Browsing by Author "Djamaluddin"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfisiensi Pemupukan pada Padi dan Palawija(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1990-12-16) Subandi Sudarman; Djamaluddin; Sania Saenong; Andi HasanuddinPeran pemupukan semakin penting dalam usaha intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan. Permintaan akan pupuk buatan (pupuk anorganik) meningkat dengan cepat dan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan pengembangan intensifikasi tersebut. Pemerintah menyediakan dana yang cukup besar untuk subsidi pupuk. Oleh karena itu, efisiensi pemakaian pupuk buatan perlu ditingkatkan dengan teknologi yang sesuai. Laporan ini menghimpun hasil penelitian tentang pemupukan yang dilakukan oleh enam Balai lingkup Puslitbang Tanaman Pangan. Dengan berbagai teknologi tentang pupuk dan pemupukan yang dihasilkan, efisiensi pemupukan diharapkan dapat ditingkatkan sehingga permintaan akan pupuk dapat ditekan tanpa mengorbankan produksi. Berbagai bentuk, dosis, dan cara penggunaan pupuk yang meliputi upaya optimalisasi pemakaian pupuk disajikan dalam laporan ini. Penggunaan pupuk yang optimal sangat tergantung pada komoditas dan varietasnya serta keadaan hara dan fisik tanah setempat. Dengan menyajikan percobaan dan penelitian yang dilakukan di berbagai agro-ekosistem laporan ini diharapkan cukup bermanfaat dalam upaya meningkatkan efisiensi pemupukan, yang tidak hanya penting bagi pengambil kebijaksanaan, tetapi juga penting bagi petani untuk mengurangi biaya produksi yang tidak perlu. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada para peneliti yang mengkompilasikan dan menyumbangkan pikiran dan hasil penelitiannya, serta kepada semua pihak yang telah membantu sampai diterbitkannya laporan ini.
- ItemPeningkatan Produksi Padi melalui Pemupukan di Kawasan Timur Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Djamaluddin; M. Rauf; A. Buntan; R. le Cerff; E.O. MomuatLuas lahan sawah di Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya adalah 829.153 ha (±10% dari luas lahan sawah di Indonesia) dengan rata-rata hasil padi 2,05-4,26 t/ha, relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata hasil padi nasional dewasa ini. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi di kawasan ini antara lain dengan pemupukan, baik pupuk anorganik maupиn organik. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan urea pril, cair, atau briket sebanyak 135 kg N/ha dapat meningkatkan hasil padi sebanyak 40% dibandingkan tanpa pemupukan urea. Efektivitas pemberian 90 kg urea cair dan briket/ha relatif sama dengan 135 kg urea pril/ha. Dengan pemberian 45 kg N + 5,0t Sesbania rostrata per hektar, hasil padi tidak berbeda dengan penggunaan 90 kg N/ha urea pril selama enam musim tanam di Maros. Penggunaan TSP sebanyak 50-200 kg/ha di aluvial Maros, Latosol Sinjai, dan Podsolik Merah Kuning Kendari, meningkatkan hasil padi sebesar 20%. Pada tanah aluvial Takalar dan Mediteran Bone, pemupukan TSP tidak meningkatkan hasil. Efek residu TSP masih tampak sampai pada pertanaman ke tujuh di Takalar dan Sinjai. Di Bone, efek residu TSP hanya terlihat sampai pada musim tanam kedua, sedangkan di Maros tidak terlihat sama sekali. Pengurangan takaran TSP menjadi kurang dari 100 kg/ha tidak menurunkan hasil padi di Sulawesi Utara, sedangkan pengurangan 25% urea menurunkan hasil sekitar 5%. Pemupukan 200 kg urea, 75 kg TSP, dan 75 kg KCl perhektar di Biromaru, Palu, Sulawesi Tengah, meningkatkan hasil sebesar 44%.
- ItemPerkembangan Produksi dan Teknologi Peningkatan Hasil Jagung di Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) A.F. Fadhly; DjamaluddinSulawesi Selatan merupakan penghasil utama jagung di luar Jawa. Dalam periode 1987-91, produksi rata-rata mencapai 441.801 t/tahun atau 62% dari total produksi jagung di Kawasan Timur Indonesia. Produksi jagung dalam periode tersebut berfluktuasi dengan simpangan sebesar 31.930 t/tahun. Untuk meningkatkan produktivitas jagung di Sulawesi Selatan diperlukan teknologi yang tepat guna. Selain sebagai pangan, jagung juga banyak digunakan untuk beragam keperluan. Permintaan terhadap jagung meningkat sejalan dengan meningkatnya perkembangan usaha peternakan. Batang dan daun jagung yang biasanya dibuang juga dapat menjadi sumber pendapatan. Jagung sayur (baby corn) banyak dikonsumsi di perkotaan. Untuk meningkatkan produksi jagung sayur, tanaman juga memerlukan pemupukan. Penggunaan pupuk urea dapat ditekan 25-50% di tanah Latosol Bulukumba dan 50-66% di tanah Grumusol Jeneponto apabila pemberiannya dilakukan secara tugal atau larik dan kemudian ditutup dengan tanah, dibandingkan dengan cara sebar di permukaan tanah seperti yang umum dilakukan petani. Pada musim hujan, jagung dapat ditanam rapat untuk kemudian dijarangkan. Hijauan yang diperoleh dari kegiatan penjarangan dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Jagung hibrida C1 memberikan hasil dan hijauan yang cukup tinggi. Hibrida Cl dapat menghasilkan 11,17 t/ha jagung muda dan 8,61 t/ha berangkasan. Jumlah tongkol jagung muda (untuk sayur) varietas Super Sweet yang ditanam dengan jarak 75 x 25 сm masih meningkat dengan pemberian N hingga takaran 180 kg/haа.