Browsing by Author "Bram Brahmantiyo"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemPengembangan Pembibitan Kelinci Di Pedesaan Dalam Menunjang Potensi Dan Prospek Agribisnis Kelinci(Balai Penelitian Ternak, 2005) Bram Brahmantiyo; Y.C. RaharjoKelinci yang berkembang di Indonesia merupakan hasil penyebarluasan program pemerintah tahun 1980-an yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Kini, perkembangannya sangat beragam sesuai dengan tujuan produksinya, yaitu dikembangkan sebagai ternak laboratorium, ternak kesayangan, ternak penghasil kulit/fur dan ternak penghasil daging. Bangsa kelinci yang umum dipelihara adalah jenis New Zealand White, Rex, Angora, Lion, Flemish Giant, dan Deutch. Sebagian besar ternak kelinci dikenal sebagai penghasil daging. Daging kelinci banyak diperjualbelikan sebagai produk sate, gulai, nugget, sosis, dan abon. Ada pula yang mengusahakan ternak kelinci sebagai kelinci hias/kesayangan dengan produknya adalah anak-anak kelinci lepas sapih bahkan sebelum sapih. Produk daging dan anakan kelinci ini pemasarannya masih terbatas di daerah-daerah kunjungan wisata dengan volume yang berfluktuasi menurut hari-hari libur. Produk lain seperti kulit/fur masih terbatas pemanfaatannya, yaitu dibuat sebagai cenderamata seperti gantungan kunci, tas tangan wanita dan topi. Pembibitan merupakan tindakan yang belum menjadi perhatian utama pemeliharaan kelinci di pedesaan. Peternak melakukan seleksi hanya berdasarkan penampilan tanpa memperhatikan sistem perkawinan dalam kelompok ternaknya sehingga banyak ditemui kelinci dengan produktivitas yang rendah. Persilangan juga kerap dilakukan dikarenakan ketiadaan pejantan atau keinginan memperoleh karakter gabungan dari dua atau lebih bangsa kelinci yang dipelihara seorang peternak. Melalui makalah ini diharapkan dapat diperoleh penjelasan detail mengenai pembibitan sehingga pada suatu ketika akan terbentuk pembibitan terakreditasi yang menghasilkan bibit-bibit kelinci sesuai dengan tujuan pemeliharaannya, apakah sebagai penghasil daging, kulit/fur, hias atau kombinasinya.
- ItemPeningkatan Produktivitas Kelinci Rex, Satin dan Persilangannya melalui Seleksi(Balai Penelitian Ternak, 2011) Bram Brahmantiyo; Y.C. RaharjoSeleksi bobot sapih pada kelinci Rex, Satin dan Persilangannya dilakukan untuk meningkatkan produktivitasnya. Data dari populasi dasar (P0), populasi terseleksi (G0) dan turunan hasil seleksi (F1) dipergunakan untuk menduga nilai heritabilitas menggunakan metode analisis tersarang (nested) dan BLUP (best linier unbiased prediction). Nilai dugaan heritabilitas bobot lahir, bobot sapih, bobot 12 minggu dan bobot 16 minggu kelinci Rex berturut-turut sebesar 0,74±0,09; 0,93±0,05; 0,81±0,09 dan 0,89±0,06. Pada kelinci Satin berturut-turut sebesar 0,96; 0,82±0,22; 0,93±0,40 dan 0,97, sedangkan pada kelinci Persilangannya berturut-turut sebesar 0,96±0,27; 0,98; 0,86±0,40 dan 0,78. Peningkatan bobot sapih kelinci terseleksi pada kelinci Rex, Satin dan Persilangannya adalah 22,77 g (3,66%); 6,83 g (1,11%) dan 65,29 g (10,67%).
- ItemTatalaksana Pemberian Pakan Untuk Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci(Balai Penelitian Ternak, 2005) Dedi Muslih; I Wayan Pasek; Rossuartini; Bram BrahmantiyoKelinci merupakan ternak yang memiliki kemampuan biologis tinggi, selang beranak pendek, mampu beranak banyak, dapat hidup dan berkembang biak dari limbah pertanian dan hijauan. Hijauan dan limbah pertanian yang tersedia spesifik daerah merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Talaksana pemberian pakan yang berorientasi pada kebutuhan kelinci dan ketersediaan bahan pakan merupakan upaya yang tepat untuk meningkatkan produktivitas ternak kelinci. Tatalaksana pemberian pakan meliputi pemilihan jenis bahan baku pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pola pemberian pakan. Kebutuhan protein pada kelinci berkisar antara 12 s/d 18%. Tertinggi pada fase menyusui (18%) dan terendah pada dewasa (12 %). Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan berturut-turut muda bobot 1,8−3,2 kg (112−173 g/ekor/hari), dewasa bobot 2,3−6,8 kg (92−204 g/ekor/hari), induk bunting bobot 2,3−6,8 kg (115-251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot 4,5 kg (520 g/ekor/hari). Jenis-jenis hijauan yang dapat diberikan sebagai pakan kelinci diantaranya rumput lapangan, daun ubi jalar, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun turi dan lamtoro. Dedak, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas tapioka, ubi jalar, dan ubi kayu merupakan bahan pakan produk pertanian yang dapat diberikan pada ternak kelinci. Diantara bahan pakan inkonvensional, daun rami dengan tingkat pemberian sampai 30 % dan ampas teh dengan tingkat pemberian 40%, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Pelayuan dan pencacahan pada hijauan merupakan perlakuan terbaik sebelum diberikan pada ternak. Perebusan atau pencampuran dengan air panas pada konsentrat dapat meningkatkan kualitas pakan dan mempercepat pertumbuhan kelinci. Waktu pemberian pakan yang paling baik adalah pkl 18:00–06:00 WIB. Pemberian air minum secara ad libitum dapat memperlancar proses pencernaan. Melalui penerapan tatalaksana pemberian pakan secara keseluruhan yang meliputi pemilihan jenis bahan pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan penerapan pola pemberian pakan, produktivitas ternak kelinci dapat ditingkatkan guna menunjang agribisnis ternak kelinci yang efisien dan menguntungkan.
- ItemTatalaksana Perkembangbiakan Untuk Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci(Balai Penelitian Ternak, 2005) Wayan Pasek; Dedi Muslih; Rossuartini; Bram BrahmantiyoPengusahaan pertanian dan peternakan (agribisnis) yang berorientasi ekonomis menuntut efektivitas dan efisiensi usaha yang tinggi. Tatalaksana perkembangbiakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas ternak kelinci. Tatalaksana perkembangbiakan meliputi pemilihan bibit, pengaturan perkawinan, pemeriksaan kebuntingan, penanganan menjelang kelahiran, perawatan anak baru lahir, dan penyapihan. Bibit yang baik dan memenuhi syarat antara lain bibit berasal dari keturunan yang memiliki produktivitas tinggi, sehat, tidak cacat, tidak kerdil, memiliki sifat keindukan yang baik dan tidak kanibal. Saat yang tepat untuk mengawinkan ternak kelinci adalah pada umur 5-6 bulan. Cara mengawinkan ternak kelinci dilakukan dengan membawa betina ke kandang pejantan. Kelinci yang tidak mau kawin sendiri dapat dibantu dengan kawin sodor. Untuk melihat efektifitas hasil perkawinan dilakukan pemeriksaan kebuntingan 10-14 hari setelah induk dikawinkan. Kotak beranak disediakan pada hari ke 25-28 setelah perkawinan. Anak baru lahir dijaga dari segala gangguan, anak-anak kelinci yang mati lahir segera dipindahkan dari kotak beranak dan anak-anak yang dikhawatirkan akan mati atau ditinggal mati oleh induknya dapat dititipkan pada induk lain pada umur > 3 hari. Penyapihan dan sexing dilakukan pada saat anak berumur 4-5 minggu dengan bobot hidup 500-800 g. Melalui penerapan tatalaksana perkembangbiakan yang meliputi pemilihan bibit, pengaturan perkawinan, pemeriksaan kebuntingan, penanganan menjelang kelahiran, perawatan anak baru lahir, penyapihan secara tepat, produktivitas ternak kelinci dapat dioptimalkan guna menunjang agribisnis ternak kelinci yang menguntungkan.