Browsing by Author "Helmidar Bahar"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPengelolaan Padi Sawah Dataran Tinggi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Syahrul Zen; A. Kaher; Z. Hamzah; Helmidar BaharDeraan suhu rendah dan penyakit blas merupakan bentuk umum yang ditemui pada lahan sawah dataran tinggi di Indonesia. Keterbatasan keragaman varietas unggul yang berumur genjah merupakan hambatan pelaksanaan intensifikasi pada lahan tersebut. Enam varietas unggul telah dilepas untuk padi sawah dataran tinggi sampai lebih dari 1000 m dpl, tetapi petani masih mengandalkan varietas lokal yang mempunyai kelemahan seperti umur dalam (160-210 hari), mudah rebah, dan produksi rendah. Tiga galur harapan yaitu B5828c-29-Sr-1-110-Sr, SS319d-Sr-2-1, dan IR25976-12-2-2-2-1-1-Sr-0 diketahui dapat beradaptasi sampai 1200 m dpl, tahan penyakit blas dan umur 5-7 hari lebih genjah dari varietas unggul Batang Ombilin. Hasil yang dicapai pada elevasi 500-700 m, 700-900 m dan diatas 900 m berturut-turut adalah 6,0-8,0; 5,0-7,5: dan 4,0-6,5 t/ha. Pemakaian varietas unggul berumur genjah untuk lahan dataran tinggi telah memberi peluang untuk pelaksanaan intensifikasi dan peningkatan indeks pertanaman.
- ItemPerbaikan Genetik Jagung dan Peningkatan Efisiensi P di Lahan Kering Masam(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Firdaus Kasim; Helmidar Bahar; Syafei; ErdimanPeningkatan hasil jagung di lahan kering masam antara lain dapat dicapai melalui penggunaan varietas toleran. Seleksi awal varietas dilakukan dengan metode half-sib pada tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) yang berkadar Al tinggi dan kahat unsur P. Pada tanah PMK, unsur Al dan Fe memfiksasi P sehingga mengurangi ketersediaannya bagi tanaman. Serangkaian pengujian pemupukan P telah dilakukan dengan menggunakan varietas jagung yang toleran terhadap keracunan Al. Antasena yang merupakan varietas jagung pertama yang dilepas untuk lahan kering masam, berasal dari populasi St Al dan hasilnya 20% lebih tinggi daripada Arjuna pada kondisi tercekam Al. Populasi St Al terus diperbaiki untuk meningkatkan ketahanannya terhadap penyakit bulai. Dengan pengapuran 1 t/ha, tanaman jagung tanggap terhadap pemupukan P sampai takaran 135 kg P2O5, bahkan pada takaran 180 kg P2Os/ha hasil masih meningkat, tetapi efisiensi pemupukan menurun. Penggunaan pupuk P dapat ditekan apabila bahan organik turut diberikan. Penggunaan pupuk P dengan takaran 180 kg P205/ha memberikan hasil yang sama dengan takaran 22,5 kg P2Os/ha bila pemberiannya dicampur dengan 2 t/ha bahan organik dan 200 kg/ha kapur setelah diinkubasi selama 8 minggu.