Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Nila Prasetiaswati"

Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kelayakan Ekonomi dan Respon Petani terhadap Pengembangan Teknologi Produksi Kacang Hijau di Lahan Sawah Tadah Hujan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12-14) Nila Prasetiaswati; S. Radjit
    Budi daya kacang hijau belum menerapkan teknik baku dan cenderung masih tradisional (sederhana). Percobaan dilaksanakan di Desa Megonten dan Tempuran, Kabupaten Demak, pada musim kemarau (bulan Juni-September), 2007 dan 2008, bertujuan mengevaluasi kelayakan ekonomis dan respon petani terhadap penerapan teknologi produksi kacang hijau. Dua perlakuan disusun secara berpasangan, pertama adalah teknologi baku yang terdiri atas varietas Vima I, jarak tanam teratur, pengendalian hama intensif, penyiangan (herbisida dan manual), dan pemberian pupuk daun. Perlakuan kedua adalah teknologi tradisional, varietas lokal. Ukuran petak percobaan 3 ha untuk setiap perlakuan, diikuti oleh 15 petani koperator sebagai ulangan. Tanaman tumbuh tanpa irigasi. Respon petani dianalisis menggunakan metode analisis faktor terhadap variabel komponen teknologi, yaitu pengelolaan lahan, varietas unggul Vima I, jarak tanam, pupuk daun, herbisida, dan panen pada masak fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi baku cukup layak dikembangkan di lahan sawah Vertisol, tanpa pengairan. Hasil biji tertinggi diperoleh dari teknologi baku, yaitu 1,92 t/ha dan 1,72 t/ha, sedangkan cara tradisional hanya menghasilkan 0,26 t/ha dan 1,02 t/ha. Rendahnya hasil dari penerapan teknologi tradisional disebabkan oleh serangan hama penggerek polong (Maruca testulalis). Meningkatnya hasil biji dengan menggunakan teknologi baku, diikuti oleh tingginya keuntungan yang diperoleh yaitu sebesar Rp 8.594.000/ha. Kelayakan usahatani masing-masing dengan B/C ratio 2,9 dan 2,4. Keuntungan teknologi tradisional apabila tidak terjadi serangan hama mencapai Rp 3.136.666 (B/C ratio 1,0). Komponen teknologi varietas unggul Vima I, pengelolaan lahan (babat jerami digunakan sebagai mulsa), dan pupuk daun termasuk faktor utama yang menjadi pilihan petani untuk diadopsi. Faktor pertimbangan kedua terdiri atas jarak tanam teratur, penggunaan herbisida dan pengendalian hama penyakit. Faktor pertimbangan ketiga adalah panen kacang hijau pada stadia masak fisiologis. Sosialisasi teknologi ke petani perlu dilakukan untuk mempercepat adopsi teknologi.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Optimasi Hasil Ubikayu Menggunakan Teknologi Adaptif
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2011-12-16) Budhi Santoso Radjit; Nila Prasetiaswati
    Ubikayu mempunyai potensi besar sebagai sumber karbohidrat dan bahan baku industri. Dari luas areal panen 1,2 juta ha, hasil rata-rata nasional ubikayu baru 18 t/ha dengan hasil rata-rata tertinggi 24,6 t/ha di Lampung. Tingginya kebutuhan ubikayu untuk pangan, bahan baku industri, dan ekspor, diperlukan identifikasi teknologi produksi yang dapat mempercepat peningkatan produktivitas ubikayu secara nasional. Berdasarkan kajian di Kabupaten Malang, Banyuwangi, 244 Iptek Tanaman Pangan Vol. 6 No. 2 - 2011 Lampung Selatan, dan Lampung Tengah, pengelolaan tanaman yang tepat dapat memberikan hasil yang tinggi. Di Malang Selatan, penggunaan masukan sebesar 10 t/ha pupuk kandang, 300 kg urea, dan 300 kg Phonska pada varietas Cecek hijau, Sembung, dan Malang-6 dapat memberikan hasil umbi segar antara 80-87 t/ha dengan keuntungan antara Rp 37.610.000-41.810.000/ha. Di KP Genteng, Banyuwangi, pemupukan 300 kg urea, 100 kg SP36, 100 kg KCl, dan 5 t/ha pupuk kandang, herbisida dan furadan, memberikan hasil 54-62 t/ha umbi segar dengan keuntungan berkisar antara Rp 19-23 juta/ha, dan B/C ratio 2,5-3,0. Di Natar (Lampung Selatan) dan Sulusuban (Lampung Tengah), pemberian 300 kg urea 200 kg SP36, 200 kg KCl, 500 kg dolomit, 5 t/ha pupuk kandang dan herbisida menghasilkan 46-60 t/ha umbi segar dengan keuntungan Rp 26-31 juta di Natar dan Rp 18-22 juta di Sulusuban. Tingginya hasil ubikayu disebabkan oleh tingginya masukan yang dikombinasi dengan pengolahan tanah yang dalam. Harga ubikayu yang memadai pada saat itu, berkisar antara Rp 550-650/kg, juga menyebabkan tingginya keuntungan yang diperoleh petani. Meski hasil ubikayu yang diperoleh dengan masukan tinggi cukup menguntungkan, tetapi keberlanjutannya perlu dikaji lebih lanjut, terutama terkait dengan kesuburan tanah. Diperlukan dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga yang menguntungkan petani, ketersediaan pupuk kandang, dan permodalan
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peningkatan Daya Guna dan Nilai Tambah Ubi Jalar Berukuran Kecil melalui Pengolahan Menjadi Saos dan Selai
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) Erliana Ginting; Nila Prasetiaswati; Yudi Widodo
    Ubi jalar berukuran kecil seringkali tidak laku dijual dan hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak atau dibiarkan di lapang. Kualitas saos dan selai yang dihasilkan dari beberapa proporsi penggunaan ubi jalar berukuran kecil dan besar diteliti di Laboratorium Pengolahan dan Kimia Pangan Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang, pada bulan Oktober- Desember 2004. Ubi jalar varietas Sari diolah menjadi saos dengan empat tingkat campuran umbi berukuran kecil dan besar (100:0, 75:25, 50:50, dan 0:100). Peng- olahan selai menggunakan 50% ubi jalar dan 50% nanas dengan tingkat proporsi umbi besar dan kecil sama seperti pada saos. Saos dan selai ubi jalar yang dihasilkan dari umbi berukuran kecil menunjukkan sifat fisik, kimia, dan pe- nerimaan sensoris yang sama dengan produk yang berasal dari umbi berukuran besar. Perkiraan nilai tambah dari saos dan selai yang menggunakan umbi kecil masing-masing Rp 1.800 dan Rp 1.090/kg umbi segar, hampir 10 kali lipat harga jual umbi kecil. Kualitas produknya tidak kalah dengan sampel produk sama yang terdapat di pasar. Hal ini memberi peluang bagi pengembangan pemanfaat- an umbi berukuran kecil untuk meningkatkan daya guna dan nilai tambahnya. U bi jalar yang bernilai jual adalah yang ukuran umbinya besar dengan diameter minimal 3 cm atau bobot umbi >50 g (Rahayuningsih et al. 2002). Umbi berukuran kecilseringkali tidak laku dijual dan hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak atau dibiarkan membusuk di lapang. Petani di Mojokerto, Jawa Timur, panen ubi dengan proporsi umbi berukuran kecil berkisar antara 10-25% dari hasil panen. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif pengolahan ubi jalar ukuran kecil sebagai bahan baku produk olahan sehingga nilai tambahnya meningkat. Produk olahan yang dapat menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku cukup banyak terdapat di pasar, seperti pasta, campuran saos, sambal, dan selai. Ubi jalar memiliki sifat kekentalan yang baik, rasa netral, warna sesuai untuk produk-produk tersebut dan tersedia sepanjang waktu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Potensi Peningkatan Hasil Ubikayu melalui Stek Sambung (Mukibat)
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12-25) Budhi S. Radjit; Nila Prasetiaswati; E. Ginting
    Budi daya ubikayu stek sambung (mukibat) telah lama dikenal, namun sejauh ini belum dikembangkan secara komersial oleh petani. Dengan meningkatnya permintaan ubikayu sebagai bahan baku bioetanol, maka cara ini mempunyai prospek yang baik dan mulai dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah dan petani, dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Hasil survei kelayakan usahatani menunjukkan belum ada teknologi baku untuk ubikayu stek sambung di tingkat petani. Meskipun demikian, penanaman ubikayu stek sambung mempunyai potensi hasil yang baik di Kabupaten Banyuwangi, Gunung Kidul, dan Lampung Tengah, masing-masing dapat mencapai 59,0 t, 72,0 t dan 59,8 t/ha dengan keuntungan Rp 23.450.000 (B/C ratio 2,6), Rp 8.027.000 (B/C ratio 1,3), dan Rp 22.315.000 (B/C ratio 2,1). Hasil percobaan di KP Genteng menunjukkan bahwa dengan stek sambung, klon Adira4, UJ-5, Kaspro, dan lokal Dampit dapat memberi hasil 90,4-99,7 t/ha, sedangkan dengan stek biasa hanya 54,3-61,9 t/ha. Kadar pati ubikayu stek sambung lebih rendah dibanding stek biasa masing-masing 20,8% dan 22,5%, sedangkan kadar air dan kadar HCN umbi stek sambung cenderung lebih tinggi dibanding stek biasa. Kadar bahan kering dan kadar gula total relatif sama antara ubikayu stek sambung dengan stek biasa

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback