Browsing by Author "P.P. Ketaren"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPemanfatan Kunyit dan Temulawak sebagai Imbuhan Pakan untuk Ayam Broiler(Balai Penelitian Ternak, 2009) Arnold P. Sinurat; T. Purwadaria; I.A.K. Bintang; P.P. Ketaren; N. Bermawie; M. Raharjo; M. RizalSalah satu aspek yang sudah mulai diteliti untuk menggantikan antibiotika sebagai imbuhan pakan adalah bioaktif tanaman. Kunyit dan temulawak, merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam kehidupan manusia dan diketahui mempunyai zat berkhasiat yang juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap kemungkinan penggunaan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotika dalam ransum unggas. Tepung kunyit dan temulawak dianalisis kadar zat aktifnya sebelum digunakan, kemudian dicampurkan kedalam ransum standard yang disusun untuk ayam broiler dengan berbagai dosis. Dosis yang dicobakan didasarkan pada kandungan zat aktif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi, yaitu temulawak dan kunyit masing-masing dengan dosis rendah, sedang dan tinggi, serta kombinasi kunyit dosis rendah + temulawak dosis tinggi dan kunyit dosis sedang dan temulawak dosis sedang. Ransum kontrol tanpa imbuhan dan yang ditambahkan antibiotika juga dibuat sebagai pembanding. Ransum diberikan pada ayam broiler umur 1 hingga 35 hari, dengan tiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 15 ekor. Hasil menunjukkan bahwa pemberian imbuhan pakan berupa antibiotik, tepung kunyit, tepung temulawak maupun campuran kunyit dan temulawak tidak nyata (P>0,05) menyebabkan perubahan terhadap pertumbuhan, efisiensi pengunaan pakan, mortalitas, daya cerna zat gizi pakan dan persentase karkas ayam broiler.
- ItemPenggunaan Beluntas, Vitamin C dan E sebagai Antioksidan untuk Menurunkan Off-Odor Daging Itik Alabio dan Cihateup(Balai Penelitian Ternak, 2011) Rukmiasih; P.S. Hardjosworo; P.P. Ketaren; P.R. MatitaputtyDaging itik selain alot, warnanya yang merah, juga mempunyai bau yang menyimpang (amis) (off-odor) dan mengandung asam lemak tidak jenuh yang tinggi. Bagi konsumen yang belum terbiasa, bau tersebut tidak disukai. Asam lemak tidak jenuh merupakan bahan yang mudah mengalami oksidasi. Penelitian ini menggunakan dua galur itik yaitu itik Alabio dan itik Cihateup, masing-masing terdiri atas 3 ulangan dengan 4 perlakuan pakan yaitu: 1) K0 (kontrol); 2) Pakan komersial + beluntas 0,5% (KB); 3) Pakan komersial + beluntas 0,5% + Vitamin C 250 mg/kg (KBC); 4) Pakan komersial + beluntas 0,5% + vitamin E 400 IU/kg (KBE). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan respons itik Alabio dan Cihateup terhadap pakan perlakuan dalam kandungan asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh dalam daging dan kulit sama, yaitu pada pakan perlakuan KBE tinggi dan KBC rendah. Tepung daun beluntas sebanyak 0,5% + vitamin E dalam pakan, mampu menurunkan intensitas off-odor dan mempertahankan performa itik dengan baik.