Browsing by Author "Hidayanto, Nur Khusni"
Now showing 1 - 13 of 13
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisa Genetik Gen Glikoprotein D Virus IBR Strain Los Angeles dan Hubungannya terhadap Subfamily Alphaherpesvirinae: BoHV-5, CerHV-1, CapHV-1 dan SuidHV-1(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2015) Andesfha, Ernes; Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Djusa, Enuh Rahardjo; Hidayanto, Nur KhusniBovine Herpesvirus-1 (BoHV-1) termasuk kedalam genus Varicellovirus dan family Herpesviridae subfamily Alphaherpesvirinae.Berdasarkan sifat antigenic dan genomikanya dibedakan menjadi subtype 1.1, 1.2a,1.2b. Subtipe 1 (BoHV-1.1) sering menyebabkan penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR). Gejala klinis infeksi virus BoHV-1 terlihat setelah masa inkubasi 2-4 hari yaitu terlihat nasal discharge bentuk serosa, air liur, demam dan nafsu makan berkurang dan hewan terlihat depresi. Pengujian dengan menggunakan metode PCR dan Sequencing telah dilakukan terhadap isolat IBR strain Los Angeles yang ditumbuhkan di sel MDBK dan analisis genetik dilakukan terhadap sequen reference BoHV-1.1, BoHV-1.2, BoHV-5, CerHV-1, CapHV-1 dan SuidHV-1. Dimana hasil menunjukan virus IBR Strain Los Angeles memiliki persentase homologi nt dan aa tinggi terhadap 6 virus tersebut.
- ItemEvaluasi Hasil Pengujian Uji Keamanan Vaksin Gumboro Aktif di BBPMSOH tahun 2000-2005(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2011) Hidayanto, Nur Khusni; Soedijar, Ida Lestari; Dharma, Dewa Made Ngurah; Emilia; Susanto, Endang; Suryati, Yati; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
- ItemEvaluasi Hasil Pengujian Uji Keamanan Vaksin Gumboro Aktif di BBPMSOH Tahun 2000-2005(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2011) Hidayanto, Nur Khusni; Soedijar, Ida Lestari; Dharma, Dewa Made Ngurah; Emilia; Susanto, Endang; Suryati, Yati; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
- ItemKajian Titer Antibodi Ayam Petelur Pascavaksinasi Avian Influenza (AI) di Delapan Provinsi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Hidayanto, Nur Khusni; Setiawaty, Rahajeng; Suryati, YatiPenyakit Avian Influenza (AI) pada ayam petelur masih menjadi momok yang menakutkan dikalangan peternak unggas. Hal ini dikarenakan penyakit ini bersifat zoonotik dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui informasi gambaran status kekebalan pascavaksinasi AI pada ayam peterlur di 8 provinsi di Indonesia, yaitu provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jwa Timur, Bali dan Kalimantan Selatan. Untk masing-masing provinsi di ambill 100 sampel serum. Sampel darah diambil melalui vena branchialis dengan menggunakan spuilt 3 mL, selanjutnya serum disimpan pada suhu ruangan (27-32 derajat C) sampai serumnya keluar. Serum dimasukkan ke dalam tabung 1.8 mL dan disimpan ke dalam kotak pendingin dengan suhu 2-8 derajat C, untuk selanjutnya di ukur titer antibodu di Laboratorium Unit Uji Virologi BBPMSOH. Adapun metode pengujian yang digunakan adalah: a. Uji Hambatan Hemaglutinasi, Uji Back Titrasi dan Uji Hambatan Hemaglutinasi (HI) untuk mengetahui titer natibodi serum terhadap virus AI subtipe H5N1 dan subtipe H9N2. Hasil protektif terhadap virus AI H5N1 ditunjukan oleh sampel ayam yang berasal dari 6 provinsi, yaitu: provinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Kalimantan Selatan. Sedangkan sampel serum yang menunjukkan positif terhadap virus AI H9N2 berasal dari 7 provinsi yaitu: Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.
- ItemPengkajian Mutu Vaksin Avian Influenza (AI) Sub Tipe H5N1 di Tujuh Provinsi di Indonesia Tahun 2019(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Hidayanto, Nur Khusni; Kartini, Dina; Astuti, DewiVirus Avian Influenza dikategorikan dalam dua ptotipe yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Virus AI dinyatakan memiliki patogenesitas tinggi apabila mempunya indeks Patogenicity Intavena (IVPI) pada ayam umur 6 minggu lebih dari 1.2 atau menyebabkan minimal 75% kematian pada ayam umur 4-8 minggu yang diinfeksi secara intravena, sedangkan viru AI yang memiliki patogenesitas rendah adalah semua virus Influenza tipe A subtype H5 dan H7 yang bukan merupakan virus HPAI. Pengkajian ini bertujuan mengetahui kualitas vaksin AI Subtipe H5N1 yang beredar di 7 tujuh provinsi di Indonesia pada tahun 2019. Terhadap sampel vaksin dilakukan uji mutu vaksin meliputi rangkaian uji identifikasi dan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) konvensional, uji inaktivasi dan uji potensi serologi. Hasil pengujian menunjukan vaksin AI H5N1 inkatif untuk 5 sampel yang dimabil dari 5 provinsi yaitu: Sumatera Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan dinyatakan memenuhi syarat. Sedangkan untuk sampel vaksin AI yang berasal dari Sumatera Selatan dan Jawa Barat menunjukkan hasil tidak memenuhi persyaratan.
- ItemPengujian Mutu Vaksin Infectious Laryngotracheitis (ILT) Dalam Rangka Pemantauan di Beberapa Provinsi di Indonesia Tahun 2021(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2022-12) Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Rahayuningtyas, Irma; Alam, Jarul; Hidayanto, Nur Khusni; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)Penyakit Infectious Laryngotracheitis (ILT) menyerang industri perunggasan di Indonesia. Hingga saat ini biosekuriti dan program vaksinasi adalah upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Adapun artikel ini menunjukkan data tentang kualitas vaksin Infectious Laryngotracheitis (ILT) di beberapa provinsi di Indonesia. Kualitas sebuah vaksin sangat penting untuk menjamin keberhasilan program vaksinasi. Apabila kandungan dalam sebuah vaksin rusak maka dipastikan vaksinasi akan gagal karena tidak dapat menimbulkan kekebalan tubuh. Sampel vaksin ILT diambil di delapan provinsi di Indonesia yaitu Jawa Timur, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa barat, DKI Jakarta, Bali, Lampung dan Sulawesi Selatan. Pengujian mutu vaksin ILT dilaksaknakan dengan mengikuti standard dari Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI) sediaan Biologik Jilid 2 Edisi 5 tahun 2018.
- ItemSeroepidemiologi Pasca Vaksinasi Newcastle Disease (ND) dengan 2 Strain Antigen(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2013) Hidayanto, Nur Khusni; Emilia; Yupiana, Yuni; Suryati, Yati
- ItemStatus kebal Ternak Sapi Paska vaksinasi Infectious Bovine Rhinotraceitis (IBR) Inaktif di Lapangan(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2011) Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Yupiana, Yuni; Hidayanto, Nur Khusni; Nuryani, Neni; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
- ItemStudi Retrospektif Hasil Pengujian Vaksin Newcastle Disease (ND) di BBPMSOH Tahun 2009-2013(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2015) Hidayanto, Nur Khusni; Ramlah; Ardiawan, Ferry; Suryati, Yati
- ItemTinjauan Pengujian Mutu Vaksin Rabies Tahun 2011-2016 di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2018) Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Ardiawan, Ferry; Hidayanto, Nur Khusni; Hermawan, DodoRabies adalah penyakit menular dari hewan ke manusia (Zoonosis) dengan tingkat angka kematian cukup tinggi. Penyakit ini menyerang system syaraf dan dapat tertular melalui saliva dari hewan terinfeksi (melalui gigitan, cakaran, goresan luka pada kulit atau membrane mukosa). Virus dalam saliva dapat menginfeksi kulit yang terluka atau mukosa utuh. Virus Rabies berasal dari genus Lyssavirus family Rhabdoviridae. Berdasarkan kesepakatan Regional Zoonotic Meeting SEARO WHO tanggal 6-8 November 2007, menyatakan bahwa Rabies adalah penyakit prioritas ke -2 setelah Avian Influenza. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang merupakan salah satu unit pelaksana teknis lingkup Kementerian Pertanian memiliki komitmen untuk ikut menyukseskan program pengendalian dan pemberantasan Rabies di Indonesia. Melalui visi BBPMSOH menjamin kualitas obat/vaksin hewan yang beredar di Indonesia, BBPMSOH memprioritaskan pengujian mutu vaksin virus yang berhubungan dengan penyakit menular yang bersifat zoonosis salah satunya adalah Rabies. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi terhadap mutu vaksin Rabies yang beredar di Indonesia dalam kurun waktu tahun 2011-2016. Pengujian mutu vaksin rabies meliputi uji inaktivasi dan uji potensi terhadap 148 sampel vaksin rabies yang diperoleh dari hasil kegiatan pendaftaran, kiriman dinas dan pemantauan.
- ItemUji Patogenisitas Virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 sebagai Kandidat Virus Tantang Pada Uji Potensi Vaksin Avian Influenza(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2018) Hidayanto, Nur Khusni; Ramlah; Natih, Ketut Karuni Nyanakumari; Suryati, YatiVirus Avian Influenza yang menyerang Unggas termasuk dalam kategori zoonosis yang artinya dapat menular ke manusia. Pengendalian terhadap penyakit Avian Influenza ini terus digalakan oleh pemerintah. Penyakit ini mempunya dampak ekonomi yang sangat besar pada industry perunggasan karena menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi, penurunan produksi dan peningkatan biaya pengobatan dan penanggulangan. Virus Influenza A sendiri yang menginfeksi Unggas dapat dibagi menjadi dua kelompok berbeda berdasarkan kemampuannya. Virus Influenza yang ringan masuk kedalam kategori Low Pathogeniz Avian Influenza (LPAI) dan virus Influenza yang sangat ganas menyebabkan ‘fowl plauque’ atau biasa disebut High Pathogenic Avian Influenza (HPAI). Virus ini termasuk kedalam subtype H5 dan H7. Penyebaran virus AI H5N1 pada ungags di Asia, Timur Tengah dan Afrika telah memicu kekhawatiran pandemic manusia dan mendorong upaya pengembangan vaksin H5N1. Pada pengkajian ini telah dilakukan uji patogenisitas bedasarkan referensi dari the Office International des Epizooties (OIE) terhadap 2 kandidat virus tantang AI yaitu strain A/Chicken/Barru/BBVM41-13/2-13 dan A/Chicken/Semarang/04141225-07/2014. Pengujian menggunakan ayam SPF usia 6 minggu yang di inokulasi virus AI dengan konsentrasi sebanyak 1/10 sebanyak 0,1 mL secara intravena. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kedua virus AI menunjukkan nilai IVPI 3,0. Virus A/Chicken/Barru/BBVM41-13/2-13 dan A/Chicken/Semarang/04141225-07/2014 masuk kedalam kategori High Pathogenic Avian Influenza (HPAI).
- ItemUji Postulat Koch Virus Avian Influenza Subtipe H9N2 A/Chicken/Sidrap/07170094-44O/2017(Direktorat Kesehatan Hewan, 2018) Natih, Ketut Karuni Nayanakumari; Hidayanto, Nur Khusni; Ramlah; Irawati, Cynthia Devy; Kartini, Dina; Mukartini, SriDalam rangka pengendalian penyakit Avian Influenza (AI) subtipe H9N2 yang menyerang beberapa daerah di Indonesia pada akhir tahun 2015, Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan mendapat tugas untuk melakukan uji pemurnian isolat A/chicken/Sidrap/07170094-44O/2017 sebagai kandidat seed vaksin dan dilanjutkan dengan uji Postulat Koch untuk membuktikan kemurnian kandidat seed vaksin AI subtipe H9N2. Sebanyak 10 ekor ayam SPF umur 25 minggu diinokulasi virus AI subtipe H9N2 106 EID50 secara intranasal. Pengamatan dilakukan selama 21 hari terhadap gejala klinis, produksi telur, dan asupan pakan. Pengambilan darah dilakukan pada pre inokulasi, dan pasca inokulasi hari ke-7, ke-14 dan ke-21. Nekropsi dilakukan pada hari ke-5 dan hari ke-21 pasca inokulasi. Re-isolasi dilakukan dengan menginokulasi suspensi limpa dan oviduct pada TAB SPF umur 10 hari. Gejala klinis terlihat adanya diare pada hari pertama, perubahan pada bentuk dan ukuran telur pada hari ke-3, penurunan asupan pakan pada hari ke-4 dan penurunan produksi telur menjadi 66.07 % pada 2 minggu pasca inokulasi. Secara PA ditemukan adanya hyperemia pada trachea, pneumonia, hati rapuh dan kekuningan, hemoragi pada indung telur, penimbunan cairan putih telur pada oviduct dan vasa injeksi pada otak. Hasil histopatologi menunjukkan adanya tracheitis, pneumonia hemoragika, hepatitis, salphingitis dan perivascular cuffing dan vaskulitis pada otak. Hasil uji HI pre inokulasi menunjukkan negatif antibodi terhadap antigen AI subtipe H9N2, H5N1 dan ND, sedangkan pada pasca inokulasi menunjukkan positif antibodi terhadap antigen AI subtipe H9N2 dan negatif antibodi terhadap antigen AI H5N1 dan ND. Re-isolasi menunjukkan hasil murni virus AI subtipe H9N2. Uji stabilitas menunjukkan hasil yang stabil dari sampel master seed, working seed dan Postulat Koch yang homolog 100% pada nukleotida dan asam amino. Berdasarkan hasil uji Postulat Koch tersebut membuktikan bahwa virus AI subtipe H9N2 A/chicken/ Sidrap/07170094-44O/2017 yang sudah murni AI subtipe H9N2 bisa dijadikan sebagai seed vaksin.
- ItemUji Potensi Vaksin Avian Influenza(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Hidayanto, Nur Khusni; Suryati, YatiAvian Influenza masih menjadi momok yang menakutkan di kalangan pelaku industri peternakan Indonesia. Memastikan vaksin Avian influenza yang beredar di Indonesia memenuhi persyaratan obat hewan menjadi salah satu tugas, pokok dan fungsi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH). Salah satu jenis pengujian yang dilakukan adalah uji potensi. Uji potensi di lakukan untuk mengetahui sejauh mana kualitas potensi sebuah vaksin dapat bekerja dengan optimal memberikan kekebalan dalam tubuh hewan ternak. Uji potensi yang dilakukan di BBPMSOH dalam pengujian vaksin AI ini merujuk dengan metode uji potensi yang tertera dalam Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI Biologik) Jilid I Edisi 5 tahun 2018. Adapun sampel vaksin AI diambil dari 4 (empat) vaksin AI yang beredar di Indonesia. Vaksin disuntikan pada ayam Spesific Pathogen Free (SPF) usia 4 minggu, kemudian 3 minggu pascavaksinasi diambil darahnya untuk diuji hambatan aglutinasi (HI) dan dilakukan uji tantang menggunakan virus AI A/chicken/Semarang/04141225-07/2014 (clade 2.3.2). hasil pengujian menunjukkan titer antibodi yang bervariasi tetapi tetap dapat melindungi dari infeksi virus AI A/chicken/Semarang/04141225-07/2014 (clade 2.3.2).