Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Octivia Trisilawati"

Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Efisiensi Penggunaan Pupuk Anorganik pada Nilam 72-76
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Octivia Trisilawati
    Pembudidayaan tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) memerlukan pupuk anorganik yang cukup tinggi, mengingat hara yang terangkut dari dalam tanah cukup banyak untuk beberapa kali panen dalam satu kali penanaman, Pupuk organik hasil pengkomposan limbah penyulingan nilam dan hljauan, serta pupuk hayati fungi mikoriza arbuskula (FMA), dapat membantu perakaran meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara dan air. Pemanfaatan pupuk organik merupakan alternatif untuk mengefisienkan penggunaan pupuk anorganik. Beberapa hasil penelitian pemupukan pada tanaman nilam varletas Tapaktuan dan Sidikalang, menunjukkan bahwa penggunaan kompos limbah nilam dan hijauan serta FMA dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik NPK sampal 2 dosis darl pupuk NPK anjuran. Eksplorasi ke daerah sentra pembudidayaan nilam yang mempunyai tingkat kesuburan lahan yang rendah merupakan kegiatan awal untuk mendapatkan varietas nilam hemat pupuk. Hasil eksplorasi di lima propinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Jawa Tengah, mendapatkan 15 aksesi nilam yaitu ATG1, ATG2, GYL, DRI, PKB, PSM1, PSM2, PSB, GR1, GR3, GR4, BNY, PWK, BRS, dan CLP. Hasil evaluasi awal di rumah kaca terhadap respon ke lima belas aksesi nilam tersebut terhadap pengurangan dosis pupuk NPK sebesar 25-75% dan didapatkan enam aksesi yang relatf stabil produksinya. Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, pupuk anorganik, efisiensi.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pemupukan pada Tanaman Mentha arvensis 85-87
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2012-07-01) Octivia Trisilawati
    Sampai saat ini informasi pemupukan bagi pengembangan budidaya M. arvensis di Indonesia masih sangat kurang. Beberapa penelitian pemupukan hara makro N, P dan K pada lahan dengan tingkat ketersediaan hara N, P dan K yang rendah sampai sedang menunjukkan bahwa untuk mendapatkan produksi terna, minyak dan menthol yang tinggl, M. arvensis membutuhkan pemupukan N yang tidak terlalu tinggi, pupuk K yang hampir sama dengan N, serta pupuk P yang cukup tinggi. Penambahan pupuk N berkisar antara 150-200 kg Urea/ha, pupuk P berkisar antara 200-250 kg SP-36/ha dan pupuk K berkisar antara 150-160 kg KCl/ha. Kata kunci: Mentha arvensis, pupuk.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengaruh Pemupukan Terhadap Produksi Bunga Piretrum Chyrysantemum cinerariaefolium)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2009-06-01) Octivia Trisilawati
    Piretrum (Chrysantemum cinerariae- tanaman folium) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati. Keterbatas- informasi pemupukan pada piretrum mendorong dilakukannya penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk yang tepat bagi produksi bunga piretrum dengan kadar piretrin tinggi. Penelitian dila- kukan di Kebun Percobaan Nagasari, Gunung Putri Cipanas (1.500 m dpl.). Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok, dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas a). 80 kg N + 120 kg P2O5 + 100 kg K₂O/ha, b). FMA, (Fungi Mikoriza Arbuskula) + a, c). FMA2 + a, d). FMA₁ + ½ dosis a, e). FMA₂ + ½ dosis a, f). 30 t pukan/ha, g). FMA, + 30 t pukan/ha, h). FMA₂ + 30 t pukan/ha. FMA₁ merupakan campuran dari Glomus sp.3, Glomus sp.4, Glomus sp.5, Acaulospora morowae, sedangkan FMA, merupakan cam- puran dari Acaulospora spl., Acaulospora sp2., Glomus sp.1 dan Glomus sp.2, Scutelospora sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan berpengaruh nyata terhadap pro- duksi tanaman piretrum (jumlah dan bobot segar bunga pada tanaman sampel maupun total). Perlakuan FMA + 30 t pukan/ha menghasilkan jumlah dan bobot segar bunga sampel serta kadar piretrin tertinggi, masing- masing 261, 189 g, dan 0,65%. Selain itu perlakuan FMA₂ + 30 t pukan/ha menghasilkan jumlah dan bobot segar bunga total tertinggi (660 dan 503 g). Kata kunci : Chrysantemum cinerariaefolium Trevis V'S.. pupuk, produksi bunga
  • No Thumbnail Available
    Item
    Respon Tiga Klon Kumis Kucing (Orthosipon aristatus) Terhadap Mikoriza Arbuskula ; buletin litro vol xvi no 1, 2005 hlmn ; 17-26
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-12-01) Octivia Trisilawati
    Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respon 3 klon kumis kucing (Orthosipon aristatus) terhadap mikoriza arbuskula (MA) tunggal maupun campuran telah dilakukan selama 5 bulan (Maret - Juli 2004) di rumah kaca dan laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap disusun secara faktorial, dengan 3 ulangan, dan 2 faktor. Faktor I adalah klon tanaman kumis kucing yaitu: kumis kucing berbunga putih, berbunga ungu dan berbunga putih keunguan, sedangkan faktor II adalah inokulasi MA (300 spora/ tanaman), yaitu: tanpa MA, Glomus agregatum, MAc-1 (campuran Acaulospora sp. dan Glomus sp.), serta MAc-2 (campuran 8 jenis MA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon kumis kucing berpengaruh nyata terhadap pertambahan pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun dan cabang), bobot segar batang, bobot kering daun dan akar, serta Index Luas Daun (ILD). Kumis kucing berbunga putih memiliki tinggi tanaman, jumlah daun dan cabang, bobot segar dan kering daun, batang dan akar tertinggi dibandingkan kedua klon lainnya. ILD terbesar dimiliki oleh jenis kumis kucing berbunga putih keunguan. Penggunaan MA nyata pengaruhnya terhadap pertambahan pertumbuhan tanaman, bobot segar daun, bobot kering batang dan daun, serta ILD. Klon berbunga putih mempunyai respon yang terbaik terhadap inokulasi MA (bobot segar daun dan serapan P meningkat sebesar 41,1% sampai 89,59%, dan 48,9% sampai 109,2%). Inokulasi Glomus agregatum menghasilkan pertambahan tinggi, jumlah daun dan cabang, bobot kering daun dan batang, serta luas permukaan daun tertinggi pada ketiga klon kumis kucing dibandingkan perlakuan MA lainnya. Kata kunci: Orthosipon aristatus, klon, mikoriza arbuskula, pertumbuhan, produksi

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback