Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Nurita"

Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    BUDIDAYA TANAMAN PANGAN DI LAHAN RAWA PASANG SURUT
    (Balittra, 2017) Simatupang, R. Smith; Susanti, M. A.; Nurita; Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa
    Bumi/alam diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk dianugerahkan bagi kehidupan makhluk hidup khususnya bagi umat manusia. Bumi terdiri atas tiga komponen dasar yakni tanah, air dan udara, ketiganya saling berinteraksi dan perlu dikelola sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Lahan rawa merupakan lahan basah, yaitu lahan genangan air atau lahan yang mengalami genangan (water logged) secara alamiah terjadi terus menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat sehingga mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis. Sesuai dengan kelas kesesuaian lahannya, lahan rawa termasuk dalam kategori lahan yang sesuai bersyarat. Lahan sub-optimal adalah lahan yang memiliki banyak masalah diantaranya masalah air dan karakteristik kimia tanah yang belum memberikan dukungan maksimal terhadap sistem budidaya pertanian. Lahan rawa pasang surut dapat menjadi lumbung pangan pada masa mendatang, karena potensinya sangat luas (20,1 juta hektar) dan peluang pengembangannya sangat mungkin dilakukan. Inovasi teknologi untuk pengembangan lahan rawa pasang surut untuk budidaya tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai) sudah tersedia, dan siap diimplementasikan mendukung upaya peningkatan produksi pangan nasional. Pengembangan komoditas padi di lahan tipe luapan A dan B dan di tipe luapan C pada musim hujan, sedangkan komoditas jagung dan kedelai pengembangannya diarahkan di lahan tipe luapan C dan D disebabkan komoditas ini tidak tahan genangan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan dukungan berupa regulasi atau kebijakan yang dapat mendorong semua pihak, sehingga pengembangan agroekologi lahan rawa untuk pertanian dapat berlangsung dengan baik dalam mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan. Tumbuhan sagu (Metroxylon sagu Rotth.) adalah sejenis tumbuhan palem tropika basah, merupakan tumbuhan asli Indonesia sumber karbohidrat utama. Tumbuhan sagu, hampir semua bagian tumbuhannya bermanfaat: patinya sumber karbohidrat merupakan bahan makanan pokok sebagian masyarakat Indonesia, dapat dijadikan
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    TANGGAP BEBERAPA VARIETAS TOMAT TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPK DAN BAHAN AMELIORAN PADA LAHAN GAMBUT DANGKAL
    (Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Nurita; Nurul Fauziati
    Pemanfaatan lahan garnbut akan menunjang pembangunan pertanian di Indonesia mengingat luasnya yang mencapai 10,4 juta hektar dan 6,79 juta hektar terdapat di Kalimantan. Lahan gambut, terutama gambut dangkal mempunyai potensi dikembangkan untuk pertanaman sayuran, namun hasilnya masih rendah karena terkendala Oleh kemasaman tanah, ketersediaan hara makro dan mikro yang rendah sehingga menjadi faktor pembatas dalam budidaya tanaman sayuran, terutama tanaman tomat. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penyehatan tanah dengan pemberian pupuk lengkap dan bahan amelioran. Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tomat pada lahan gambut dangkal, dilakukan penelitian di Desa Purwodadi, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, propinsi Kalimantan Tengah pada musim hujan tahun 2003. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah, 3 (tiga) ulangan. Petak utama adalah: l). Ditanam pada kondisi alami (Mo) dan 2). Ditanam dengan diberi tambahan pupuk NPK dan bahan amelioran (kapur dan pupuk kandang) (Ml). Sedangkan anak petak adalah 5 (lima) varietas tomat, l). Varietas Mirah, 2). Varietas Berlian, 3). Varietas Ratna, 4). Varietas Oval dan 5). Varietas Permata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran, serta varietas tomat yang ditanam berpengaruh terhadap pertumbuhan, komponen hasil dan hasil. Hasil tertinggi dicapai varietas Mirah yang ditanam pada lahan yang diberi tambahan pupuk NPK dan bahan amelioran (35,98 t/ha), sedangkan terendah varietas Oval yang ditanam pada lahan dengan kondisi alami (4,77 t/ha). Pengaruh pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran pada lahan gambut dangkal mampu meningkatkan hasil pada masingmasing varietas tomat sebesar 244,64% (varietas Mirah), 125,48% (varietas Berlian), 399,28 % (varietas Ratna), 21 1 ,32% (varietas Oval) dan 255, 10% (varietas Permata),
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    TANGGAP BEBERAPA VARIETAS TOMAT TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPK DAN BAHAN AMELIORAN PADA LAHAN GAMBUT DANGKAL
    (Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Nurita; Nurul Fauziati
    Pemanfaatan lahan garnbut akan menunjang pembangunan pertanian di Indonesia mengingat luasnya yang mencapai 10,4 juta hektar dan 6,79 juta hektar terdapat di Kalimantan. Lahan gambut, terutama gambut dangkal mempunyai potensi dikembangkan untuk pertanaman sayuran, namun hasilnya masih rendah karena terkendala Oleh kemasaman tanah, ketersediaan hara makro dan mikro yang rendah sehingga menjadi faktor pembatas dalam budidaya tanaman sayuran, terutama tanaman tomat. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan penyehatan tanah dengan pemberian pupuk lengkap dan bahan amelioran. Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tomat pada lahan gambut dangkal, dilakukan penelitian di Desa Purwodadi, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, propinsi Kalimantan Tengah pada musim hujan tahun 2003. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah, 3 (tiga) ulangan. Petak utama adalah: l). Ditanam pada kondisi alami (Mo) dan 2). Ditanam dengan diberi tambahan pupuk NPK dan bahan amelioran (kapur dan pupuk kandang) (Ml). Sedangkan anak petak adalah 5 (lima) varietas tomat, l). Varietas Mirah, 2). Varietas Berlian, 3). Varietas Ratna, 4). Varietas Oval dan 5). Varietas Permata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran, serta varietas tomat yang ditanam berpengaruh terhadap pertumbuhan, komponen hasil dan hasil. Hasil tertinggi dicapai varietas Mirah yang ditanam pada lahan yang diberi tambahan pupuk NPK dan bahan amelioran (35,98 t/ha), sedangkan terendah varietas Oval yang ditanam pada lahan dengan kondisi alami (4,77 t/ha). Pengaruh pemberian pupuk NPK dan bahan amelioran pada lahan gambut dangkal mampu meningkatkan hasil pada masingmasing varietas tomat sebesar 244,64% (varietas Mirah), 125,48% (varietas Berlian), 399,28 % (varietas Ratna), 21 1 ,32% (varietas Oval) dan 255, 10% (varietas Permata),
  • No Thumbnail Available
    Item
    Teknologi Olah Tanah Konservasi Dan Implementasinya Dalam Peningkatan Produksi Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) R. Smith Simatupang; Nurita
    Abstract The Conservation Technology of Tillage and Its Impact to Increasing of Rice Production in Tidal Swamp Land. A total of about 9.57 million ha of the tidal swamp land is potential to be developed into productive agriculture land. In such land, food crop development is limited by growth factors, such as physic-chemical soil characters, and soil biology, as well as socio-economic factors. The present of pyrite layers inside this land cause the rice crops suffered from iron toxicity, the land productivity is poor, and finally the land becomes neglect able. Labour availability in this area is very limited, causing the agriculture operations become difficult and slow. To establish rice production in such area, innovation technologies on rice cultivation are absolutely needed particularly those for pyrites conservation on soil, so it is expected that the rice crops save from the negative effect of pyrites. The no tillage technology, which is able to inhibit pyrite oxidation and iron toxicity of the rice crops, is considered to be the most suitable technology in such problem land, as it also saves labour up to about 28% and increases farmer's income due to the increase of the rice yields. In acid sulphate and peaty land, no tillage technology in combination with herbicides increased rice yields by 0.60-0.84 t/ha and by 0.61-0.92 t/ha of dried grains, respectively. The technology also supported a two-times cropping pattern a year and so called as 200% HI (harvest index). It is expected that through the adoption of rice technologies, particularly the no tillage technology, and the tidal swamp land would be able to contribute significantly to the national food security program. Abstrak Sekitar 9,57 juta ha lahan rawa pasang surut potensial untuk. pembangunan pertanian. Pengembangan untuk tanaman pangan dihadapkan pada faktor-faktor pembatas, seperti sifat fisiko-kimia tanah, biologi tanah, dan sosial ekonomi. Adanya lapisan pirit pada lahan ini, dapat mengakibatkan keracunan besi pada tanaman padi, Jika pirit mengalami oksidasi akan menyebabkan lahan mengalami degradasi sehingga produktivitas rendah, dan rendah, dan akhirnya lahan tidak menarik untuk dimanfaatkan dan terlantar. Tenaga kerja di daerah ini sangat terbatas menyebabkan kegiatan pertanian menjadi sulit dan lamban. Untuk ini, maka diperlukan inovasi teknologi budidaya padi teru terutama untuk mengkonservasi pirit yang terdapat di dalam tanah, sehingga pirit tersebut tidak tidak menimbulkan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman padi. Teknologi konservasi tanpa olah tanah merupakan teknologi yang tepat untuk tujuan konservasi pirit tersebut, karena teknologi ini dapat menghambat oksidasi pirit dan keracunan besi pada tanaman padi, menekan tenaga kerja sampai sekitar 28%, dan meningkatkan pendapatan petani sebagai akibat dari hasil padi yang meningkat. Teknologi tanpa olah tanah yang diterapkan bersama dengan herbisida dapat meningkatkan hasil GKG padi 0,60-0,84 t dan 0,61-0,92 t/ha, berturut-turut pada lahan sulfat masam dan pada lahan bergambut. Teknologi ini juga dapat mendukung pola tanam dua kali setahun, sehingga tercapai IP 200. Implikasi dari penerapan teknologi tanpa olah tanah lahan rawa pasang surut ini ke depan, dapat memberikan sumbangan nyata terhadap program ketahanan pangan nasional.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    TEKNOLOGI PANEN DAN PASCAPANEN KEDELAI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2014) KOESRINI; Nurita; S.S. Antarlina
    Kedelai memiliki prospek untuk dikembangkan di lahan rawa pasang surut yang telah diperbaiki kualitas tanahnya. Penanganan panen dan pascapanen kedelai merupakan bagian penting dalam proses produksi kedelai. Rendahnya hasil kedelai di lahan tersebut, selain disebabkan oleh kondisi tanahnya, juga disebabkan oleh penanganan panen dan pasca panen yang kurang tepat. Penentuan waktu panen dilakukan dengan melihat penampilan fisik tanaman saat panen dan kadar air biji. Pemanenan kedelai dapat dilakukan secara manual dengan cara dicabut atau dipotong dan secara mekanis dengan alat pemanen kedelai. Ada enam tahapan yang perlu dilakukan pada penanganan pascapanen kedelai, yaitu (1) pengeringan brangkasan, (2) perontokkan biji, (3) pembersihan biji, (4) pengeringan biji, (5) pengemasan biji dan (5) penyimpanan biji. Pengeringan brangkasan dilakukan sampai kadar air 17%, sehingga memudahkan perontokkan biji. Perontokkan dengan mesin perontok lebih efisien dibandingkan perontokkan secara manual. Biji utuh yang dihasilkan mencapai 98%, sedangkan secara manual hanya 69,9% Pembersihan biji kedelai dengan mesin penampi lebih cepat dibandingkan secara manual. Biji bersih yang dihasilkan pada umumnya masih tinggi kadar airnya, yaitu sekitar 15%. Kadar air biji perlu diturunkan sampai kadar air aman simpan, yaitu 13%-14% (untuk konsumsi) dan (11% untuk benih) dengan cara pengeringan secara alami (sinar matahari) atau buatan (alat pengering). Biji kedelai yang telah kering perlu dikemas dengan wadah kedap udara dan disimpan pada ruang simpan suhu gudang (untuk konsumsi) dan ruang simpan suhu dingin (untuk benih) dengan kisaran suhu 18°-20°C

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback