Browsing by Author "Nasrul Hosen"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfisiensi Pemupukan dalam Pola Tanam Padi - Kedelai di Lahan Tadah Hujan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Iswandi H. Basri; Nusyirwan Hasan; Burlis Han; Nasrul HosenPola tanam padi-kedelai sudah diadopsi petani di Aceh sejak beberapа tahun yang lalu. Pengolahan tanah untuk padi dan kedelai dilakukan dengan menggunakan traktor (36 PK). Padi ditanam pada pertengahan Desember dan di panen Maret/April sedangkan kedelai ditanam pada minggu kedua sampai minggu keempat Mei. Padi dipupuk dengan takaran 250 kg urea, 150 kg TSP dan sedikit KCl (10-25 kg) per hektar. Kedelai yang ditanam sesudah padi tidak diberi pupuk sama sekali. Analisis tanah menunjukkan bahwa kandungan P tersedia cukup tinggi, nitrogen dan kalium sedang. Berdasarkan kondisi setempat disusun paket teknologi guna meningkatkan pendapatan petani dan mendukung pola pengembangan yang efektif, efisien serta terlanjutkan. Paket pupuk untuk padi adalah urea tablet, TSP dan KCI masingmasing 100 kg/hektar. Kedelai dipupuk dengan 50 kg Urea dan 100 kg KCI/hektar. Analisis usahatani padi dan kedelai menunjukkan bahwa paket teknologi yang diterapkan oleh petani koperator lebih menguntungkan dibanding petani nonkoperator. Return/cost ratio petani koperator dan nonkoperator dari padi masing-masing 1,95 dan 1,64. Sedangkan kedelai mempunyai return/cost ratio 3,03 dan 2,41. Pemberian urea tablet yang harus dibenamkan di antara empat rumpun padi menimbulkan kesulitan bagi petani sehingga mereka enggan mengikuti cara yang dianjurkan. Hal ini menyebabkan rendahnya produksi dibanding tahun sebelumnya di samping karena adanya perubahan musim. Petani enggan menerapkan zero tillage, karena sesudah padi dipanen, kedelai tidak dapat segera ditanam karena tanah terlalu basah. Akibatnya petani hanya dapat menanam satu kali kedelai sesudah padi karena dengan cara itu, penanaman kedelai baru dapat dilaksanakan pertengahan Mei
- ItemKondisi dan Peluang Peningkatan Produksi Jagung di Sumatra Barat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Nasrul HosenPermintaan terhadap jagung terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga impor jagung tidak dapat dihindari meskipun pada periode tertentu terjadi kelebihan produksi. Teknologi produksi jagung relatif sudah berkembang di kalangan petani, namun rata-rata hasil yang dicapai petani masih rendah sehingga perlu dikaji faktor penyebabnya. Studi kasus di beberapa sentra produksi di Sumatra Barat menunjukkan bahwa petani tanggap terhadap harga jagung. Petani tertarik untuk memperbaiki sistem produksi apabila hargajagung stabil dan menguntungkan mereka. Penggunaan pupuk urea, TSP, dan KCI beragam antar-petani dan antar-lokasi dengan koefisien keragaman yang cикир tinggi. Hal ini merupakan salah satu penyebab beragamnya hasil jagung. Bila petani di sentra produksi menerapkan teknologi pemupukan sesuai anjuran, produksi diperkirakan akan meningkat sebesar 40%. Penelitian pengembangan (on-farm research) di Kabupaten Tanah Datar menunjukkan bahwa hasil jagung yang diperoleh petani nonkoperator hanya 2,75 1, sedangkan yang diperoleh petani koperator mencapai 4,54 t/ha. Agar teknologi produksi dapat diadopsi oleh petani secara utuh dan cepat, maka tataniagajagung perlu diperbaiki agar tercipta sistem yang menguntungkan petani sebagai produsen di satu pihak dan pelaku ekonomi lainnya di pihak lain. Strategi pengembangan jagung berdasarkan konsep agribisnis tampaknya perlu segera diterapkan.