat secara memuaskan dijawab melalui studi-studi mikro dalam wawasan wilayah yang sempit, dan sulit pula secara meyakinkan dijawab dengan menggunakan data nasional yang dikumpulkan oleh BPS. Melalui studi PATANAS inilah pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat kita jawab dengan tingkat ketepatan dan keterwakilan (representativeness) yang memadai.
- ItemProsiding Hasil Seminar Patanas: Struktur Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga Pedesaan di Jawa Timur(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1986-02-01) Kasryno, Faisal; Nataatmadja, Hidayat; Rasahan, Chairil A.Sejak tahun anggaran 1983/1984 Agro Ekonomi melangkah untuk memprakarsai studi agro ekonomi jangka panjang yang dikenal sebagai Studi Panel Petani Nasional (PATANAS), suatu langkah yang dapat disebut ambisi besar oleh sementara pihak, mengingat keterbatasan sarana dan tenaga pada waktu itu. Studi ini mungkin merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia, yang dapat dipandang sebagai studi agro ekonomi komprehensif untuk menelusuri denyut nadi pertumbuhan sektor pertanian rakyat yang merupakan salah satu sektor terpenting dalam perekonomian di Indonesia. Data pertanian yang dikumpulkan oleh BPS dipandang tidak memadai untuk memonitor keragaan sektor pertanian secara cukup terperinci. Tanpa mengurangi relevansi data BPS untuk memonitor pertumbuhan sektor pertanian rakyat, Departemen Pertanian, khususnya Badan Litbang Pertanian, merasa perlu untuk melaksanakan semacam "middle range study" untuk menjembatani kekurangan informasi terperinci dari data BPS di satu pihak dan sempitnya wawasan yang ditangani dalam studi-studi mikro usahatani yang dilaksanakan secara sporadis oleh berbagai lembaga penelitian. Dengan studi PATANAS diharapkan kedua macam informasi itu dapat diolah menjadi suatu simphoni yang mampu menggambarkan denyut pembangunan yang terjadi di desa-desa, di subsektor pertanian rakyat, yang sering dipandang sebagai "kotak hitam" yang penuh dengan misteri. Sasaran pembangunan adalah meningkatkan pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja, dan menegakkan asas pemerataan. Tetapi kalau dipertanyakan apakah sasaran-sasaran itu telah dicapai, sedikit sekali informasi yang dapat kita sajikan, karena sebagian besar informasi yang ada berkisar pada produksi dan produktivitas. Tidak heran banyak pihak yang mempertanyakan mengenai dampak pembangunan terhadap pendapatan masyarakat desa, misalnya anggapan bahwa pembangunan justru memiskinkan suatu golongan masyarakat desa, kelompok penduduk desa yang tidak memiliki lahan usaha. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat secara memuaskan dijawab melalui studi-studi mikro dalam wawasan wilayah yang sempit, dan sulit pula secara meyakinkan dijawab dengan menggunakan data nasional yang dikumpulkan oleh BPS. Melalui studi PATANAS inilah pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat kita jawab dengan tingkat ketepatan dan keterwakilan (representativeness) yang memadai.