Browsing by Author "Ma'mum"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemKARAKTERISTIK MORFOLOGI, KOMPONEN HASIL DAN MUTU NOMOR KOLEKSI PURWOCENG DI GUNUNG PUTRI(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Rostiana, Otih; Haryudin, W.; Ma'mumKajian terhadap kandungan bahan aktif dan khasiat purwoceng sebagai tanaman obat berkhasiat afrodisiak telah banyak dilakukan. Namun, bahan tanaman unggul dengan informasi karakteristik yang diinginkan belum tersedia. Karakterisasi terhadap nomor koleksi purwoceng di KP. Gunung Putri, Cipanas, Jawa Barat tahun 2005, diperoleh data keturunan F1 dapat dibedakan berdasarkan warna tangkai daun, dan pembungaan (merah gelap, merah dan hijau kemerahan), namun proporsinya beluin jelas. Sifat pembeda lainnya terlihat dari diameter akar dan produksi herba basah, yang berlainan antar aksesi yang dikoleksi. Penelitian terhadap morfologi (warna tangkai daun, daun dan tulang daun), dilakukan untuk menentukan sifat pembeda antar aksesi serta proporsi warnanya, komponen hasil juga mutu simplisia. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Desember 2006 di KP. Gunung Putri, Cipanas, menggunakan enam nomor koleksi purwoceng (Pipru 01, 02, 03, 04, 05 dan 06), ditanam dengan jarak tanam 30 x 40 cm, di dalam petak berukuran 6 x 4 m², populasi per petak 100 tanaman. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, keenam aksesi purwoceng dapat dibedakan secara morfologi berdasarkan karakter warna daun, tulang daun dan tängkai daun. Sifat pembeda dengan proporsi yang jelas adalah warna tulang daun bagian bawah Pipru 01 dan 02 (hijau) berbeda dengan Pipru 03, 04 dan 05 (merah), warna daun dewasa bagian bawah Pipru 01, 02, 03, 04, dan 05 (hijau) berbeda dengan Pipru 06 (merah), serta warna tangkai daun muda bagian atas Pipru 03 (hijau) berbeda dengan lima aksesi lainnya (merah). Namun penyimpangannya masih relatif tinggi, sehingga perlu dilakukan pemurnian benih supaya identitas populasi dari setiap aksesi lebih akurat. Komponen hasil dan produksi keenam aksesi tidak berbeda nyata pada umur 6 BST, sedangkan mutunya berbeda. Kandungan sitosterol tertinggi (15,9 ppm) diperoleh dari akar Pipru 06, stigmasterol (13,6 ppm) dari akar Pipru 03, saponin (18,8 ppm) dari terna Pipru 06, bergapten (6,9 ppm) dari terna Pipru 03.
- ItemPEMANFAATAN TANAMAN AKWAY (Drymis sp.) OLEH MASYARAKAT LOKAL DI MANOKWARI, PAPUA BARAT(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Bermawie, Nurliani; Kristina, NN; Martono, B; Djazuli, M; Ma'mumManokwari dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan kekayaan hayati dan kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Untuk mengetahui tumbuhan oleh masyarakat lokal telah dilakukan survei etnobtani pada bulan Agustus tahun 2005 di kabupaten Menokwari, Papua Barat. Tanamar alwny banyak ditemukan didaerah pegunungan Arfak, dataran tinggi Myambouw, Kabupaten Manokwari. Masyarakat setempat memanfaatkan kulit dari batang tanaman akway untuk meningkatkan stamina, afrodisiak dan anti infeksi. Hasil analisis kimia menggunakan GC-MS dari kulit kayu tanaman akway menunjukkan adanya 12 senyawa kimia berkisar antara 0,57 - 16,72%, dengan konsenytrasi tertinggi adalah 7,11-epoksi isogormakron (16,72%), 9,10-dimetil fenatren (polygodial) (8,12%) 2,5-dimetil-3-etilfuran (7,36%) 7,8- isopropiliden di oksi bisiklo (4,2) (3,43%) dan 5-sedranon (1,87%). Senyawa dari golongan fenantren diketahui bersifat sebagai afrodisiak, anti inflamasi dan anti alergi. Hasil analisis ini mendukung klaim masyarakat bahwa kulit batang kayu akway berkhasiat sebagai obat afrodisial, anti infeksi.