Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Nurmanaf, A. Rozany"

Now showing 1 - 7 of 7
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Partisipasi Masyarakat Petani terhadap Program Penanggulangan Kemiskinan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, 2003-06) Nurmanaf, A. Rozany
    Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat dengan cepat. Pada akhir tahun 1998, BPS mencatat bahwa jumlah penduduk miskin mencapai 49,5 juta jiwa yang 31,9 juta diantaranya terdapat di pedesaan dan selebihnya yaitu 17,6 juta jiwa terdapat di perkotaan. Beberapa lembaga, antara lain World Food Program (WFP) mengakui dampak sosial krisis tersebut walaupun dinilai tidak sedramatis seperti yang digambarkan. Bank Dunia memperkirakan bahwa pertambahan jumlah penduduk miskin di Indonesia akibat krisis ekonomi mencapai 11 persen atau sekitar 22 juta orang pada Februari 1998. Akan tetapi, ada anggapan bahwa sejak tahun 2000 jumlah penduduk miskin tersebut kembali menunjukkan penurunan. DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v1n2.2003.1-13
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengentasan Kemiskinan: Upaya yang Telah dilakukan dan Rencana Waktu Mendatang
    (Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2016-08-31) Darwis, Valeriana; Nurmanaf, A. Rozany
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengentasan Kemiskinan: Upaya yang Telah dilakukan dan Rencana Waktu Mendatang
    (PSEKP, ) Darwis, Valeriana; Nurmanaf, A. Rozany
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Ragam Sumber Pendapatan Rumah Tangga
    (Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1986-11-01) Nurmanaf, A. Rozany; Nasution, Aladin
    Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia karena dihuni lebih dari 60 persen populasi nasional di atas daratan yang luasnya kurang dari tujuh persen. Kondisi ini berdampak pada keterbatasan kepemilikan lahan pertanian, di mana kelompok rumah tangga berpendapatan rendah didominasi oleh petani berlahan sempit, sehingga pemerintah mengupayakan berbagai program seperti penyaluran kredit dan perluasan kesempatan kerja. Seiring berkembangnya ekonomi, kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan nasional dan penyerapan tenaga kerja terus menurun, yang mengindikasikan semakin besarnya peran sektor non-pertanian dalam pendapatan rumah tangga pedesaan. Di sisi lain, distribusi penguasaan lahan dan produktivitas tenaga kerja sangat bervariasi tergantung potensi daerah. Desa dengan lahan sawah subur masih menggantungkan pendapatan utamanya pada sektor pertanian pangan, sementara desa lahan kering lebih bergantung pada komoditas yang minim kebutuhan air. Oleh karena itu, pengkajian pendapatan rumah tangga pedesaan perlu memertimbangkan faktor produksi non-lahan, potensi wilayah, tipe iklim, serta ragam sektor ekonomi yang berkembang.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Ragam Sumber Pendapatan Rumah Tangga di Pedesaan Jawa Timur
    (Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-02-01) Nurmanaf, A. Rozany; Nasution, Aladin
    Ketimpangan penyebaran penduduk di Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang dihuni lebih dari 60 persen populasi nasional dengan kepadatan mencapai 690 orang per kilometer persegi, sehingga berdampak pada semakin langkanya aset tanah pertanian. Kelompok rumah tangga berpendapatan rendah umumnya diidentifikasi sebagai kelompok gurem atau tidak memiliki tanah, sehingga pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan—seperti perkreditan dan pelatihan keterampilan—untuk mengurangi ketergantungan mereka pada lahan. Di sisi lain, peran sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja terus menurun jika dibandingkan dengan sektor lain, yang mengindikasikan semakin besarnya kontribusi sektor non-pertanian terhadap pendapatan masyarakat pedesaan. Kondisi ini menegaskan bahwa tingkat pendapatan dan produktivitas tenaga kerja tidak lagi bisa diukur semata-mata dari penguasaan lahan, melainkan juga dipengaruhi oleh penguasaan modal, keterampilan, serta potensi spesifik daerah dan tipe iklimnya. Di daerah yang didominasi lahan sawah subur, sektor pertanian pangan masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar berkat produktivitas tenaga kerja yang lebih tinggi. Sebaliknya, daerah lahan kering lebih bergantung pada komoditas yang minim kebutuhan air. Oleh karena itu, evaluasi pendapatan rumah tangga pedesaan perlu melihat ragam sumber pendapatan serta variasi potensi wilayah secara lebih komprehensif.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Struktur dan Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Pedesaan di Lampung
    (Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Nurmanaf, A. Rozany
    Perkembangan ekonomi nasional hingga Pelita IV ditandai oleh pergeseran struktural, di mana laju peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh lebih lambat dibandingkan sektor non-pertanian. Pada periode 1971–1980 dan 1980–1985, PDB nasional masing-masing tumbuh 8,1 persen dan 3,0 persen per tahun, sedangkan PDB sektor pertanian hanya tumbuh 3,8 persen dan 2,9 persen per tahun. Ketimpangan laju pertumbuhan ini berdampak pada penurunan porsi PDB pertanian terhadap PDB nasional dari 44 persen (1971) menjadi 30 persen (1980), atau menyusut dari 33 persen pada akhir Pelita II menjadi 24 persen pada akhir Pelita III. Kendati demikian, kontribusi sektor pertanian terhadap kenaikan PDB nasional secara gradual justru mengalami peningkatan, yakni sebesar 15 persen selama Pelita II, 21 persen selama Pelita III, dan mencapai 27 persen pada dua tahun pertama Pelita IV. Kondisi makro tersebut memperlihatkan variasi yang dipengaruhi oleh perbedaan potensi agro-ekologi daerah di tingkat mikro pedesaan. Provinsi Lampung menjadi salah satu wilayah di luar Jawa dengan laju pertumbuhan pesat, ditandai oleh kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) rata-rata 8,5 persen per tahun dan pertumbuhan pendapatan per kapita sebesar 4,3 persen per tahun pada periode 1979–1984. Dari sisi agro-ekologi, Lampung didominasi oleh 1,37 juta hektar lahan kering (tegalan, ladang, dan belukar), sementara dari 146 ribu hektar lahan sawah yang ada pada tahun 1985, sebanyak 52,3 persen merupakan sawah beririgasi dan sisanya berupa lahan marjinal seperti sawah tadah hujan, pasang surut, dan lebak. Berlandaskan keragaman potensi agro-ekologis dan dinamika pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung tersebut, tulisan ini bertujuan memberikan gambaran umum mengenai struktur pendapatan rumah tangga pedesaan. Kajian ini difokuskan pada identifikasi sumber-sumber dan ragam pendapatan, analisis proporsi kontribusi dari setiap sumber penerimaan, serta evaluasi pola distribusi pendapatan di kalangan masyarakat tani di pedesaan Provinsi Lampung.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Struktur Pendapatan Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Pedesaan Sumatera Barat
    (Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1988-09-01) Nurmanaf, A. Rozany
    Pencapaian swasembada beras di Indonesia didukung oleh peran besar 15,7 juta rumah tangga petani tanaman pangan, di mana lahan sawah seluas 7,4 juta hektar mampu menyumbang 37 juta ton padi atau 95 persen dari total produksi nasional pada tahun 1985. Salah satu wilayah pendukung utama di luar Jawa adalah Sumatera Barat, yang dengan luas sawah 221.944 hektar (2,92% dari luas nasional) mampu memberikan kontribusi sebesar 3,72 persen terhadap produksi padi nasional serta menopang kehidupan 402.274 rumah tangga petani. Meskipun kontribusi sektor pertanian sangat nyata, struktur pendapatan rumah tangga tani di pedesaan sangat bervariasi dan ditentukan oleh penguasaan modal, keterampilan, faktor produksi tanah, serta adopsi teknologi. Di wilayah yang kurang subur, ketergantungan pada pendapatan non-pertanian cenderung lebih besar. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji struktur pendapatan rumah tangga petani padi di Sumatera Barat serta menganalisis keterkaitan antara usahatani padi dengan komoditi tanaman pangan lainnya maupun sektor non-pertanian.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback