Browsing by Author "Irwan Nasution"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemEvaluasi Keragaman Genetik Plasma Nutfah Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) T. Sudiaty Silitonga; Hartini R. Hifni; Mukelar Amir; Kosim Kardin; Irwan Nasutionarietas unggul merupakan salah satu unsur penting dalam peningkatan produksi. Akan tetapi, perkembangan dan penyebaran varietas unggul padi telah menyebabkan terdesaknya padi lokal. Padahal padi lokal sangat penting artinya sebagai sumber genetik dalam perbaikan atau perakitan varietas unggul baru dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk memperluas keberadaan keragaman genetik maka plasma nutfah perlu dilestarikan dan dimanfaatkan. Dalam kaitan ini telah diidentifikasi dan dievaluasi sejumlah plasma nutfah padi. Dari 1.500 varietas lokal yang diuji, terdapat 89 yang tahan terhadap delapan ras penyakit blas, 19 agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain IV, 36 bereaksi tahan terhadap penyakit daun bergaris putih, 167 tahan terhadap hama ganjur, 21 toleran kekeringan, 5 toleran terhadap kemasaman tanah PMK, 5 toleran terhadap keracunan aluminium, dan 20 varietas toleran terhadap keracunan besi.
- ItemMasalah Pencemaran Kadmium (Cd) pada Padi Sawah(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Sismiyati Roechan; Irwan Nasution; Lalu Sukarno; A.K. MakarimKadmium (Cd) merupakan salah satu logam berat yang sifatnya mirip dengan hara seng (Zn), tetapi merupakan racun dan dapat menghambat aktivitas enzim dan protein dalam jaringan tanaman, hewan, dan manusia. Sumber utama pencemaran Cd adalah limbah tambang logam berat, pabrik minyak, pabrik semen, penyepuhan, dan pusat pembakaran sampah. Cd banyak terdapat dalam batuan endapan fosfat yang merupakan bahan dasar pupuk fosfat. Hasil penelitian di Lampung dan Jawa Barat menunjukkan bahwa kadar Cd pada beras pecah kulit meningkat dengan meningkatnya takaran pupuk TSP. Pada takaran 200 kg TSP/ha, kadar Cd pada beras mencapai 0,047 ppm. Di Jepang, ambang batas kadar Cd di beras adalah 1,0 ppm, tetapi menurut WHO 0,24 ppm. Kadar Cd beras pecah kulit di beberapa lokasi dalam kawasan industri di Jawa Barat masih di bawah standar WHO. Kadar Cd dalam tanaman dan tanah meningkat dari waktu ke waktu. Kadar Cd tanah tertinggi pada sawah yang pernah diamati di Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah 0,619 ppm. Angka ini jauh di bawah angka kadar Cd tanah tercemar di Jepang yang sudah mencapai 35,4 ppm pada lahan kering dan 3,82 ppm pada lahan sawah. Hasil penelitian menunjukkan, dengan meningkatnya kadar Cd tanah, kadar Cd padajerami dan beras pecah kulit meningkat pula. Translokasi Cd dari jerami ke gabah sangat kecil. Hal ini menguntungkan kalau lahan sawah ditanami dengan padi, namun berbahaya kalau ditanami dengan sayuran. Pengendalian pencemaran Cd antara lain dapat dilakukan dengan penggunaan bahan organik, ZnSO4, dan pengapuran.