Browsing by Author "Irsal Las"
Now showing 1 - 11 of 11
Results Per Page
Sort Options
- ItemDeskripsi Varietas Unggul Baru Padi(BALAI PENELITIAN TANAMAN PADI, 2003-12-16) Ooy S. Lesmana; Husin M. Toha; Irsal LasUpaya peningkatan produksi padi melalui inovasi teknologi varietas unggul baru (VUB) sangat menonjol bila dipadukan dengan pengolahan lahan, air, tanaman dan organisme pengganggu (LATO). Varietas unggul menjadi andalan utama, karena usahatani padi merupakan usaha yang bersifat subsisten, tetapi padi memiliki kedudukan yang sangat strategis. Balai Penelitian Tanaman Padi (BALITPA) sebagai sumber IPTEK padi telah melepas beberapa varietas unggul baru. Pelepasan varietas unggul baru, selain untuk peningkatan potensi hasil tinggi, juga memperhatikan mutu hasil dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Untuk mendapatkan potensi hasil yang tinggi, program penelitian perakitan varietas telah melakukan perakitan padi hibrida dan padi tipe malai lebat (Padi Tipe Baru). Melalui penelitian pemuliaan partisipatif (Participatory Breeding), juga diharapkan memperoleh varietas unggul baru yang bersifat teknologi dan lokal spesifik seperti untuk sawah irigasi dataran rendah sampai sedang, untuk gogorancah, daerah endemis hama dan penyakit tertentu (wereng coklat, tungro, hawar daun bakteri dan bias), lahan kering podzolik merah kuning (PMK), keracunan alumunium dan besi, lahan rawa pasang surut dan gambut. Buku ini memuat informasi deskripsi varietas padi dengan karakteristik masingmasing keunggulannya yang disusun berdasarkan tahun pelepasan dari kurun waktu 1995 sampai 2002. Diawali varietas Memberamo sampai yang terbaru dilepas (akhir 2002) yaitu varietas Cigeulis, Gilirang (padi sawah) dan Situ Bagendit, Situ Patenggang untuk padi gogo (lahan kering). BALITPA berharap agar buku ini dapat bermanfaat bagi pengguna, khususnya petani dalam memilih suatu varietas padi unggul yang akan dikembangkan sesuai lingkungan daerahnya. Untuk perbaikan ke depan, kritik dan saran dari pembaca selalu kami nantikan.
- ItemEvaluasi Mutu Beras(BALAI PENELITIAN TANAMAN PADI, 2003-12-16) Suismono; Agus Setyono; S. Dewi Indrasari; Prihadi Wibowo; Irsal LasMenghadapi perdagangan bebas AFTA pada tahun 2003 dan meninjau kondisi perdagangan beras pada saat ini, pemerintah menghadapi masalah besar. Tantangan pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi beras, namun aspek kualitas beras menjadi tuntutan konsumen dari dalam dan luar negeri di masa sekarang dan yang akan datang. Hal ini terbukti dengan masuknya beras impor yang berkualitas sama dengan beras dalam negeri, namun harganya lebih murah, sehingga persaingan bertambah ketat. Keragaman mutu beras di pasaran disebabkan kurangnya pengetahuan dan informasi tentang kualitas dan kemurnian beras, sehingga dimanfaatkan oleh pelaku pasar seperti penggilingan padi dan pedagang beras untuk melakukan manipulasi mutu beras, antara lain dengan melakukan pencampuran beberapa varietas, pencampuran beras dengan tingkat kualitas yang berbeda, atau informasi yang tidak sesuai antara kemasan dan isinya. Buku ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kualitas beras murni dan merupakan usaha pembinaan perbaikan mutu beras di pasaran, sehingga konsumen beras mendapatkan jaminan mutu beras seperti yang diharapkan. Buku ini menguraikan karakteristik mutu beras baik yang berasal dari varietas lokal, varietas introduksi maupun varietas hasil rakitan Balai Penelitian Tanaman Padi (BALITPA) yang dilepas sampai tahun 2002. Mudahmudahan informasi yang tersaji dalam buku ini bermanfaat bagi pengguna.
- ItemInovasi Teknologi(BALAI PENELITIAN TANAMAN PADI, 2004-12-16) Irsal LasTekad pem erintah untuk meningkatkan produktivitas padi terus dilakukan seiring dengan tingkat kebutuhan dan laju perkembangan penduduk. Peningkatan produktivitas tersebut didukung oleh berbagai program, seperti ekstensifikasi, intensifikasi, rekayasa kelembagaan dan inovasi teknologi. Badan Litbang Pertanian yang diim plem entasikan m elalui Balai Penelitian Tanaman Padi (BALITPA) terus berupaya m eneliti dan mengembangkan teknologi yang diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut. Bagi Indonesia, padi adalah kehidupan dan sumber kesejahteraan bangsa. Tahun ini merupakan tahun padi internasional (TPI 2004) dan sekaligus tahun padi nasional 2004. Dalam kesempatan ini BALITPA menginformasikan kiprah kinerja sebagai sumber IPTEK padi Indonesia. Hasil penelitian yang cukup handal dan m enonjol dalam mendukung peningkatan produktivitas padi diantaranya pemanfaatan sumberdaya genetik dalam perakitan varietas unggul baru (VUB), hibrida dan padi tip e baru (VUTB). Pelepasan varietas m em perhatikan kepada ekosistem yang berbeda dan bersifat lokal spesifik dengan meningkatan diversitas pilihan bagi petani. Didukung oleh teknik budidaya yang mampu meningkatan produktivitas, efisiensi input, kelestarian sumberdaya tersedia dan lingkungan,m odel/pendekatan PTT telah te ru ji mampu meningkatkan produksi. Sistem intergrasi padi dengan komuditas lain (ikan, ternak, dan HTI) meningkatkan hasil yang tinggi setara dengan padi dan produktivitas lahan yang meningkat. Pengelolahan hara spesifik lokasi (SSNM), perlindungan tanaman dan penanganan pra/pascapanen merupakan hasil penelitian yang terus-menerus dikembangkan. Inovasi teknologi m elalui diseminasi hasil penelitian sampai ke pengguna dilakukan ekspose, pameran, seminar, lokakarya dan tem u lapang. Untuk pengembangan VUB, VUTB dan Hibrida cepat ke penguna telah disalurkan benih sumber (BS) dan benih dasar (FS) m elalui UPBS. Tulisan ini disajikan secara singkat dan merupakan apresiasi kinerja BALITPA dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai sumber IPTEK padi. Tersusunnya tulisan in i, saya sampaikan penghargaan dan terim a kasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya. K ritik, saran dan umpan balik selalu kami harapkan untuk arah penelitian ke depan. Semoga berm anfaat.
- ItemKegiatan Percontohan PeningkatanProduktivitas Padi Terpadu 2002(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Zulkifli Zaini; Irsal Las; Suwarno; Budi Haryanto; Suntoro; E. Eko AnantoSejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka program intensifikasi padi sudah selayaknya mendapat perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai aspek, baik teknis maupun kelembagaan pendukung. Dalam dasawarsa terakhir, produksi padi Indonesia mengalami stagnasi/pelandaian. Hal ini disebabkan antara lain oleh degradasi lahan, terutama pada sawah produktif yang selama ini digunakan untuk intensifikasi usahatani padi. Berbagai penelitian yang dilaksanakan selama ini telah berhasil mengatasi masalah tersebut. Berangkat dari fenomena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bina Produksi Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan akan mengimplementasikan Kegiatan Percontohan Peningkatan Produksi Padi Terpadu (P3T) di 14 propinsi di Indonesia. Kegiatan Percontohan P3T yang pelaksanaannya direncanakan pada tahun 2002 merupakan upaya pengembangan model alih teknologi atau inovasi baru untuk memacu peningkatan produktivitas usahatani padi dan sekaligus peningkatan pendapatan petani melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu Padi Sawah Irigasi, teknologi Produksi Benih dan Pengembangan Padi Hibrida, dan Sistem Integrasi Padi-Ternak yang didukung oleh Pengembangan Kelembagaan Usaha Agribisnis Terpadu, baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten. Pedoman umum ini memuat maksud, tujuan dan sasaran kegiatan, serta garis besar acuan pengelola kegiatan maupun anggaran bagi para pelaksana di pusat, propinsi dan terutama di kabupaten sebagai penerima manfaat terbesar kegiatan. Berdasarkan Pedoman Umum ini diharapkan para pelaksana dapat merencanakan anggaran secara berdaya guna dan berhasil guna. Pedoman Umum ini dirancang sedemikian rupa sehingga terdapat keleluasaan bagi daerah menterjemahkan lebih lanjut ke dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) yang disusun oleh propinsi dan Petunjuk Teknis (Juknis) oleh kabupaten sesuai dengan potensi wilayah, kebutuhan serta dinamika aspirasi masyarakat yang bervariasi antarwilayah. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi disampaikan kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan panduan ini.
- ItemPadi TIPE BARU(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2004-12-16) A.K. Makarim; Irsal Las; Achmad M. Fagi; I Nyoman Widiarta; Djuber PasaribuDalam beberapa tahun ke depan dikhawatirkan defisit antara produksi padi dan permintaan beras akan semakin besar. Hal ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya laju peningkatan permintaan sementara konversi lahan sawah produktif makin pesat dan laju peningkatan produksi padi nasional mengecil. Sejak dua dekade lalu kurva produksi padi cenderung melandai. Pengalaman menunjukkan penggunaan varietas padi unggul dengan teknik budi daya yang tepat telah memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan produksi padi. Meski demikian, varietas unggul yang telah dan sedang digunakan petani saat ini seperti IR64, Memberamo, Ciherang, Way Apoburu, Bondoyudo, Kalimas, dan Sintanur tidak mampu lagi berproduksi lebih tinggi karena kemampuan genetiknya terbatas. Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) yang bernaung di bawah Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) terus berupaya merakit varietas unggul berpotensi hasil tinggi. Salah satu terobosan yang dihasilkan adalah varietas unggul tipe baru (VUTB) yang dirakit dari plasma nutfah potensial yang dihimpun dari berbagai sumber, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa di antara sejumlah galur hasil persilangan itu memiliki harapan untuk dikembangkan, satu di antaranya telah dilepas pada tahun 2003 dengan nama VUTB Fatmawati. Uji adaptasi di berbagai lokasi yang cocok untuk VUTB menunjukkan bahwa VUTB Fatmawati mampu menghasilkan gabah 10-20% lebih tinggi dari IR64. Guna mendukung upaya peningkatan produksi padi nasional, penanaman VUTB diharapkan dapat segera meluas ke sentra-sentra produksi padi sawah irigasi. Pedoman ini disusun untuk digunakan dalam perluasan tanam VUTB dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT). Kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan dan penerbitan Pedoman Pengembangan VUTB ini kami sampaikan penghargaan dan terima kasih.
- ItemPedoman Teknis Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif Menunjang Usahatani Terpadu(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2003) Zulkifli Zaini; A. Karim Makarim; Irsal Las; Budi Haryanto; Suntorodentifikasi wilayah dan permasalahan dalam usahatani padi dan peluang mengatasinya menggunakan metode Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (Participatory Rural Appraisal - PRA), terutama dalam pemilihan komponen teknologi PTT dan SIPT. PRA dilakukan terhadap: (1) karakteristik lokasi, mencakup validasi peta desa, peta topografi dan hidrologi, peta usaha industri rumah tangga, sejarah desa, penggunaan tenaga kerja berdasarkan gender, dan arus sumber daya; (2) identifikasi dan analisis permasalahan; (3) hal-hal yang menyebabkan turunnya produksi padi; (4) persepsi petani mengenai permasalahan dan akar permasalahan; dan (5) peluang mengatasi permasalahan.
- ItemPemahaman Pedesaaan Secara Partisipatif Menunjang Usahatani Terpadu(Departemen Pertanian 2003, 2003) Zulkifli Zaini; A. Karim Makarim; Irsal Las; Budi Haryanto; SuntoroBadan Penelitian Pengembangan Pertanian bekerja sama dengan Diretorat Jendral Bina Produksi Tanaman Panagan dan Direkorat Jendral bina Produksi Peternakan
- ItemPeta Agroekologi Utama Tanaman Pangan di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991-04-23) Irsal Las; A. Karim Makarim; A. Ilidayat; A. Syarifuddin Karama; Ibrahim ManwanPerencanaan pembangunan pertanian nasional perlu dilandaskan pada informasi yang relevan dan akurat. Salah satu bentuk informasi penting yang dibutuhkan sekarang ini adalah peta agroekologi. Laporan Khusus ini diterbitkan untuk mendukung ketersediaan informasi semacam itu. Agroekologi merupakan pencirian sifat dan karakter lingkungan fisik suatu sistem produksi pertanian. Peta agroekologi utama tanaman pangan ini mengindikasikan faktor iklim, tanah, topofisiografi, dan infrastruktur secara umum di Indonesia. Oleh sebab itu peta ini berguna untuk menduga intensitas dan pola tanam potensial, penerapan suatu paket teknologi usahatani tanaman pangan pada suatu wilayah, dan memudahkan alih teknologi dari suatu wilayah ke lain wilayah. Di samping untuk menunjukkan penyebaran macam agroekologi utama di Indonesia, peta ini memperlihatkan potensi wilayah yang dapat mendukung strategi penelitian dan perencanaan pembangunan pertanian nasional secara lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, tingkat produksi serta jenis komoditas pertanian yang sesuai dapat dioptimalkan. Kami berharap bahwa berbagai pihak, termasuk lembaga, peneliti, perencana, khususnya yang berkaitan dengan pertanian tanaman pangan, dapat memanfaatkan publikasi ini. Sementara itu kami terus berusaha mengembangkan peta ini secara lebih terinci agar lebih sesuai dengan berbagai keperluan di wilayah-wilayah yang lebih spesifik. Berbagai kekurangan tentu masih terkandung dalam terbitan ini. Karena itu saran dan kritik dari pembaca akan sangat membantu kami dalam usaha untuk memperbaikinya. Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Proyek Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS-II dan the International Development Research Centre (IDRC), yang telah memberikan dukungan dana bagi penerbitan publikasi ini.
- ItemPola IP Padi 300 Konsepsi dan Prospek Implementasi(Badan Penelitian dan Pengembangan PertaniaM, 1999-12-23) Irsal Las; A. Karim Makarim; Sumarno; Sirman PurbaSwasembada beras yang merupakan salah satu tolok ukur ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan semakin berat, karena makin beragamnya masalah yang dihadapi dalam peningkatan produksi padi. Selain menciutnya luas lahan sawah produktif dan terjadinya serangan hama penyakit, penyimpangan iklim ElNino pada tahun 1997 telah menurunkan produksi padi nasional yang berakibat timbulnya krisis pangan. Untuk menanggulangi krisis pangan, Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan Dinas Pertanian di TK I dan TK II dan berbagai pihak mengimplementasikan pola Indeks Pertanaman (IP) padi 300 pada MT 1997/98 di lima propinsi Jawa dan Bali. Penanaman padi musim ketiga (MK-II 1998) dilakukan pada lahan seluas lebih dari 120 ribu ha, yang diawali dengan studi terhadap berbagai aspek, termasuk iklim, produktivitas lahan, potensi produksi dan infrastruktur daerah setempat. Kegiatan ini dibiayai oleh Proyek Upsus Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Pemberdayaan Masyarakat Petani (PKPN-MPMP), salah satu proyek pendukung Gerakan Mandiri Padi, Kedelai dan Jagung (Gema Palagung) 2001. Dengan memanfaatkan sumber daya pertanian secara optimal, penerapan pola IP Padi 300 telah berhasil memberikan kontribusi produksi sekitar 545 ribu ton GKG dari luas panen 118,5 ribu ha pada periode panen Oktober - Desember 1998. Hama dan penyakit yang dikhawatirkan akan menggagalkan panen, hanya merusak sebagian kecil pertanaman di daerah endemik. Pengalaman penerapan pola IP Padi 300 yang disajikan dalam publikasi ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi upaya peningkatan produksi padi nasional, terutama di saat cadangan beras nasional menipis atau bila terjadi krisis pangan. Publikasi ini disusun berdasarkan laporan implementasi pola IP Padi 300 dari masing-masing propinsi, hasil tinjauan langsung ke lapang, dan rumusan seminar Nasional Prospek Pola IP Padi 300 dalam Menanggulangi Krisis Pangan dan Anomali Iklim di Cisarua, Bogor, tanggal 17 Maret 1999, yang dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai instansi. Akhir kata diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam program peningkatan produksi untuk mengatasi krisis pangan melalui penerapan pola IP Padi 300.
- ItemRekomendasi Pupuk N, P, dan K Spesifik Lokasi untuk Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai pada Lahan Sawah (Per Kecamatan)(BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN, 2020) Husnain; Ladiyani R. Widowati; Irsal Las; Muhrizal Sarwani; Sri Rochayati; Diah Setyorini; Wiwik Hartatik; I. G. Made Subiksa; I. Wayan Suastika; Linca Angria; A. Kasno; Nurjaya; Heri Wibowo; Kiki Zakiah; Dilla Aksani; Muhammad Hatta; Niluh Putu Sri Ratmin; Yunita Barus; Wahida Annisa; SusilawatiPemerintah telah menetapkan tiga kebijakan dibidang pemupukan, yaitu: (1) menerapkan konsep pemupukan berimbang (balanced fertilization), (2) subsidi pupuk (Urea, ZA, SP-36, NPK dan Pupuk Organik), dan (3) menetapkan acuan rekomendasi pupuk untuk tanaman padi, jagung dan kedelai berdasarkan konsep pemupukan berimbang spesifik lokasi yang efektif dan rasional, dengan sasaran untuk meningkatkan produksi dan swasembada pangan berkelanjutan, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, dengan menerapkan sistem produksi sehat serta ramah lingkungan, Berbagai upaya telah dilakukan untuk menerapkan dan mengawal kebijakan tersebut. Namun untuk dosis rekomendasi dan formula pupuk majemuk NPK 15-15-15 padi sawah, hasil kajian Badan Litbang Pertanian menunjukkan bahwa formula pupuk majemuk bersubsidi NPK 15-15-15 produksi PT. Pupuk Indonesia kurang sesuai untuk tanah sawah di Indonesia yang didominasi tanah sawah berstatus P dan K sedang hingga tinggi. Dengan dosis umum 300 kg/ha terjadi kelebihan hara P dan K bila diaplikasikan ke lahan sawah dengan status hara P dan K sedang dan tinggi, dan hanya sesuai pada status hara P dan K rendah yang luasannya terbatas. Untuk itu, Badan Litbang Pertanian telah mengusulkan formulasi baru sebagai pengganti NPK 15-15-15 yaitu NPK 15-10-12. Dengan menurunkan formula hara P dan K, diharapkan dosis pupuk menjadi lebih efektif, efisien, ekonomis dan ramah lingkungan. Acuan rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah, jagung dan kedelai yang disusun ini merupakan perbaikan dari Keputusan Menteri Pertanian No. 01/Kpts/SR.130/1/ 2006 dan diperbarui menjadi Permentan No.40/Permentan/OT.140/4/2007 dengan memasukkan data terbaru tentang : (a) status hara P dan K tanah sawah, (b) tingkat produktivitas padi sawah tingkat kecamatan, (c) seluruh kecamatan yang ada sebagai akibat dari pemekaran dan (d) menambahkan dosis rekomendasi untuk padi jagung dan kedelai dengan menggunakan pupuk NPK yang telah direformulasi yaitu NPK 15-10-12. Perubahan formula pupuk majemuk NPK 15-10-12 yang baru, perlu dikawal dan disosialisasikan agar petani memahami arti efisiensi pupuk dan penerapan pemupukan berimbang spesifik lokasi. Dengan penghematan harga yang dapat dilakukan, diharapkan akan lebih luas lahanlahan pertanian yang mendapatkan bantuan subsidi pupuk dari pemerintah.
- ItemRekomendasi Pupuk N, P, dan K Spesifik Lokasi untuk Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai pada Lahan Sawah (Per Kecamatan)(BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN, 2020) Husnain; Ladiyani R. Widowati; Irsal Las; Muhrizal Sarwani; Sri Rochayati; Diah Setyorini; Wiwik Hartatik; I. G. Made Subiksa; I. Wayan Suastika; Linca Angria; A. Kasno; Nurjaya; Heri Wibowo; Kiki Zakiah; Dilla Aksani; Muhammad Hatta; Niluh Putu Sri Ratmini; Yunita Barus; Wahida Annisa; SusilawatiPemerintah telah menetapkan tiga kebijakan dibidang pemupukan, yaitu: (1) menerapkan konsep pemupukan berimbang (balanced fertilization), (2) subsidi pupuk (Urea, ZA, SP-36, NPK dan Pupuk Organik), dan (3) menetapkan acuan rekomendasi pupuk untuk tanaman padi, jagung dan kedelai berdasarkan konsep pemupukan berimbang spesifik lokasi yang efektif dan rasional, dengan sasaran untuk meningkatkan produksi dan swasembada pangan berkelanjutan, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, dengan menerapkan sistem produksi sehat serta ramah lingkungan, Berbagai upaya telah dilakukan untuk menerapkan dan mengawal kebijakan tersebut. Namun untuk dosis rekomendasi dan formula pupuk majemuk NPK 15-15-15 padi sawah, hasil kajian Badan Litbang Pertanian menunjukkan bahwa formula pupuk majemuk bersubsidi NPK 15-15-15 produksi PT. Pupuk Indonesia kurang sesuai untuk tanah sawah di Indonesia yang didominasi tanah sawah berstatus P dan K sedang hingga tinggi. Dengan dosis umum 300 kg/ha terjadi kelebihan hara P dan K bila diaplikasikan ke lahan sawah dengan status hara P dan K sedang dan tinggi, dan hanya sesuai pada status hara P dan K rendah yang luasannya terbatas. Untuk itu, Badan Litbang Pertanian telah mengusulkan formulasi baru sebagai pengganti NPK 15-15-15 yaitu NPK 15-10-12. Dengan menurunkan formula hara P dan K, diharapkan dosis pupuk menjadi lebih efektif, efisien, ekonomis dan ramah lingkungan. Acuan rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah, jagung dan kedelai yang disusun ini merupakan perbaikan dari Keputusan Menteri Pertanian No. 01/Kpts/SR.130/1/ 2006 dan diperbarui menjadi Permentan No.40/Permentan/OT.140/4/2007 dengan memasukkan data terbaru tentang : (a) status hara P dan K tanah sawah, (b) tingkat produktivitas padi sawah tingkat kecamatan, (c) seluruh kecamatan yang ada sebagai akibat dari pemekaran dan (d) menambahkan dosis rekomendasi untuk padi jagung dan kedelai dengan menggunakan pupuk NPK yang telah direformulasi yaitu NPK 15-10-12. Perubahan formula pupuk majemuk NPK 15-10-12 yang baru, perlu dikawal dan disosialisasikan agar petani memahami arti efisiensi pupuk dan penerapan pemupukan berimbang spesifik lokasi. Dengan penghematan harga yang dapat dilakukan, diharapkan akan lebih luas lahanlahan pertanian yang mendapatkan bantuan subsidi pupuk dari pemerintah.