Browsing by Author "I-W. Mathius"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemBungkil Kedelai Terproteksi Tanin Cairan Batang Pisang dalam Pakan Domba Sedang Tumbuh(Balai Penelitian Ternak, 2011) Dwi Yulistiani; I-W. Mathius; W. PuastutiPenelitian dilakukan untuk mengevaluasi pemakaian yang optimal bungkil kedelai yang diproteksi dengan senyawa sekunder dari batang pisang dalam pakan dan pengaruhnya terhadap kinerja domba. Pembuatan bungkil kedelai terproteksi dilakukan dengan mencampur bungkil kedelai dengan cairan batang pisang dengan rasio 1:1 (b/v), yang kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 90oC sampai kering. Bungkil kedelai tersebut dipakai sebagai substitusi konsentrat komersial dalam pakan domba dengan level substitusi 0% (R0); 10% (R10); 20% (R20); dan 30% (R30). Penelitian dilakukan dengan menggunakan 24 ekor domba Komposit Sumatera jantan yang sedang tumbuh yang dikelompokan menjadi 6 kelompok berdasarkan bobot hidup dan diacak untuk mendapatkan salah satu perlakuan. Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan nutrien pakan, pertambahan bobot hidup harian (PBHH), efisiensi pakan dan penggunaan nitrogen. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dan data yang diperoleh dianalisa menggunakan model linier umum dari program SAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering (BK) nyata meningkat dengan substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai terproteksi namun tidak ada perbedaan diantara R10, R20 dan R30. Peningkatan konsumsi BK diikuti pula dengan peningkatan (P < 0,05) konsumsi protein kasar (PK) dari 8,75 g/BB0.75 (R0) menjadi 10,64; 11,68 dan 12,32 g/BB0.75 masingmasing untuk R10; R20 dan R30. Substitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan BK dan PK pada semua level, akan tetapi substitusi ini tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada kecernaan bahan organik (BO), serat deterjen netral (SDN) dan serat detergen asam (SDA) hingga level 20%. Ekskresi nitrogen dalam urin hanya meningkat pada substitusi 30%, namun demikian retensi N meningkat pada level substitusi 20 dan 30%. Substitusi konsentrat dengan bungkil kedelai meningkatkan kecernaan dan retensi N pada level 20 dan 30%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa subtitusi konsentrat komersial dengan bungkil kedelai terproteksi meningkatkan konsumsi PK dan kecernaan PK tetapi tidak meningkatkan pertambahan bobot hidup harian domba.
- ItemRespon Fermentasi Rumen dan Retensi Nitrogen dari Domba yang Diberi Protein Tahan Degradasi dalam Rumen(Balai Penelitian Ternak, 2012) Wisri Puastuti; D. Yulistiani; I-W. MathiusPenggunaan protein tahan degradasi dalam rumen dapat meningkatkan pasokan asam amino ke usus halus untuk mencukupi kebutuhan ternak. Untuk meningkatkan utilisasi protein pakan, maka sumber protein pakan yang mudah didegradasi di dalam rumen perlukan dilindungi. Penelitian bertujuan untuk mensubstitusi protein tepung ikan dengan bungkil kedelai terproteksi cairan getah pisang sebagai suplemen pascarumen untuk meningkatkan jumlah nitrogen teretensi yang dilihat dari respon fermentasinya di dalam rumen. Digunakan ternak domba bunting rumpun Komposit Sumatera sejumlah 18 ekor. Pakan terdiri atasi rumput Gajah segar yang dicacah, konsentrat komersial, mineral Comin plus dan protein suplemen sebagai perlakuan. Perlakuan berupa suplemen protein, yaitu bungkil kedelai (RK), bungkil kedelai yang diproteksi dengan cairan batang pisang (RKT) dan tepung ikan (RTI). Pakan perlakuan diberikan selama bunting dan laktasi, dengan rincian masa bunting tua selama 2 bulan dan masa laktasi 2 bulan yang didahului 2 minggu masa adaptasi. Percobaan dilakukan berdasarkan rancangan acak kelompok. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar amonia dari domba yang mendapat ransum RKT tidak berbeda (P < 0,05) dengan RTI maupun RK, namun menghasilkan perbedaan (P < 0,05) terhadap retensi nitrogen (4,92 g/e vs 12,52 g/e; 17,11 g/e). Nilai VFA total, proporsi C3, iC4, iC5 dan nC5 tidak berbeda (P > 0,05) namun proporsi C2 dan nC4 berbeda (P < 0,05) di antara ketiga suplemen protein. Emisi metana terbesar (70,3 mM atau 37,2% dari total energi VFA) dihasilkan dari ransum RKT mengindikasikan sistem fermentasi yang tidak efisien. Dapat disimpulkan bahwa suplemen protein bungkil kedelai terproteksi cairan getah pisang dalam ransum belum mampu menggantikan protein tepung ikan sebagai protein tahan degradasi rumen yang ditunjukkan dengan tingginya kadar amonia cairan rumen dan retensi nitrogen yang lebih rendah.