Browsing by Author "Purwantoro"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPanduan Roguing Tanaman dan Pemeriksaan Benih Kedelai(Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, 2012-12-16) Suhartina; Purwantoro; Abdullah Taufiq; Novita NugrahaeniBenih merupakan unsur utama dan menentukan sukses budidaya pertanian. Benih unggul dihasilkan dari proses yang mengikuti teknologi perbenihan baku yang sudah ditentukan. Setiap kelas benih memiliki standar kualitas tersendiri. Semakin tinggi kelas benih semakin ketat persyaratan yang harus dipenuhi. Sejak beberapa tahun belakangan, Badan Litbang Pertanian menyediakan benih sumber (BS) bagi pengembangan benih kedelai secara nasional lewat Unit Pengelolaan Benih Sumber (UPBS) di masing-masing Balai. Dengan bertambahnya varietas unggul kedelai setiap tahun berarti bertambah pula karakter varietas unggul kedelai yang harus diketahui untuk mengawal kualitas benih untuk sertifikasi. Maka pengetahuan tentang karakter penciri varietas menjadi sangat penting. Buku yang berisi informasi tentang rouging dan pemeriksaan benih untuk mengawal peningkatan mutu benih belum banyak tersedia di masyarakat. Buku Panduan Roguing Tanaman dan Pemeriksaan Benih Kedelai ini berisi informasi tentang tata cara mengidentifikasi tanaman simpang (rogues) dan melakukan roguing (membuang tipe simpang) dalam produksi benih kedelai, diharapkan bisa dijadikan pegangan untuk para pihak yang bergerak dalam perbenihan, baik Balai Benih Pemerintah, Swasta maupun Petani atau Kelompok Tani Penangkar Benih, serta Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih), dan para akademisi. Mudah-mudahan buku ini dapat membantu memberikan informasi untuk meningkatkan kualitas benih kedelai untuk pengembangan produksi benih kedelai nasional.
- ItemStatus Hama Kedelai dan Musuh Alami pada Agroekosistem Lahan Kering Masam Lampung(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) W. Tengkano; Supriyatin; Suharsono; Bedjo; Yusmani P.; PurwantoroUsaha peningkatan produksi kedelai melalui perluasan areal tanam pada lahan kering masam dinilai cukup prospektif. Untuk menunjang pengembangan kedelai pada lahan kering masam, telah dilakukan survei hama kedelai dan musuh alaminya di beberapa daerah di Propinsi Lampung pada tahun 2003. Hasil survei menunjukkan bahwa semua jenis hama utama kedelai, kecuali kumbang daun, ditemukan di Lampung dengan status kelimpahan populasi dengan daerah penyebaran yang berbeda. Hama kedelai yang berstatus sangat penting adalah Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Piezodorus hybneri. Hama kedelai yang berstatus penting adalah Etiella zinckenella, Helicoverpa armigera, Spodoptera litura, Bemisia tabaci, Aphis glycines, dan Ophiomyia phaseoli. Hama kedelai lainnya adalah Aphis craccivora, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, Riptortus sp., dan Plautia affinis. Ditemukan dua jenis serangga vektor virus, yaitu A. glycines dan B. tabaci. Hama yang memiliki daerah penyebaran yang sangat luas adalah R. linearis, kemudian diikuti oleh S. litura, N. viridula, L. indicata, B. tabaci, dan E. zinckenella. Musuh alami yang ditemukan adalah predator, parasitoid, dan patogen. Predator ditemukan 24 jenis, parasitoid teridentifikasi 14 jenis, dan patogen dua jenis yaitu NPV dan cendawan entomopatogen. Untuk pengembangan kedelai di Propinsi Lampung perlu tindakan pengelolaan lingkungan secara ekologis, agar hama-hama kedelai tidak menjadi penghambat produktivitas tanaman. D i Indonesia, lahan kering masam cukup luas dan telah banyak yang dibuka untuk usaha pertanian tanaman pangan, termasuk kedelai. Beberapa varietas kedelai dilaporkan toleran lahan kering masam, antara lain varietas Tanggamus dan Nanti, namun ketahanannya terhadap hama penting di lahan kering masam belum diketahui. Secara umum diketahui bahwa serangga arthropoda yang berasosiasi dengan tanaman kedelai di Indonesia tercatat 266 jenis, 111 di antaranya sebagai hama, 53 serangga nontarget, 61 predator, dan 41 serangga parasitoid (Okada et al. 1988a). Hama utama kedelai dan vektor virus bervariasi daerah penyebarannya, dari luas sampai terbatas (Wagiman et al. 1987, Tengkano et al. 1988a, Tengkano et al. 1988b, Tengkano et al. 1991, Okada et al. 1988b)