Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Muhamad Djazuli"

Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Manfaat dan Proses Sertifikasi Pertanian Organik 83:88
    (Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-06-01) Muhamad Djazuli
    Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia termasuk di Indonesia akan pola hidup sehat dan kembali ke alam (Back to Nature), menyebabkan permintaan produk pertanian organik (PO) yang dikenal dengan sehat, aman, dan ramah lingkungan meningkat. Pasar dunia PO saat ini mencapai lebih dari US$17,5 miliar dengan laju peningkatan sekitar 10- 20% per tahun. Tingginya permintaan produk PO, menyebabkan munculnya pemalsuan produk PO di pasaran dan merugikan konsumen. Untuk itu, diperlukan program penjaminan produk PO dalam bentuk Sertifikasi Pertanian Organik yang legal dan diakui secara nasional, regional, maupun internasional. Manfaaat sertifikasi PO antara lain (1) memberi jaminan produk PO (certified) yang memenuhi persyaratan sistem PO internasional, (2) melindungi konsumen dan produsen dari manipulasi atau penipuan produk PO, (3) menjamin praktek perdagangan yang lebih etis dan adil, dan (4) memberikan nilai tambah pada produk dan mendorong meraih akses pasar yang lebih luas harga yang lebih tinggi. Ruang lingkup sertifkasi PO antara lain produk tanaman atau ternak dan produk olahan primer untuk konsumsi manusia atau ternak (SNI 6729:2002), serta produk benih, pupuk, dan pestisida organik (SNI 6729:2013). Proses sertifikasi meliputi (a) pengajuan permohonan sertifikasi produk organik, (b) pengisian lembar permohonan sertifikasi oleh Pelaku Usaha, (c) audit kecukupan hasil isian formulir untuk menentukan kelayakan sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) dan apabila dinilai layak, maka dilanjutkan dengan penawaran biaya sertifikasi dan kesepakatan jadwal inspeksi, (d) pelaksanaan inspeksi meliputi audit dokumen, dan inspeksi fisik di lapang, (e) pemaparan hasil inspeksi di Sidang Komisi Sertifikasi (Komser) untuk menentukan kelulusan keorganikan produk yang diajukan oleh Pelaku Usaha, dan (f) penyerahan Sertifikat Organik dan hak menggunakan Logo Organik Indonesia oleh Pimpinan LSO kepada Pelaku Usaha, apabila Sidang Komser menyatakan lulus. Sertifikat Organik berlaku selama tiga tahun dan minimal sekali setahun dilakukan surveilen. Kata kunci: Sertifikasi Pertanian Organik, ruang lingkup, manfaat, proses, SNI 6729: 2013
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Pertumbuhan dan Beberapa Karakter Morfo-fisiologis Tanaman Nilam
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2010-12-01) Muhamad Djazuli
    Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat ber-pengaruh terhadap produktivitas nilam. Salah satu teknologi yang relatif murah dan efektif untuk menekan kerugian akibat adanya cekaman kekeringan adalah peng-gunaan varietas nilam yang toleran terha dap cekaman kekeringan. Tujuan perco-baan ini adalah mendapatkan karakter. morfo-fisiologis varietas dan nomor nilam yang toleran terhadap cekaman keke-ringan. Sebuah percobaan pot dilakukan di rumah kaca Balittro Bogor pada Februari Agustus 2004. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Tujuh varietas dan nomor nilam yaitu Sidikalang, Tapak Tuan, Lhok Seumawe, Aceh Merah, TT 75, II-8, dan Girilaya ditanam di pot kayu berukuran 100 x 25 x 10 cm dan diberikan perlakuan cekaman kekeringan. Setelah benih di tanam, semua pot disiram dengan air sampai jenuh dengan kapasitas lapang 100%. Selanjutnya semua pot diberikan perlakuan cekaman kekeringan dengan tidak memberikan penyiraman sampai umur 120 hari setelah tanam (HST). Parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan, produksi, dan kadar prolin daun. Hasil pengamatan pada umur 120 HST, terlihat bahwa komponen pertum-buhan dan produksi biomas varietas Girilaya paling tinggi diikuti oleh varietas Tapak Tuan. Produktivitas terendah dijum-pai pada varietas Sidikalang. Panjang mak-simum dan bobot segar akar serta kadar prolin di daun tertinggi juga dijumpai pada varietas Girilaya dan Tapak Tuan. Berda- sarkan data hasil pengamatan pertum-buhan, produksi, dan karakter morfo fisiologi dari ketujuh varietas dan nomor nilam yang ketahanannya diuji terhadap cekaman kekeringan, mengindikasikan bahwa varietas dan nomor paling toleran adalah varietas Girilaya dari jenis nilam Jawa (Pogostemon heyeanus Benth). Sedangkan varietas yang paling toleran di antara nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth) dan hasil induksi somaklonal adalah varietas Tapak Tuan. Oleh karena itu, untuk pengembangan nilam di daerah yang sering terjadi cekaman kekeringan, penggunaan varietas unggul Tapak Tuan dapat dianjurkan. Kata kunci: Mlam, karakter morfo-fisiologi, toleran, cekaman kekeringan, produksi
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengaruh Pupuk P dan Mikoriza terhadap Produksi dan Mutu Simplisia Purwoceng
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2011-02-01) Muhamad Djazuli
    Purwoceng (Pimpinella pruatjan) merupa-kan salah satu tanaman obat asli Indone-sia berkhasiat afrodisiak yang hanya mam-pu tumbuh baik di dataran tinggi. Tanah di dataran tinggi umumnya mempunyai kan-dungan hara P rendah. Rendahnya kan-dungan hara P tersedia pada tanah ke-mungkinan disebabkan oleh tingginya daya serap P tanah tersebut. Untuk meningkat-kan ketersediaan hara P, produktivitas, dan mutu tanaman purwoceng, diperlukan teknologi pemupukan yang tepat. Untuk mencapai tujuan tersebut sebuah peneliti-an aplikasi pemupukan P dan mikoriza di-laksanakan di KP. Gunung Putri, Clanjur (1.500 m dpl) dengan menggunakan pot yang berisi 10 kg tanah Andosol dan pu-puk kandang. Percobaan faktorial disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 4 ulangan. Faktor pertama 4 dosis aplikasi mikoriza masing-masing MO (tanpa mikori-za), M1 (10 g mikoriza/pot); M2 (20 g mi-koriza/pot), dan M3 (30 g mikoriza/pot), sedangkan faktor kedua adalah 4 dosis pe-mupukan P masing-masing PO (tanpa pu-puk P), P1 (1 g SP-36/pot), P2 (2 g SP-36/pot), dan P3 (3 g SP-36/pot). Hasil analisis statistik menunjukkan tidak adanya inte-raksi antara aplikasi pemupukan P dan mi-koriza terhadap pertumbuhan dan produksi purwoceng. Aplikasi mikoriza pada dosis 30 g mikoriza/pot (M3) mampu meningkat-kan produktivitas tanaman purwoceng pa-da 4 dosis pemupukan P yang diuji secara nyata. Sebaliknya, pemupukan P tidak ber-pengaruh terhadap pertumbuhan dan pro-duktivitas purwoceng. Perlakuan pemupuk- kan P tanpa pemberian mikoriza (MO) ter-lihat menurunkan beberapa bahan aktif di dalam simplisia purwoceng. Sebaliknya, pemupukan P yang dikombinasikan deng-an aplikasi mikoriza dosis 30 g/pot (M3) mampu meningkatkan kadar bahan aktif sitosterol, stigmasterol, saponin dan ber-gapten simplisia purwoceng masing-ma-sing 22, 44, 8,2, dan 19%. Terdapat inte-raksi yang nyata antara aplikasi P dan mi-koriza pada parameter jumlah populasi dan persentase infeksi mikoriza pada akar. Peningkatan dosis aplikasi mikoriza meningkatkan populasi dan persentase in-feksi mikoriza pada akar. Sebaliknya, pe-mupukan P dosis tinggi terlihat menekan populasi dan persentase infeksi mikoriza pada akar, sehingga untuk meningkatkan populasi dan efektivitas mikoriza pada akar purwoceng diperlukan ketersediaan P tanah yang tidak terlalu tinggi dan opti-mal bagi mikoriza. Kata kunci: Pimpinella pruatjan, mikoriza, pupuk P, produksi biomas, mutu
