Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Fofa Arofi"

Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Karakterisasi Morfologi Delapan Aksesi Anggrek Endemik Kalimantan sebagai Upaya Konservasi Sumber Daya Genetik
    (SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026-01-09) Fofa Arofi
    Pulau Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati anggrek (Orchidaceae) terbesar di kawasan tropis Asia Tenggara dengan tingkat endemisitas mencapai 35–40%. Namun, tekanan deforestasi dan eksploitasi habitat mengancam kelestarian plasma nutfah strategis ini. Karakterisasi morfologi menjadi langkah awal yang krusial untuk mencegah kesalahan identifikasi taksonomi, memperkuat pelindungan hukum, serta mendukung pemuliaan varietas hibrida nasional. Kegiatan ujiwidya ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengkarakterisasi, serta mengidentifikasi karakter penciri kunci dari delapan taksa anggrek yang merepresentasikan variasi morfologi vegetatif dan generatif endemik Kalimantan. Kajian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2025 di Laboratorium SMK-PP Negeri Banjarbaru. Pendekatan penelitian deskriptif kualitatif diterapkan menggunakan panduan skoring 25 parameter morfologi dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Data morfologi selanjutnya ditransformasikan ke dalam bentuk data biner dan dianalisis klaster menggunakan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean (UPGMA) berbasis jarak Euclidean melalui software NTSYSpc versi 2.02i untuk menghasilkan dendrogram hubungan kekerabatan fenotipik. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa Phalaenopsis amabilis asal Pelaihari dan Phalaenopsis amabilis asal Halong berada pada klaster terdekat dengan tingkat kemiripan fenotipik tertinggi yang dicirikan oleh tipe pertumbuhan monopodial, ketiadaan pseudobulb, dan perakaran lekat. Secara berturut-turut, klaster monopodial ini berkerabat dekat dengan Dipodium scandens, Aerides odorata, dan Vanda dearei. Sementara itu, kelompok epifit simpodial yang diwakili oleh Coelogyne rachusrenii dan Coelogyne pandurata membentuk kelompok terpisah yang tegas berdasarkan keberadaan organ pseudobulb elips sebagai penyimpan cadangan air. Dendrobium anosmum menempati posisi kekerabatan paling jauh (jarak Euclidean tertinggi) akibat kombinasi unik batang silindris linear dan tipe pseudobulb menggantung (drooping). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tipe pertumbuhan (monopodial/simpodial), karakteristik pseudobulb, dan tipe perakaran merupakan komponen penciri utama dalam pengelompokan kekerabatan anggrek. Untuk meningkatkan akurasi resolusi taksonomi, disarankan mengombinasikan data vegetatif ini dengan karakter morfologi generatif bunga yang lengkap serta analisis marka molekuler pada kajian lanjutan. Kata Kunci: Orchidaceae, Karakterisasi Morfologi, UPGMA, Konservasi Plasma Nutfah, Anggrek Kalimantan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengaruh Komposisi Media PLB terhadap Pertumbuhan Anggrek Bulan di SMK PP N Banjarbaru
    (SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2019) Fofa Arofi
    Tanaman anggrek bulan (Phalaenopsis) merupakan komoditas tanaman hias bernilai ekonomi tinggi yang secara morfologi bijinya tidak memiliki cadangan makanan, sehingga perbanyakan generatifnya wajib dilakukan secara in vitro menggunakan media dasar Murashige and Skoog (MS). Setelah biji berkembang menjadi Protocorm Like Bodies (PLB), tahap subkultur diperlukan untuk mendukung pembentukan planlet yang sempurna. Penggunaan media MS komersial secara terus-menerus sebagai sumber hara pada tahap subkultur jarang dilakukan karena harganya yang relatif mahal, sehingga penggunaan pupuk majemuk komersial di pasaran menjadi alternatif substitusi hara. Penelitian kaji widya ini bertujuan untuk menguji pengaruh berbagai komposisi media berbasis pupuk majemuk terhadap pertumbuhan PLB anggrek bulan guna memberikan rekomendasi formula media yang efektif dan ekonomis. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan SMK PP N Banjarbaru dari bulan Februari hingga Juni 2019 menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan jenis pupuk, yaitu: P0 (Cristalon 18–18–18), P1 (Growmore 20–20–20), P2 (Growmore 10–55–10), P3 (Growmore 32–10–10), P4 (Gandasil D 20–15–15), P5 (Qiuvita 15–32–15), P6 (Qiuvita 32–11–11), dan P7 (MS ½). Setiap 1 liter media dasar ditambahkan gula 15 g, pisang Mauli 60 g, agar-agar 7,5 g, tripton 2 g, serta karbon aktif 1–3 g. Parameter yang diamati setelah masa inkubasi 20 Minggu Setelah Tanam (MST) meliputi jumlah PLB yang hidup, pertambahan jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan panjang daun. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil analisis statistik menunjukkan pengaruh perbedaan yang nyata (p=0,015 < 0,05) hanya pada parameter panjang daun, di mana perlakuan P1 (Growmore 20–20–20) memberikan hasil terbaik dengan rerata panjang daun 11,60 mm. Sementara pada parameter jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, dan tingkat kelangsungan hidup (100% hidup pada semua perlakuan) tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik. Meski demikian, secara rata-rata angka, perlakuan P1 konsisten menghasilkan jumlah akar (4 buah) dan jumlah daun (3 helai) terbanyak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan pupuk Growmore 20–20–20 dapat direkomendasikan bagi praktisi anggrek sebagai alternatif pengganti media MS yang lebih terjangkau untuk subkultur PLB anggrek bulan. Kata Kunci: Anggrek Bulan, Protocorm Like Bodies (PLB), Subkultur In Vitro, Pupuk Majemuk, Growmore 20–20–20.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Perbanyakan Anggrek Bulan Pelaihari Secara generatif sebagai Upaya Pelestarian Pasma Nutfah di Kalimantan Selatan
    (SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2022-06-17) Fofa Arofi
    Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis Blume) Pelaihari merupakan salah satu anggrek spesies endemik Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, yang sangat populer karena eksotisme dan keunggulannya sebagai induk persilangan. Namun, eksploitasi berlebihan menyebabkan keberadaan anggrek ini di habitat aslinya terancam punah, sehingga diperlukan metode perbanyakan generatif yang efektif untuk menjaga kelestariannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode persilangan terbaik yang mampu menghasilkan buah, mengetahui waktu masak fisiologis buah, mengidentifikasi metode yang menghasilkan biji fertil, serta mendapatkan formulasi media tabur in vitro yang paling sesuai. Kajian eksperimental ini dilaksanakan di SMK-PP Negeri Banjarbaru dari bulan Oktober 2021 hingga Juni 2022. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Taraf perlakuan pertama adalah metode persilangan (selfing dan intercross). Taraf perlakuan kedua adalah variasi media tabur in vitro yang terdiri dari 5 jenis, yaitu: media VW ($M_0$), media MS0 ($M_1$), media alternatif tomat ($M_2$), media $\frac{1}{2}$ MS ($M_3$), dan media MS + $GA_3$ ($M_4$). Parameter yang diamati meliputi keberhasilan pembentukan buah, waktu masak fisiologis, tingkat fertilisasi biji menggunakan mikroskop, dan jumlah planlet/protocorm like bodies (PLB) yang tumbuh. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode persilangan secara selfing maupun intercross memiliki tingkat keberhasilan pembentukan buah sebesar 50%. Waktu yang diperlukan sejak polinasi hingga buah mencapai masak fisiologis sempurna berkisar antara 127–128 hari. Berdasarkan analisis mikroskopis pembesaran 40 kali, hanya metode persilangan selfing yang berhasil menghasilkan biji fertil berembrio (ditandai dengan area gelap di tengah biji), sedangkan biji hasil intercross tidak membentuk embrio secara sempurna. Konsekuensinya, biji hasil intercross tidak ada yang tumbuh pada seluruh perlakuan media tabur. Waktu perkecambahan biji fertil (selfing) tercatat selama 7 minggu setelah tebar. Berdasarkan hasil analisis data, perlakuan media VW ($M_0$) memberikan performa terbaik dengan menghasilkan rata-rata 110 PLB (71% dari total populasi yang tumbuh), disusul oleh media MS + $GA_3$ ($M_4$) yang menghasilkan rata-rata 39 PLB (26%). Media $\frac{1}{2}$ MS ($M_3$) dinilai tidak sesuai karena tidak mampu menumbuhkan biji anggrek sama sekali. Perbanyakan generatif melalui persilangan selfing yang dikombinasikan dengan media tabur VW atau MS + $GA_3$ sangat direkomendasikan untuk pengembangan dan konservasi ex situ anggrek bulan Pelaihari guna menekan laju eksploitasi di alam liar. Kata Kunci: Anggrek Bulan, Persilangan, Media Tabur, In Vitro, Plasma Nutfah.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Studi Pewarnaan Bunga Sedap Malam (Polianthes Tuberosa L.) Varietas Dian Arum Untuk Meningkatkan Daya Jual Di Banjarbaru Kalimantan Selatan
    (SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2020) Uma Fatkhul Jannah; Fofa Arofi
    Bunga sedap malam (Polianthes tuberosa L.) merupakan komoditas bunga potong populer yang diminati karena keindahan visual dan aroma khasnya. Namun, kendala utama produk ini adalah karakter post-harvest yang cepat rusak, penurunan kualitas, serta masa kesegaran (vase life) yang relatif singkat. Penelitian kaji widya ini bertujuan untuk menguji preferensi konsumen terhadap variasi pewarnaan buatan pada bunga sedap malam varietas Dian Arum serta mengevaluasi pengaruh kombinasi larutan pengawet dan suhu ruang simpan terhadap tingkat kesegaran bunga. Metode eksperimen menggunakan rancangan kombinasi perlakuan pewarnaan (merah tua, biru, oranye, ungu, dan tanpa warna) menggunakan teknik larutan pulsing (gula 60 g/l, asam sitrat 1 g/l, pewarna makanan cair 80 ml/l selama 4 jam). Bunga selanjutnya ditempatkan pada dua kondisi suhu ruang pajang (holding) yang berbeda, yaitu ruangan ber-AC (22°C) dan ruangan non-AC (30±2°C) menggunakan larutan peraga berbasis gula 60 g/l, asam sitrat 1 g/l, dan natrium benzoat 300 ppm. Pengukuran preferensi warna diuji secara organoleptik (uji hedonik via angket online) melibatkan 160 panelis, sementara vase life dianalisis menggunakan Sidik Ragam (ANOVA) berdasarkan persentase kerontokan kuntum bunga. Hasil uji organoleptik menunjukkan perbedaan sangat nyata antarperlakuan, di mana warna biru memperoleh skor tertinggi (4,36) dengan kriteria "suka", sedangkan warna lainnya berada pada kriteria "cukup suka". Analisis ANOVA interaksi pewarna dan suhu menunjukkan pengaruh signifikan (p=0,036 < 0,05) terhadap penekanan tingkat kerontokan. Kombinasi terbaik dalam mempertahankan kuntum bunga tetap utuh dicapai oleh perlakuan warna ungu di ruang ber-AC (W4R2) dan tanpa pewarna di ruang ber-AC (W5R2), yang mampu memperpanjang kesegaran bunga melampaui 14 hari dibandingkan kontrol tanpa larutan pengawet di ruang non-AC yang tidak bertahan selama 7 hari. Studi ini merekomendasikan teknik pewarnaan dengan pewarna makanan dan penggunaan larutan holding sebagai solusi aplikatif meningkatkan daya tarik visual, variasi rangkaian floris, dan nilai ekonomi bunga sedap malam lokal. Kata Kunci: Polianthes tuberosa L., Pewarnaan Bunga, Larutan Pulsing, Larutan Holding, Vase Life, Uji Organoleptik

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback