Browsing by Author "J. Wargiono Et al."
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemAreal Pertanaman dan Sistem Produksi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) J. Wargiono Et al.Peningkatan produksi ubikayu nasional untuk memenuhi kenaikan permintaan bahan baku industri dan pangan (sebesar 5–7% per tahun) menghadapi kendala utama berupa fluktuasi dan penurunan luas panen akibat konversi lahan, khususnya di Jawa. Oleh karena itu, strategi pengembangan diarahkan pada ekstensifikasi—terutama pemanfaatan 0,9 juta ha lahan tidur padang alang-alang di wilayah beriklim basah seperti Sumatera dan Kalimantan—serta intensifikasi berbasis teknologi adaptif untuk meningkatkan produktivitas dari tingkat subsisten (10–15 t/ha) menuju usahatani komersial (20–30 t/ha). Penerapan pola tanam yang fleksibel, seperti tumpangsari dan pergiliran tanaman, terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan (LER 1,6–2,1), menekan risiko gagal panen, serta efisien dalam penggunaan pupuk. Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku industri (seperti tapioka, bioetanol, dan gula cair) sekaligus menstabilkan harga ubi segar di tingkat petani (Rp300–350/kg), pengembangan kawasan usahatani perlu diintegrasikan secara sinergis dengan industri pengolahan regional serta pengelolaan tanaman terpadu.
- ItemDinamika Budi Daya Ubikayu(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) J. Wargiono Et al.Peningkatan produksi ubikayu nasional untuk memenuhi kenaikan permintaan bahan baku industri dan pangan (sebesar 5–7% per tahun) menghadapi kendala utama berupa fluktuasi dan penurunan luas panen akibat konversi lahan, khususnya di Jawa. Oleh karena itu, strategi pengembangan diarahkan pada ekstensifikasi—terutama pemanfaatan 0,9 juta ha lahan tidur padang alang-alang di wilayah beriklim basah seperti Sumatera dan Kalimantan—serta intensifikasi berbasis teknologi adaptif untuk meningkatkan produktivitas dari tingkat subsisten (10–15 t/ha) menuju usahatani komersial (20–30 t/ha). Penerapan pola tanam yang fleksibel, seperti tumpangsari dan pergiliran tanaman, terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan (LER 1,6–2,1), menekan risiko gagal panen, serta efisien dalam penggunaan pupuk. Untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku industri (seperti tapioka, bioetanol, dan gula cair) sekaligus menstabilkan harga ubi segar di tingkat petani (Rp300–350/kg), pengembangan kawasan usahatani perlu diintegrasikan secara sinergis dengan industri pengolahan regional serta pengelolaan tanaman terpadu.
- ItemPengembangan Areal Pertanaman dan Sistem Produksi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012) J. Wargiono Et al.Pengembangan areal pertanaman ubijalar (Ipomoea batatas L.) menghadapi kendala berupa laju peningkatan produksi yang lambat akibat fluktuasi luas panen serta produktivitas yang masih di bawah potensi genetiknya, sehingga memicu defisit untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan industri. Penulisan ini bertujuan mengulas strategi pengembangan areal pertanaman dan sistem produksi ubijalar guna meningkatkan produktivitas serta pemenuhan kebutuhan nasional secara berkelanjutan. Keberhasilan ekstensifikasi bertumpu pada kemampuan mengoptimalkan faktor pendorong internal dan eksternal—seperti keunggulan fisiko-kimia, toleransi kekeringan, ketersediaan lahan sawah IP 100, dan potensi keuntungan usahatani—sekaligus mengatasi hambatan berupa alih fungsi lahan, efek alelopati, peka naungan, serta cekaman hama boleng dan penyakit kudis. Penerapan teknologi budi daya yang akurat pada sistem monokultur, rotasi, maupun tumpangsari—meliputi pembuatan guludan untuk memperbaiki aerasi tanah, penggunaan bibit berkualitas, pemupukan NPK yang berimbang, serta perbaikan fisik-kimia tanah melalui pembenaman bahan organik—terbukti mampu meningkatkan hasil panen dan efisiensi usahatani. Integrasi antara perluasan areal pertanaman yang terfokus di wilayah sentra produksi dan pengembangan industri pengolahan lokal menjadi langkah strategis untuk menjamin kepastian pasar serta memperkuat ketahanan pangan nasional