Browsing by Author "Maria Fatima Palupi"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemAYAM SPECIFIC PATHOGEN FREE (SPF)(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Maria Fatima PalupiGlosary series BBPMSOH edisi Oktober 2020 berisikan penjelasan mengenai Ayam Spesific Pathogen Free (SPF). Menurut Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI) sediaan Biologik Edisi 5 tahun 2018 ayam SPF adalah ayam yang bebas dari berbagai penyakit tertentu. Menurut sumber lain ayam SPF adalah ayam yang dipelihara sedemikian rupa sehingga bebas dari beberapa penyakit tertentu dan tidak mengandung/mempunya antibodi terhadap penyakit-penyakit tersebut. Ayam SPF sering digunakan untuk memproduksi vaksin dan pengujian vaksin unggas. BBPMSOH sebagai lembaga pengujian memiliki kandang ayam SPF tersendiri dimana pemeliharaan ayam SPF diberikan fasilitas secara khusus guna memastikan tidak adanya kontaminasi ataupun interaksi dari mikroorganisme.
- ItemEvaluation of Antibiotic/Antibacterial From Passive Veterinary Drug Sampels At National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL) Year 2021-2024(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2025) Maria Fatima PalupiResistansi bakteri terhadap antimikrob saat ini menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan manusia dan hewan. Penggunaan antibiotik yang tidak memenuhi standard kesehatan yang telah disyaratkan memicu timbulnya resistansi antibiotik. Sebaliknya, antibiotik yang digunakan secara tepat akan berkontribusi besar dalam menekan jumlah laju resistansi antibiotik pada hewan. Kajian ini bertujuan mengevaluasi berbagai jenis zat aktif antibiotik dari sampel yang diterima oleh Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) pada periode tahun 2021-2024. Berdasarkan hasil kajian ditemukan golongan fluoroquinolone adalah antibiotik yang paling sering ditemukan pada sampel sertifikasi dan layanan teknis. Sedangkan tetrasiklin adalah golongan yang mayoritas ditemukan pada sampel layanan daerah/regional. Dari tulisan ini diketahui terdapat beberapa jenis antibiotik yang digunakan di hewan yang masuk ke kategori Highest Priority Critically Important Antimicrobial (HPCIA). Oleh karena itu, sangat dibutuhkan regulasi yang ketat, pengawasan lebih lanjut, serta pemahaman kepada semua pihak terutama peternak serta masyarakat veteriner mengenai bahaya dan risiko penggunaan antibiotik yang sesuai anjuran dokter hewan.
- ItemMonitoring Resistansi Kolistin Pada Escherichia Coli Dari Ayam Broiler Pasca Pelarangan Penggunaan Kolistin Pada Hewan Produksi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2025) Maria Fatima Palupi; Nurhidayah; Novida Ariyani; Siti Khomariyah; Ambarwati; Indriyana; Anna Miftahul Jannah M.; Emi Rusmiati; Nafisah Idrishanti; Fika Astati FananiSesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 09 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), BBPMSOH memiliki tugas dan fungsi melakukan pemantauan obat dan vaksin hewan dan pengujian resistansi antimikroba. Selain itu, sejalan dengan Surat Edaran Dirjen PKH No 09160/PK.350/F/12/2029 tanggal 09 Desember 2019 tentang Pelarangan Penggunaan Kolistin pada Hewan secara resmi tanggal 01 Juli 2020, Kolistin telah resmi dilarang untuk digunakan di hewan produksi di Indonesia. Hal ini diperkuat lagi dengan penambahan Lampiran 3 pada Permentan No 14/Permentan/PK.350/5/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Kolistin sulfat sendiri adalah antimikrob yang sangat penting bagi manusia karena masuk kedalam kategori Highest Priority Critically Important Antimicrobials for Human Medicine Bersama dengan sefalosporin (generasi ke-3, 4 dan 5), kuinolon, glikopeptid, makrolid dan ketolide. Sejak kolistin dilarang penggunaannya pada hewan produksi, belum diketahui efektivitas penurunan tingkat resistansi kolistin pasca pelarangan sejak tahun 2020. Pada pengkajian ini membahas monitoring resistansi kolistin pada ayam broiler dengan target utama bakteri Escherichia coli. Sampel diperleh dari 6 Kabupaten di 5 provinsi di Indonesia. Setiap sampel di uji resistansinya terhadap kolistin menggunakan uji sensitivitas microbroth dilution (MBD), selain itu dilakukan uji patogenesitas dengan menggunakan uji Congo red.