Browsing by Author "Didy Sopandie"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemKarakterisasi Morfologi, Anatomi dan Fisiologi Galur Mutan Gandum yang Ditanam di Dataran Rendah Tropik(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2016) Laela Sari; Agus Purwito; Didy Sopandie; Ragapadmi Purnamaningsih; Enny SudarmonowatiInformasi karakter mutan gandum diperlukan untuk mengetahui sifat unggul mutan dalam program pemuliaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kriteria seleksi untuk mendapatkan mutan unggul berasal dari tanaman gandum varietas Alibey yang adaptif di dataran rendah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan SEAMEO-BIOTROP Bogor (± 250 m dpl) dari bulan April 2013 sampai Desember 2013. Materi yang diteliti terdiri atas 16 galur mutan generasi M3 dari perlakuan EMS terhadap varietas Alibey dan varietas Alibey sebagai pembanding. Data diolah menggunakan rancangan pembesaran dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan mutan Alibey berbeda nyata dengan varietas pembanding untuk peubah panjang tangkai malai (8 mutan), bobot biji/malai (1 mutan), bobot 100 biji (4 mutan) dan bobot biji /tanaman (9 mutan). Peubah waktu berbunga, gabah masak/panen, panjang malai, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai, dan luas daun tidak berbeda nyata dibanding mutan Alibey. Penampilan karakter anatomi termasuk ketebalan daun dan ukuran stomata memperlihatkan perbedaan nyata antara tanaman Alibey mutan (AB0.1.60-1-7-1) dan pembanding. Karakter fisiologi menunjukkan perbedaan yang nyata antara mutan dengan pembanding pada jumlah prolin, yaitu pembanding (4,15 ug/gBB), mutan AB-0.1.60-3- 16-1 (263,47 ug/gBB), AB-0.1.60-3-3-2 (235,90 ug/gBB) dan memiliki kadar glukosa yang berbeda yaitu pembanding (132,88 mg/ml), mutan AB-0.1.60-3-16-1 (181,48 mg/ml), AB-0.1.60-3-3-2 (287,41 mg/ml). Mutan Alibey dapat diseleksi berdasarkan karakter panjang tangkai malai (PTM) dan bobot biji/tanaman (BBT). Kedua karakter tersebut menghasilkan lebih banyak mutan dibanding karakter lainnya. Analisis korelasi PTM dan JM pada semua karakter tidak nyata, sedangkan tinggi tanaman berkorelasi nyata dengan bobot biji/malai dan bobot biji/tanaman. Diharapkan beberapa mutan yang dihasilkan dapat beradaptasi di dataran rendah tropis, sehingga menambah keragaman sumber daya genetik gandum di Indonesia untuk adaptasi di dataran rendah.
- ItemPengembangan Tanaman Sela di Bawah Tegakan Tanaman Tahunan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2011-12-16) Didy SopandiePermasalahan dalam peningkatan produksi pangan di Indonesia adalah kurangnya lahan garapan, terutama untuk tanaman pangan, sehingga untuk meningkatkan produksi nasional harus memanfaatkan lahan potensial yang belum dimanfaatkan, di antaranya adalah lahan di bawah tegakan tanaman perkebunan dan kehutanan. Kendala utama pada lahan semacam ini adalah rendahnya intensitas cahaya karena faktor naungan, selain kemasaman tanah yang tinggi dan ancaman kekeringan. Peningkatan produksi di lahan marjinal, termasuk lahan di bawah tegakan, dapat dicapai melalui perbaikan: (1) potensi hasil, (2) tingkat adaptasi tanaman terhadap cekaman abiotik dan biotik, serta (3) teknik budi daya berbasis pengetahuan fisiologi atau ekofisiologi tanaman. Dalam kaitan ini, penelitian di bidang fisiologi, molekuler, dan pemuliaan tanaman diharapkan mampu mendorong perakitan IPTEK yang berkaitan dengan penanganan lahan marjinal dan mendukung pemulia tanaman dalam perbaikan tanaman untuk dikembangkan di lahan marjinal, termasuk lahan di bawah tegakan. Beberapa penelitian menunjukkan tanaman pangan yang mempunyai Sopandie dan Trikoesoemaningtyas: Pengembangan Tanaman Sela 169 potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman sela meliputi padi gogo, kedelai, talas, iles-iles, dan kacang-kacangan. Evaluasi intensif di lapang baru dilakukan terhadap padi gogo, kedelai, dan talas