  • No Thumbnail Available
    Item
    Potensi Pupuk N Hayati Azospirillum dalam Peningkatan Produktivitas Ubi Jalar pada Lahan Suboptimal
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Muhamad Djazuli; Zulhaida; Murtado; Lukman Gunarto
    Teknologi budi daya dengan masukan rendah, seperti penggunaan varietas/ klon yang toleran terhadap kondisi lahan suboptimal dan pemberian pupuk N hayati Azospirillum yang dapat memfiksasi N dari udara, relatif mudah diadopsi petani yang kurang mampu. Penggunaan pupuk N hayati dapat mengurangi pemakaian pupuk N anorganik yang bersifat tidak dapat diperbarui (unrenewable) dan merupakan sumber pencemaran nitrat pada sumber air bersih dan air irigasi. Pupuk N hayati Azospirillum dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan. Tanggap klon ubi jalar terhadap pemupukan N hayati Azospirillum sangat beragam dan dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh/agroekologi. Inokulasi Azospirillum mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas umbi beberapa klon ubi jalar. Tanggap klon terhadap inokulasi Azospirillum di Bogor lebih baik daripada di Kuningan. Pada umumnya, efektivitas Azospirilluт lebih baik pada tanah yang miskin N. Selain mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N anorganik, pemupukan N hayati juga dapat meningkatkan total serapan hara N oleh tanaman ubi jalar dan protein umbi. Beberapa strain Azospirillum sp. sangat efektif meningkatkan produktivitas ubi jalar pada lahan suboptimal, terutama pada lahan yang berkadar N rendah. Inokulasi campuran dua isolat Azospirillum, tampak lebih besar pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas ubi jalar dibandingkan dengan inokulasi isolat tunggal.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Respon Dua Nomor Harapan Piretru Terhadap Pemupukan ; buletin litro vol xviii no 1,2006 hlm ; 13-21
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2006-06) Muhamad Djazuli
    Piretrum merupakan salah satu tanaman penghasil pestisida nabati yang cukup potensial untuk dikembangkan guna mensubstitusi peng- gunaan pestisida sintetis piretroid yang berba- haya terhadap lingkungan dan kesehatan manu- sia. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bunga piretrum yang mempunyai produktivitas tinggi serta kandungan bahan aktif piretrin tinggi dalam jumlah banyak, maka dilakukan aplikasi pemupukan di Kayu Giyang (1 500 m dpl) Wonosobo, Jawa Tengah. Uji respon dua nomor harapan Prau 6 dan Gunung Wates 45 terhadap 7 kombinasi pemupukan N, P dan K menggunakan Rancangan Petak Terbagi, 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pembe- rian pupuk N, dan P pada kondisi agroklimat dataran tinggi desa Kayu Giyang, Dieng, mampu memperbaiki produktivitas piretrum dengan meningkatkan jumlah bunga dan bobot segar bunga klon Prau 6 dan Gunung Wates 45 secara nyata. Aplikasi pemupukan NPK dengan dosis sedang (100 kg N, 200 kg P, dan 100 kg K/ha) mampu menghasilkan produktivitas dan efisiensi pemupukan yang cukup tinggi tetapi tidak berbeda nyata dengan dosis pemupukan NPK yang tinggi. Berdasarkan status hara dan bobot kering tanaman dapat disimpulkan bah- wa jumlah hara N yang diserap oleh tanaman piretrum paling besar, kemudian diikuti oleh K, dan P. Dosis pupuk P yang dibutuhkan untuk tanaman piretrum relatif kecil sekitar 20,00% dari kebutuhan pupuk N. Kadar piretrin dari kedua klon yang diuji relatif tinggi (>1,00%).

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback